Market

MSCI Soroti Free Float, IHSG Terkoreksi Tajam, DBS Tetap Overweight Saham Indonesia

Morgan Stanley Capital International menyoroti isu free float dan transparansi kepemilikan saham yang memicu koreksi tajam IHSG. Meski risiko penurunan status pasar dibahas, DBS Bank menilai fundamental Indonesia tetap solid dan mempertahankan rekomendasi overweight.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Koreksi IHSG usai sorotan MSCI terhadap free float saham Indonesia

Koreksi IHSG usai sorotan MSCI terhadap free float saham Indonesia

Emitenhub.com - Tekanan koreksi kembali mengguncang pasar saham domestik dalam beberapa hari terakhir, seiring respons investor terhadap penilaian terbaru penyedia indeks global MSCI yang menyoroti isu free float dan transparansi kepemilikan saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah lebih dari 8 persen secara intraday pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026), hingga memicu penerapan penghentian sementara perdagangan atau trading halt.

Tekanan pasar muncul setelah MSCI menyoroti praktik perdagangan dan struktur kepemilikan emiten di Indonesia, sekaligus mengangkat isu perlunya perbaikan tata kelola pasar modal.

Di tengah kondisi tersebut, otoritas pasar modal disebut tengah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk merespons evaluasi MSCI dan menangani berbagai persoalan yang disorot.

Koreksi pasar berlanjut pada awal pekan, dengan indeks acuan ditutup melemah 4,88 persen ke level 7.922,73 pada perdagangan Senin (2/2).

Chief Investment Officer DBS Bank, Joanne Goh, dalam risetnya pada 30 Januari 2026 menilai tekanan yang terjadi lebih dipicu oleh kebingungan pelaku pasar, bukan oleh pelemahan fundamental ekonomi maupun kinerja emiten.

Saat ini, MSCI masih memberlakukan pembekuan sementara terhadap sejumlah perubahan indeks, sembari menetapkan tenggat hingga Mei 2026 bagi otoritas dan pelaku pasar Indonesia untuk menuntaskan reformasi yang diminta.

Tanpa langkah mitigasi yang memadai, Indonesia berpotensi menghadapi penurunan bobot dalam indeks pasar negara berkembang atau emerging market, bahkan terbuka risiko penurunan status menjadi pasar frontier.

Menurut Joanne, risiko tersebut menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek, meski tidak mencerminkan pelemahan fundamental pasar saham Indonesia.

Dalam kajiannya, DBS mencatat pasar saham Indonesia diproyeksikan membukukan pertumbuhan laba paling kuat di kawasan ASEAN pada 2026, didukung faktor domestik yang solid, valuasi yang relatif menarik, serta imbal hasil dividen yang masih terjaga.

Ketidakpastian terkait status pasar dinilai masih membayangi pergerakan saham domestik dalam waktu dekat, sehingga tekanan volatilitas belum sepenuhnya mereda.

Menurut Joanne, rencana penyedia indeks untuk meninjau ulang klasifikasi free float yang telah diumumkan sejak tahun lalu turut menahan arus masuk dana asing. Kondisi tersebut tercermin dari rendahnya porsi kepemilikan investor asing setelah aksi keluar dana yang berlangsung cukup konsisten sepanjang 2025.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah faktor penopang mulai terlihat. Bank terbesar di Indonesia telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai mencapai Rp5 triliun.

Sejumlah kelompok konglomerasi besar juga tercatat memiliki mandat buyback yang berpotensi diaktifkan apabila volatilitas pasar berlanjut, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons dengan menetapkan ketentuan free float minimum sebesar 15 persen bagi perusahaan terbuka.

Terkait risiko penurunan status pasar, DBS mengingatkan bahwa preseden reklasifikasi dari emerging market ke frontier market memang pernah terjadi di sejumlah negara, umumnya dipicu kegagalan memenuhi kriteria ukuran pasar, likuiditas, atau aksesibilitas bagi investor asing.

Namun demikian, DBS menilai skenario tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental Indonesia saat ini.

Indonesia telah menyandang status pasar negara berkembang sejak indeks emerging market diluncurkan pada 2001. Dari sisi ekonomi, DBS menilai Indonesia tidak berada dalam kondisi krisis.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi tercatat stabil di kisaran 5 persen. Pasca krisis Asia 1997, Indonesia juga telah menjalankan berbagai reformasi struktural, termasuk pembenahan subsidi energi dan penguatan pasar obligasi.

“Secara fundamental, pandangan kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar,” tulis DBS.

Bahkan dalam skenario terburuk apabila Indonesia direklasifikasi menjadi pasar frontier, DBS menilai posisi Indonesia tetap akan dominan sebagai pasar terbesar di kelompok tersebut, dengan ukuran yang mendekati setengah dari total kapitalisasi seluruh pasar frontier global.

DBS juga mencatat bahwa salah satu bank terbesar di Indonesia masuk dalam jajaran 10 bank terbesar di Asia di luar Jepang berdasarkan kapitalisasi pasar, mencerminkan skala dan kedalaman pasar keuangan domestik.

Daya tarik pasar saham Indonesia, menurut DBS, bertumpu pada valuasi yang masih relatif murah, potensi jangka panjang dari bonus demografi, serta posisi Indonesia sebagai penerima manfaat pada fase “sweet spot” siklus komoditas global.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, DBS mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham Indonesia, dengan strategi memanfaatkan koreksi harga guna mengakumulasi saham-saham unggulan berkapitalisasi besar pada level valuasi yang lebih menarik.

Saat ini, rasio price to earnings (P/E) Indeks Harga Saham Gabungan maupun LQ45 tercatat masih berada di bawah rata-rata historisnya.

Menurut DBS, sambil menunggu ketidakpastian mereda dan minat fund aktif global kembali mengarah ke Indonesia, investor dinilai tetap perlu mempertahankan alokasi investasi di pasar saham domestik.

Iklan