Saham BUMI Tertekan Aksi Jual, Namun Masih Bullish? Ini Analisis dan Sentimen Terbarunya
Saham BUMI melemah ke Rp238 akibat tekanan jual dari investor asing dan broker besar, meski secara tren masih mencatat kenaikan 70% dalam sebulan. Kiwoom Sekuritas memberi rekomendasi strong sell, sementara BRI Danareksa menilai BUMI tetap bullish selama bertahan di support 230–240. Emiten ini juga menyiapkan akuisisi tambang mineral baru pada 2026 sebagai strategi diversifikasi.
Pergerakan saham BUMI dan peluang masuk MSCI Indonesia Global Standard Index (Foto:Bumi)
Emitenhub - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mayoritas bergerak di zona merah sepanjang pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (5/12/2025), saham emiten Grup Bakrie dan Salim tersebut turun 1,65% ke level Rp238.
Sebanyak 2,09 miliar saham BUMI diperdagangkan dengan 47.371 transaksi dan nilai transaksi mencapai Rp498,97 miliar. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp61,72 miliar pada saham berkode BUMI ini.
Selain itu, Mandiri Sekuritas turut membukukan net sell Rp47,7 miliar, berbalik dari tren sebelumnya. Pada periode 5 November–4 Desember 2025, broker tersebut sebelumnya rutin mencatatkan net buy hingga Rp770,6 miliar di saham BUMI.
Kiwoom Sekuritas sempat merekomendasikan strong sell untuk saham BUMI dalam analisis teknikalnya pada Jumat. Broker tersebut menilai area support berada di level 239 dan 237, dengan level stoploss di 233. Sementara itu, resistance diproyeksikan di 245 dan 249.
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan saham BUMI masih berada dalam tren bullish, meski harga berpotensi mengalami pullback di dekat area support 230–240.
“Jika mampu bertahan di atas level tersebut dan kembali menguat, BUMI berpeluang melanjutkan tren positif dengan resistance di 255–260,” tulis tim analisis teknikal BRI Danareksa, Kamis (4/12/2025).
Saham emiten Grup Bakrie dan Salim, BUMI, masih mencatat lonjakan sekitar 70% dalam satu bulan terakhir.
BUMI juga tengah agresif melakukan ekspansi melalui akuisisi. Perseroan menargetkan akuisisi tambang mineral baru pada 2026 sebagai langkah diversifikasi bisnis. Manajemen menyampaikan bahwa pengumuman aset yang diakuisisi diperkirakan dapat dilakukan dalam 6–12 bulan ke depan, dengan harapan kontribusi pendapatan non-batubara semakin meningkat.


