Saham

Free Float Saham Konglomerat Jadi Sorotan, IHSG Tertekan Usai MSCI Freeze

Gejolak IHSG kembali menyoroti rendahnya free float saham emiten konglomerat di Indonesia. Isu ini mencuat setelah MSCI membekukan rebalancing indeks dan memicu tekanan pasar serta aksi jual asing.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Pergerakan IHSG dan saham konglomerat di Bursa Efek Indonesia

perbandingan harga pelaksanaan right issue dan harga pasar saham

Emitenhub.com - Gejolak pasar saham domestik dalam sepekan terakhir kembali menyoroti persoalan rendahnya porsi saham yang beredar di publik atau free float, termasuk pada sejumlah emiten yang berada di bawah kendali kelompok konglomerat besar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami tekanan tajam pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026), hingga memicu penerapan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit di Bursa Efek Indonesia.

Tekanan pasar tersebut mencuat setelah pengelola indeks global MSCI menyatakan akan menunda sejumlah penyesuaian indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan persoalan kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.

Dalam penilaiannya, MSCI menyoroti adanya isu mendasar dari sisi investability atau kelayakan investasi, dengan tingkat free float saham menjadi perhatian utama dalam menilai aksesibilitas pasar Indonesia bagi investor global.

Rendahnya porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan dinilai membatasi likuiditas pasar dan pada saat yang sama meningkatkan tingkat volatilitas pergerakan harga.

Data pasar menunjukkan, saham-saham milik kelompok konglomerat yang belakangan menjadi penopang utama kapitalisasi bursa umumnya memiliki tingkat free float di bawah ambang 15 persen.

Kisaran free float saham-saham tersebut berada pada rentang sekitar 7,5 persen hingga 14,93 persen.

Berdasarkan penelusuran Tim Riset IDXChannel, setidaknya terdapat 47 emiten yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi dan tercatat memiliki porsi free float di bawah 15 persen.

Free float tertinggi dalam kelompok ini tercatat pada PT Surya Citra Media Tbk milik Grup Emtek sebesar 14,93 persen. Sementara itu, porsi terendah berada di kisaran 7,5 persen, antara lain pada PT HM Sampoerna Tbk, PT J Resources Asia Pasifik Tbk, dan PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk.

Deretan emiten dengan free float tipis tersebut tersebar di berbagai kelompok usaha besar yang menjadi kontributor signifikan terhadap kapitalisasi pasar domestik.

Grup Lippo tercatat sebagai salah satu yang paling dominan, dengan sejumlah emiten seperti PT Multipolar Technology Tbk, PT Lippo Cikarang Tbk, PT Siloam International Hospitals Tbk, PT Bank Nationalnobu Tbk, dan PT Lippo General Insurance Tbk, yang seluruhnya memiliki porsi free float di bawah 10 persen.

Kelompok Salim juga menempatkan sejumlah emiten dalam kategori serupa, antara lain PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, PT DCI Indonesia Tbk, PT Indomobil Multi Jasa Tbk, serta PT Nippon Indosari Corpindo Tbk, yang masing-masing tercatat memiliki free float saham terbatas.

Sementara itu, Grup Sinarmas tercatat memiliki sejumlah emiten dengan porsi free float satu digit di kisaran 7–9 persen, antara lain PT Golden Energy Mines Tbk, PT Duta Pertiwi Tbk, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk, serta PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk.

Kelompok usaha Barito milik Prajogo Pangestu juga tercatat memiliki sejumlah saham dengan free float rendah, di antaranya PT Barito Renewables Energy Tbk, PT Chandra Asri Pacific Tbk, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk. Selain itu, Grup Djarum, Panin, Haji Isam, hingga Bakrie masing-masing tercatat memiliki lebih dari satu emiten dengan porsi kepemilikan publik yang terbatas. Sorotan terhadap struktur kepemilikan ini menguat seiring derasnya aksi jual investor asing di pasar domestik.

Sepanjang sepekan terakhir, saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual investor asing, terutama emiten perbankan jumbo dan saham tambang yang berada di bawah kendali kelompok konglomerasi, seiring meningkatnya sensitivitas pasar.

PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan net sell asing terbesar dengan nilai sekitar Rp8,12 triliun dalam sepekan. Tekanan berikutnya dialami PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang dibukukan net sell asing sekitar Rp2,72 triliun.

Aksi jual juga merembet ke sektor pertambangan. Saham PT Bumi Resources Tbk milik Grup Bakrie dilepas investor asing sekitar Rp1,49 triliun dan tercatat turun lebih dari 28 persen sepanjang sepekan terakhir.

Saham PT Bumi Resources Tbk bersama PT Petrosea Tbk sebelumnya disebut berpeluang masuk dalam indeks MSCI pada Februari. Namun, rencana tersebut tertahan setelah MSCI membekukan proses rebalancing menyusul isu free float dan transparansi struktur kepemilikan saham di pasar domestik.

Menanggapi perkembangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) menyiapkan langkah penataan untuk merespons masukan dari penyedia indeks global.

OJK menyampaikan bahwa SRO telah mempublikasikan serta menyerahkan data kepemilikan saham emiten yang lebih rinci kepada MSCI. Proses penyesuaian disebut akan terus berjalan seiring evaluasi lanjutan hingga data tersebut dapat diterima sepenuhnya sesuai dengan praktik internasional.

Sejalan dengan langkah tersebut, SRO juga tengah menyiapkan ketentuan free float minimum sebesar 15 persen yang direncanakan berlaku bagi emiten baru yang akan melantai melalui IPO maupun emiten yang telah tercatat di bursa.

Bagi perusahaan yang tidak mampu memenuhi ketentuan tersebut, regulator menyiapkan mekanisme exit policy sebagai bagian dari upaya membentuk pasar yang dinilai lebih sehat dan berkelanjutan.

Di tengah tekanan pasar dan proses transisi kebijakan, pelaku pasar kini menantikan kepastian arah langkah regulator dalam menuntaskan persoalan free float serta ketentuan lain yang menjadi sorotan MSCI. Kepastian tersebut dipandang krusial untuk menjaga kredibilitas pasar modal nasional sekaligus mempertahankan posisi Indonesia dalam indeks global.

Iklan