Saham Logam Meledak Kompak, Reli Nikel Berlanjut atau Waspada Koreksi?
Saham emiten logam mencatat reli kuat seiring lonjakan harga nikel dan sentimen pengetatan pasokan global. Meski terjadi koreksi jangka pendek, prospek sektor logam masih dipengaruhi dinamika pasokan Indonesia dan arus modal global.
Reli saham logam dan pergerakan harga nikel dunia (Foto: Harita Nickel)
Emitenhub.com - Reli saham emiten logam kembali berlanjut, ditopang sentimen positif dari prospek harga komoditas serta ekspektasi pengetatan pasokan global. Saham-saham berbasis nikel hingga aluminium bergerak menguat secara serempak, mencerminkan meningkatnya minat pasar terhadap sektor logam.
Mengacu pada data perdagangan, saham emiten nikel dan timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) memimpin penguatan dengan lonjakan 24,24% ke level Rp492 per saham. Dengan kenaikan tersebut, saham NIKL telah mencatatkan penguatan sebesar 42,77% dalam satu pekan terakhir.
Di posisi berikutnya, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) turut mencatatkan penguatan signifikan dengan kenaikan 13,78% ke level Rp6.400 per saham.
Penguatan juga terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang naik 12,46% ke Rp3.890 per saham, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) yang menguat 11,15% ke level Rp1.445 per saham.
Penguatan turut terjadi pada saham PT Timah Tbk. (TINS) yang mencatatkan kenaikan sebesar 8,08%.
Kinerja positif juga terlihat pada saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang menguat 7,58%. Selanjutnya, saham PT Central Omega Resources Tbk. (DKFT) naik 7,29%, disusul PT Adhi Kartiko Pratama Tbk. (NICE) yang mencatatkan penguatan 7,24%, seiring solidnya sentimen terhadap sektor logam secara keseluruhan.
Sementara itu, saham PT Harum Energy Tbk. (HRUM) mencatatkan kenaikan sebesar 6,49%. Penguatan paling terbatas terlihat pada saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) yang terapresiasi 1,85%.
Saham emiten tambang tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) juga bergerak menguat dengan kenaikan 4,52% ke level Rp8.100 per saham. Adapun saham emiten pemilik smelter aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 3,88% ke posisi Rp1.875 per saham.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai prospek saham nikel masih didukung oleh sentimen struktural. Salah satu faktor pendorongnya adalah rencana Indonesia sebagai produsen utama dunia untuk menyesuaikan pasokan guna menopang pergerakan harga komoditas nikel ke depan.
Michael menilai kebijakan penyesuaian pasokan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor nikel. Ia mencatat harga nikel di pasar global telah mencatatkan kenaikan dua digit secara year to date, mencerminkan membaiknya sentimen terhadap komoditas tersebut.
Menurutnya, keberlanjutan tren kenaikan harga nikel akan berdampak langsung pada kinerja keuangan emiten, terutama bagi perusahaan dengan eksposur produksi dan margin yang sensitif terhadap pergerakan harga komoditas.
Dalam pandangannya, terdapat sejumlah saham logam yang layak dicermati. Michael menyoroti INCO, AMMN, MBMA, dan NCKL sebagai emiten yang dinilai memiliki potensi pembalikan arah seiring membaiknya sentimen sektor logam.
Di sisi lain, harga nikel sempat mengalami koreksi dari level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir. Koreksi tersebut terjadi setelah reli kuat logam dasar mulai mereda, meskipun tren jangka menengah sektor ini masih dipengaruhi oleh dinamika pasokan global dan prospek permintaan.
Kontrak berjangka nikel tiga bulan melemah pada awal perdagangan setelah sebelumnya sempat melonjak tajam. Harga sempat menguat hingga 10,5% mendekati USD18.800 per ton, mencerminkan volatilitas yang tinggi di pasar logam.
Lonjakan intraday tersebut menjadi yang terbesar sejak akhir 2022. Penguatan harga ditopang oleh meningkatnya risiko terhadap produksi di Indonesia sebagai pemasok utama dunia, serta derasnya aliran investasi ke pasar logam domestik China.
Mengacu pada laporan Bloomberg, Indonesia telah memberikan sinyal rencana penurunan produksi nikel guna menyeimbangkan pasokan dan permintaan global. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memperketat pasokan dalam jangka menengah.
Selain itu, pemerintah juga bersiap menerapkan sanksi denda yang lebih berat bagi perusahaan tambang yang melanggar izin kehutanan. Langkah ini berpotensi menekan keberlangsungan sejumlah pelaku usaha dan berisiko mengganggu volume produksi nikel nasional.
Pasar logam dasar mencatat awal yang solid, tercermin dari penguatan Indeks LMEX yang melacak pergerakan enam logam utama di London hingga menyentuh level tertinggi sejak 2022. Capaian ini menandai kembalinya minat pasar terhadap sektor logam setelah periode tekanan sebelumnya.
Selain reli nikel, harga tembaga sempat mencetak rekor pada awal pekan di tengah kekhawatiran potensi kebijakan tarif impor oleh Amerika Serikat. Pada saat yang sama, harga aluminium juga menguat hingga mencapai level tertinggi sejak April 2022, memperkuat sentimen positif di sektor logam dasar.
Meski demikian, harga nikel kemudian mengalami koreksi. Di London Metal Exchange (LME), nikel tercatat turun 1,2% ke level USD18.295 per ton. Pelemahan juga terlihat pada harga tembaga, aluminium, seng, dan timbal, seiring aksi ambil untung setelah reli tajam.
Analis Mysteel Global, Fan Jianyuan, menilai penurunan harga nikel mencerminkan realisasi keuntungan jangka pendek, yang sebagian besar dipicu oleh derasnya arus masuk modal finansial. Secara fundamental, Fan menilai pasar nikel masih berada dalam kondisi surplus, meski sentimen jangka pendek tetap dipengaruhi dinamika pasokan dan arus investasi.


