Pendorong Baru INCO: Monetisasi Bijih Nikel Buka Ruang Lonjakan Laba dan Rerating Saham
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) memasuki fase pertumbuhan baru melalui monetisasi bijih nikel yang berpotensi mengubah struktur pendapatan perseroan. Dukungan harga nikel dan pengetatan pasokan domestik membuka peluang peningkatan laba dan rerating saham, meski risiko regulasi tetap perlu dicermati.
Pendorong saham INCO melalui monetisasi bijih nikel dan prospek pertumbuhan laba Vale Indonesia (Foto: Dok. Vale Indonesia)
Emitenhub.com - Serangkaian pendorong dianggap memiliki potensi untuk menjadi pendorong pertumbuhan baru bagi kinerja keuangan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), sejalan dengan fluktuasi harga nikel yang kembali menarik minat pelaku pasar.
Salah satu katalis yang paling disorot adalah langkah perseroan dalam memonetisasi bijih nikel. Strategi ini diperkirakan membuka sumber pendapatan baru dan mempercepat pertumbuhan kinerja keuangan di tengah kenaikan harga nikel global.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey Eko Nugroho, menilai INCO semakin memantapkan rencana monetisasi bijih nikel dengan target produksi hingga 20 juta wet metric ton (wmt) pada 2026. Target tersebut meningkat signifikan dibandingkan rencana produksi 2025 yang dipatok sebesar 2,5 juta wmt.
Rincian target produksi tersebut mencakup sekitar 15 juta wmt bijih limonit dan saprolit yang berasal dari tambang Pomalaa, serta tambahan 5 juta wmt bijih saprolit dari tambang Bahodopi.
Andhika menuturkan peningkatan volume tersebut didorong oleh dimulainya aktivitas penambangan di Pomalaa, yang berpotensi memperkuat peran bijih nikel sebagai sumber pendapatan baru bagi perseroan.
Ia memperkirakan kontribusi monetisasi bijih nikel dapat mencapai sekitar 33% dari total pendapatan INCO pada 2026, sekaligus membuka ruang ekspansi margin seiring bertambahnya skala produksi.
Dari sisi eksternal, kondisi makro industri nikel domestik dinilai turut mendukung prospek kinerja perseroan. BRI Danareksa Sekuritas menaikkan asumsi harga nikel untuk periode 2026–2027 ke kisaran US$17.000–US$17.500 per ton, lebih tinggi dibandingkan asumsi sebelumnya di rentang US$16.000–US$16.500 per ton.
Penyesuaian asumsi harga tersebut didorong oleh potensi pemangkasan produksi nikel nasional hingga sekitar 34% menjadi kurang lebih 250 juta ton, dibandingkan dengan kuota sekitar 379 juta ton yang tercantum dalam RKAB 2025.
Pemangkasan produksi tersebut berpotensi menggeser neraca pasar nikel olahan dari kondisi surplus menjadi defisit sekitar 705.000 ton. Sebelumnya, tanpa skenario pengurangan produksi, pasar diproyeksikan masih mencatat surplus sekitar 107.000 ton.
Dalam kerangka asumsi tersebut, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) nikel matte INCO diperkirakan bertahan di kisaran US$13.700–US$13.800 per ton. Sementara itu, harga bijih nikel diproyeksikan berada pada rentang US$36–US$38 per ton.
Di tengah ketidakpastian terkait persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), BRI Danareksa Sekuritas menerapkan asumsi volume penjualan bijih yang lebih konservatif. Volume penjualan bijih INCO diperkirakan berada di level 14,5 juta wet metric ton (wmt) untuk periode 2026 dan 2027.
Analisis Terkini dan Rekomendasi Saham INCO
Berdasarkan analisis tersebut, laba bersih INCO diproyeksikan tumbuh masing-masing sebesar 105% pada 2025 dan 112% pada 2026 secara tahunan (year on year/YoY).
Andhika menilai peningkatan kontribusi penjualan bijih nikel berperan penting dalam menyeimbangkan pendapatan nikel matte yang cenderung stagnan, terutama akibat jadwal pemeliharaan tungku (furnace maintenance).
Sejalan dengan prospek pendapatan yang dinilai semakin solid, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga saham yang dinaikkan menjadi Rp6.800 per saham, dari sebelumnya Rp4.700.
Target harga tersebut merefleksikan valuasi price to earnings ratio (PER) sebesar 13,1 kali berdasarkan proyeksi 2027, masih berada di bawah rerata historis INCO di level 23,9 kali.
Kondisi tersebut mengindikasikan masih terbukanya ruang rerating harga saham seiring dengan peningkatan skala laba dan perbaikan profil pertumbuhan perseroan.
Sejumlah katalis utama yang perlu dicermati meliputi persetujuan dan eksekusi RKAB 2026, percepatan penjualan bijih dari Pomalaa dan Bahodopi, serta kemampuan harga nikel untuk tetap bertahan di tengah pengetatan pasokan domestik.
Di sisi lain, Andhika mengingatkan investor agar tetap mencermati sejumlah risiko, terutama potensi keterlambatan persetujuan regulasi serta kemungkinan gangguan operasional yang dapat memengaruhi realisasi kinerja.
Berdasarkan konsensus analis, sebanyak 24 dari 29 analis memberikan rekomendasi beli untuk saham INCO dengan target harga rata-rata di level Rp5.597 per saham. Target harga tertinggi tercatat mencapai Rp8.800, sementara target terendah berada di kisaran Rp4.400.


