Saham

Saham FILM Meroket 201% YTD, Berpeluang Masuk MSCI Global Standard Index

Saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2025 dan berpeluang masuk MSCI Global Standard Index kategori big cap. Kinerja harga yang kuat didukung peningkatan likuiditas, akumulasi investor asing, serta prospek fundamental jangka panjang.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Pergerakan saham FILM MD Entertainment dan peluang masuk indeks MSCI

Pergerakan saham FILM MD Entertainment dan peluang masuk indeks MSCI

Emitenhub - Saham PT MD Entertainment Tbk (FILM), emiten yang didirikan Manoj Punjabi dan Dhamoo Punjabi, mencuat sebagai salah satu saham dengan kinerja paling agresif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham FILM bahkan berpeluang masuk dalam MSCI Global Standard Index kategori big cap.

Berdasarkan data BEI yang diakses pada Minggu (14/12/2025), saham FILM melonjak 92,9% dalam sebulan terakhir ke level Rp11.000. Dengan capaian tersebut, saham ini tercatat melesat 175% dalam tiga bulan terakhir dan menguat 201,3% secara year to date (ytd).

“Kinerja tersebut menempatkan FILM sebagai saham dengan performa terbaik di indeks MSCI Indonesia Small Cap selama 30 hari perdagangan terakhir,” tulis analis Samuel Sekuritas Indonesia, Fadhlan Banny, dalam risetnya yang dikutip Minggu (14/12/2025).

Reli saham FILM tidak hanya ditopang oleh kuatnya permintaan investor domestik, tetapi juga oleh akumulasi agresif dari investor asing. Kondisi ini mencerminkan tingginya minat investor institusi terhadap saham emiten konten terkemuka di Indonesia tersebut.

Fadhlan menilai lonjakan harga saham FILM tidak semata dipicu sentimen jangka pendek. Menurutnya, penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya kelayakan saham FILM untuk masuk MSCI Global Standard Index kategori big cap, seiring tercapainya sejumlah metrik utama MSCI.

Rata-rata nilai transaksi harian atau average daily trading value (ADTV) saham FILM dalam enam bulan terakhir tercatat sebesar US$3,1 juta per hari. Angka tersebut telah melampaui ambang batas minimum MSCI Big Cap sebesar US$2,5 juta per hari.

Sementara itu, ADTV saham FILM dalam periode 12 bulan tercatat sebesar US$2,2 juta per hari atau setara Rp36,8 miliar. Nilai tersebut sedikit di bawah ambang batas MSCI Big Cap sebesar US$2,5 juta per hari atau sekitar Rp41,3 miliar.

Selain dari sisi likuiditas, rasio perputaran saham tahunan atau annual traded value ratio (ATVR) 12 bulan saham FILM juga meningkat menjadi 11,3%. Capaian ini semakin mendekati ambang batas kategori big cap yang berada di level 15%.

“Berdasarkan perhitungan kami, harga saham FILM perlu mencapai Rp13.300 untuk memenuhi parameter indeks MSCI Global Standard, dengan asumsi free float sebesar 32% dan kapitalisasi pasar yang disesuaikan free float senilai US$2,85 miliar atau sekitar Rp48 triliun,” ungkap Fadhlan.

Apabila saham FILM berhasil masuk ke dalam indeks MSCI Global Standard, terdapat potensi aliran dana pasif dari investor asing sebesar US$180–300 juta atau sekitar Rp3–5 triliun. Arus dana tersebut dinilai dapat menjadi katalis lanjutan bagi pergerakan harga saham FILM.

Samuel Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi speculative buy untuk saham PT MD Entertainment Tbk (FILM). Saham FILM dibekali target harga baru yang lebih tinggi, yakni Rp13.500.

Dengan target tersebut, saham FILM masih memiliki potensi kenaikan sekitar 22,7%. Namun, hingga berita ini ditayangkan, perdagangan saham FILM masih berada dalam status penghentian sementara (suspensi) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Dalam jangka pendek, kami memperkirakan momentum harga saham FILM tetap kuat, didukung oleh peluang masuknya FILM ke MSCI Global Standard Index kategori big cap,” sebut Fadhlan.

Dari sisi fundamental, prospek pertumbuhan laba FILM dalam jangka panjang ditopang sejumlah katalis utama. Di antaranya realisasi sinergi dengan SBS sebagai pemegang saham dengan porsi 3,8%, pemulihan laba bisnis penyiaran MDTV, serta peluncuran MD Now sebagai platform OTT milik MD Entertainment.

Adapun risiko utama yang perlu dicermati meliputi potensi pemulihan kinerja MDTV yang lebih lambat dari perkiraan, serta kemungkinan penundaan masuknya saham FILM ke MSCI Global Standard Index kategori big cap.

Iklan