Saham

Buy Back Saham TPIA Rp2 Triliun, Manajemen Dorong Stabilisasi Harga

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan program pembelian kembali saham dengan anggaran hingga Rp2 triliun yang bersumber dari kas internal. Aksi ini dilakukan di tengah tekanan harga saham dan ditujukan untuk menjaga stabilitas serta meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Buy back saham TPIA senilai Rp2 triliun

TPIA EBITDA rekor USD421 juta Q1 2026 laba bersih USD205 juta Chandra Asri Pacific (Foto:TPIA)

Emitenhub.com - Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bergerak menguat menyusul pengumuman rencana pembelian kembali saham dengan anggaran hingga Rp2 triliun. Kebijakan ini diambil setelah harga saham emiten petrokimia tersebut mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir.

Manajemen TPIA dalam pengumuman resmi di Bursa Efek Indonesia menyampaikan dana buy back bersumber dari kas internal perseroan. Dengan alokasi Rp2 triliun tersebut, perusahaan menargetkan pembelian kembali sebanyak 0,29% saham beredar.

Program pembelian kembali saham TPIA dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mulai 4 Februari hingga 3 Mei 2026. Emiten yang berada di bawah kendali Prajogo Pangestu ini menunjuk Henan Putihrai Sekuritas sebagai perantara pelaksana aksi korporasi tersebut.

Manajemen Chandra Asri Pacific menjelaskan buy back saham dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Langkah ini juga diarahkan untuk menyesuaikan kinerja saham dengan kondisi fundamental perseroan, menjaga stabilitas harga, serta mempertahankan kepercayaan publik.

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, saham TPIA tercatat melemah lebih dari 6% ke level Rp6.625 dalam sebulan terakhir. Sementara secara tahunan, penurunan harga saham telah melampaui 22%.

Sebelumnya, Aster Chemicals and Energy Pte Ltd, perusahaan patungan milik Prajogo Pangestu dan Chandra Asri, mengumumkan investasi rejuvenasi senilai US$155 juta di fasilitas pengilangan Bukom sebagai bagian dari penguatan ketahanan pasokan energi.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan pemrosesan minyak mentah sekaligus meningkatkan keandalan operasional fasilitas. Upaya ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menegaskan peran Singapura sebagai pusat kilang dan petrokimia di kawasan.

Salah satu fokus proyek adalah revitalisasi Condensate Splitter Unit (CSU) senilai US$75 juta yang akan mendorong kapasitas pemrosesan crude di Bukom melampaui 300.000 barel per hari. Selain itu, Lube Oil Complex (LOC) diremajakan melalui investasi US$71 juta agar residu kilang dapat ditingkatkan secara aman dan andal, sehingga memungkinkan produksi base oil bernilai lebih tinggi untuk kebutuhan industri pelumas, kelautan, dan otomotif.

Iklan