Aksi Borong Asing di Saham PTBA, Bagaimana Prospek Bukit Asam ke Depan?
Aksi akumulasi investor asing di saham PTBA kembali mencuri perhatian pasar, dengan masuknya nama-nama besar seperti BlackRock dan WisdomTree. Meski demikian, konsensus analis dan revisi rekomendasi terbaru menunjukkan ruang kenaikan saham Bukit Asam dinilai semakin terbatas.
Aksi beli investor asing pada saham PTBA Bukit Asam
Emitenhub.com - Sejumlah pemodal jumbo berskala global terlihat aktif mengakumulasi saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) saat emiten batu bara tersebut menjadi sasaran beli investor asing pada awal periode perdagangan.
Secara kumulatif, dalam rentang awal Januari, investor asing masih mencatatkan nilai beli bersih atau net buy sekitar Rp25,8 miliar di saham PTBA. Aksi akumulasi ini tetap terjadi meskipun sempat muncul tekanan jual pada satu sesi perdagangan di tengah pergerakan harga yang menguat.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan net buy sebesar Rp4,98 miliar pada perdagangan perdana, seiring pembelian bersih sebanyak 2,15 juta saham. Pada sesi tersebut, harga saham PTBA berada di level Rp2.320 per saham.
Aksi beli investor asing berlanjut pada sesi perdagangan berikutnya dengan mencatatkan net buy sebesar Rp2,82 miliar, yang mendorong harga saham PTBA naik ke level Rp2.340 per saham.
Tren akumulasi semakin menguat pada perdagangan selanjutnya ketika investor asing membukukan net buy signifikan mencapai Rp20,52 miliar, dengan pembelian bersih sebanyak 8,66 juta lembar saham. Seiring dengan derasnya aliran dana masuk, harga saham PTBA kembali menguat ke level Rp2.370 per saham.
Meski demikian, pada sesi berikutnya investor asing sempat berbalik melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp6,19 miliar. Menariknya, tekanan jual tersebut tidak menahan laju harga saham PTBA yang justru melonjak ke level tertinggi dalam periode tersebut di Rp2.420 per saham.
Memasuki dua sesi perdagangan berikutnya, dominasi aksi beli investor asing kembali terlihat. PTBA mencatatkan net buy sebesar Rp1,53 miliar pada sesi pertama, kemudian berlanjut dengan net buy Rp2,13 miliar pada sesi selanjutnya. Pada kedua sesi tersebut, harga saham PTBA relatif stabil di level Rp2.390 per saham.
Mengacu pada data Bloomberg, sejumlah investor global berskala besar, termasuk BlackRock Inc. dan WisdomTree Inc., terpantau melakukan akumulasi saham PTBA pada fase awal periode tersebut.
Investor dengan penambahan kepemilikan terbesar tercatat berasal dari WisdomTree Inc., yang meningkatkan jumlah saham dari 32.486.634 saham menjadi 40.003.334 saham. Dengan demikian, kepemilikan bertambah 7.516.700 saham atau setara sekitar 23,14%.
Dengan penambahan tersebut, perusahaan asal Amerika Serikat itu masih menempati peringkat keenam dalam daftar pemegang saham terbesar Bukit Asam, dengan porsi kepemilikan sekitar 0,35% dari total saham beredar. Adapun cost basis per saham atau rata-rata harga perolehan yang dikeluarkan WisdomTree Inc. untuk emiten tambang pelat merah tersebut berada di level Rp2.032,89.
Di sisi lain, BlackRock Inc. juga tercatat meningkatkan kepemilikan saham PTBA dari 212.047.682 lembar menjadi 214.480.199 lembar. Ini mencerminkan akumulasi tambahan sebanyak 2.432.517 saham atau setara dengan kenaikan sekitar 1,15%.
Secara keseluruhan, porsi saham PTBA yang digenggam BlackRock Inc. telah mencapai 1,86% dari total saham beredar. Dengan kepemilikan tersebut, firma investasi terbesar dunia itu berada di posisi kedua pemegang saham terbesar perseroan, tepat di bawah PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID selaku holding BUMN industri pertambangan yang menguasai 65,93% saham PTBA.
Selain itu, Mirae Asset Financial Group juga tercatat menambah kepemilikan saham PTBA dari 85.794.900 saham menjadi 86.070.300 saham. Dengan demikian, terjadi penambahan sebanyak 275.400 saham atau setara sekitar 0,32%.
Sementara itu, American Century Cos Inc. turut meningkatkan kepemilikan dari 31.535.400 saham menjadi 31.946.200 saham. Artinya, terdapat akumulasi tambahan sebanyak 410.800 saham atau sekitar 1,30%.
Secara agregat, data Bloomberg menunjukkan keempat investor asing tersebut menambah kepemilikan saham PTBA sebanyak 10.635.417 saham. Total kepemilikan meningkat dari 361.864.616 saham menjadi 372.500.033 saham, atau tumbuh sekitar 2,94%.
Prospek Saham Bukit Asam (PTBA)
Berdasarkan data terminal Bloomberg, mayoritas analis masih memandang saham Bukit Asam berada pada zona menarik. Dari total 27 sekuritas yang tercatat, sebanyak 11 atau sekitar 40,7% memberikan rekomendasi beli terhadap saham PTBA.
Sementara itu, sebanyak 10 sekuritas atau 37,0% menyematkan rekomendasi hold, sedangkan enam sekuritas lainnya merekomendasikan jual. Komposisi tersebut mencerminkan pandangan analis yang relatif berimbang terhadap pergerakan saham perseroan.
Adapun target harga saham PTBA 12 bulan ke depan berdasarkan konsensus analis Bloomberg berada di level Rp2.195,63. Target tersebut mencerminkan potensi pergerakan sekitar 8,1% di bawah harga saham PTBA yang berada di level Rp2.390.
Sinarmas Sekuritas menjadi lembaga terbaru yang menyesuaikan pandangan terhadap saham PTBA dengan menurunkan rekomendasi sekaligus target harga.
Dalam laporan analisnya, Sinarmas Sekuritas merevisi peringkat PTBA dari ADD menjadi NEUTRAL, dengan target harga diturunkan dari Rp3.000 menjadi Rp2.500. Penyesuaian ini mencerminkan perubahan asumsi fundamental yang digunakan dalam penilaian sebelumnya.
Analis menilai rekomendasi terdahulu didasarkan pada ekspektasi kemajuan mekanisme Mitra Instansi Pengelola (MIP) yang diproyeksikan menjadi katalis utama bagi kinerja PTBA. Namun, dengan dibatalkannya implementasi skema tersebut, asumsi tersebut tidak lagi relevan.
Selain itu, meskipun PTBA dikenal memiliki profil dividen yang kuat, analis mengantisipasi ruang kenaikan harga saham yang lebih terbatas. Tekanan struktural yang berkelanjutan pada margin dan volume penjualan dinilai masih menjadi faktor pembatas terhadap prospek kinerja perseroan.
Sinarmas Sekuritas mencatat kinerja laba perseroan mengalami penurunan tajam sebesar 57% secara tahunan, dipicu oleh melemahnya harga jual rata-rata (ASP) serta meningkatnya struktur biaya. Di sisi operasional, manajemen PTBA memang menargetkan peningkatan volume transportasi melalui jalur kereta api Tanjung Enim–Keramasan, namun analis menilai realisasi strategi tersebut masih menyimpan risiko eksekusi yang signifikan.
Di tengah penerapan mandat B50, tekanan inflasi, serta porsi penjualan yang lebih besar ke pasar domestik dengan margin lebih rendah, Sinarmas Sekuritas melihat ruang peningkatan peringkat saham Bukit Asam relatif terbatas.
Meski demikian, analis membuka peluang perubahan pandangan apabila terjadi koreksi harga saham yang cukup dalam atau terdapat kemajuan nyata dalam efisiensi biaya yang ditopang oleh optimalisasi jalur kereta api.


