Market

Harga Nikel Rebound, Saham Emiten Nikel Melonjak Tajam di BEI

Saham emiten pertambangan nikel melonjak pada perdagangan Selasa seiring rebound harga nikel ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Kenaikan harga dipicu rencana pemangkasan produksi nikel Indonesia pada 2026 untuk menekan kelebihan pasokan global.

2 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Pergerakan saham emiten nikel seiring kenaikan harga nikel global

Reli saham logam dan pergerakan harga nikel dunia (Foto: Harita Nickel)

Emitenhub - Saham emiten pertambangan dan perdagangan nikel menguat tajam pada Selasa (23/12/2025), seiring rebound harga komoditas acuannya ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Kenaikan harga tersebut dipicu sinyal pemangkasan produksi dari Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 11.37 WIB, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melonjak 15,43 persen ke level Rp5.125 per saham. Nilai transaksi saham INCO tercatat mencapai Rp363,14 miliar.

Di bawah INCO, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menguat 5,63 persen ke level Rp1.125 per saham. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 3,70 persen menjadi Rp560 per saham, sementara PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) bertambah 2,84 persen ke Rp725 per saham.

Saham emiten nikel lainnya juga mencatatkan penguatan, di antaranya PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA) yang naik 2,91 persen, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) melonjak 284 persen, serta PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang menguat 4,41 persen.

Kontrak berjangka (futures) nikel menguat ke kisaran USD15.000 per ton pada perdagangan Senin (22/12/2025), menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu bulan, setelah pada pekan sebelumnya sempat menyentuh posisi terendah dalam lebih dari delapan bulan.

Penguatan harga tersebut didorong sinyal dari Indonesia yang berencana melakukan pemangkasan produksi secara signifikan pada 2026.

Mengutip Trading Economics, dalam rencana kerja pemerintah target produksi nikel ditetapkan sebesar 250 juta ton, turun dari sekitar 379 juta ton pada 2025. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menekan kelebihan pasokan yang selama ini menekan harga dan membebani pasar global.

Pemangkasan produksi ini dilakukan di tengah perkiraan surplus global sebesar 209 juta ton pada 2025, yang diproyeksikan melebar menjadi 261 juta ton pada tahun berikutnya. Indonesia menyumbang sekitar 65 persen dari total kelebihan pasokan tersebut.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga berencana merevisi formula harga acuan bijih nikel, termasuk opsi pemisahan produk sampingan seperti kobalt serta penerapan royalti. Kebijakan tersebut berpotensi semakin memperketat pasokan nikel di pasar.

Analis menilai pembatasan produksi ini dapat menopang harga, terutama ketika harga nikel masih berada di kisaran biaya produksi di sejumlah wilayah pertambangan utama.

Iklan