Saham

Bakrie Capital Borong 6% Saham BIPI Senilai Rp948 Miliar, Ini Kondisi Keuangannya

Bakrie Capital Indonesia membeli 6% saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dengan nilai transaksi Rp948 miliar. Aksi investasi ini terjadi di tengah tekanan kinerja keuangan BIPI pada semester I 2025, saat perseroan membukukan rugi bersih dan penurunan pendapatan signifikan.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Bakrie Capital Indonesia membeli saham BIPI melalui BEI

BIPI Divestasi Anak Usaha Tambang Batu Bara untuk Percepatan Transformasi ke Energi Baru Terbarukan (Foto:BIPI)

Emitenhub.com - Bakrie Capital Indonesia tercatat melakukan pembelian sebanyak 3.822.619.800 lembar atau setara 6% saham perusahaan infrastruktur energi terintegrasi tersebut. Transaksi pembelian dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 24 Februari 2026.

Berdasarkan laporan perubahan kepemilikan saham yang disampaikan kepada BEI pada Rabu, 25 Februari 2026, aksi pembelian saham tersebut dilakukan Bakrie Capital Indonesia untuk kepentingan investasi.

Dalam transaksi tersebut, Bakrie Capital Indonesia membeli saham BIPI pada harga Rp248 per lembar dengan total nilai mencapai Rp948 miliar. Setelah transaksi rampung, Bakrie Capital Indonesia menguasai 3.822.619.800 saham atau 6% kepemilikan BIPI dari posisi sebelumnya nihil.

Dari sisi kinerja keuangan, kondisi BIPI tercatat mengalami tekanan hingga enam bulan pertama 2025. Perseroan membukukan rugi bersih sebesar US$9,9 juta pada semester I 2025, berbalik dari laba bersih US$7,98 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring pendapatan bersih yang turun 47,4% menjadi US$144,83 juta dari US$275,38 juta.

PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dikenal sebagai perusahaan infrastruktur energi terintegrasi di Indonesia yang berdiri pada 2007 dengan nama awal PT Macau Oil Engineering and Technology di Jakarta.

Dalam perjalanannya, perseroan beberapa kali melakukan perubahan nama hingga akhirnya menggunakan identitas Astrindo Nusantara Infrastruktur pada 2018. Sejak saat itu, fokus bisnis dialihkan dari eksploitasi sumber daya alam menuju pengembangan infrastruktur melalui entitas anak perseroan.

Iklan