Laba Petrosea (PTRO) Melonjak 197% di 2025, Saham Justru Ambruk 55% Sepanjang Tahun
PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat lonjakan laba bersih 197 persen pada 2025 dengan pendapatan tumbuh lebih dari 28 persen. Namun di pasar saham, harga PTRO justru terkoreksi tajam lebih dari 55 persen sejak awal tahun.
SINI Rights Issue 721,5 Juta Saham untuk Akuisisi Tambang Batu Bara Rp1,7 Triliun dari PTRO (Foto:PTRO)
Emitenhub.com - PT Petrosea Tbk (PTRO) membukukan lonjakan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025, tercermin dari peningkatan tajam laba bersih dan pendapatan dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan ini menempatkan perseroan dalam fase ekspansi operasional di sektor jasa pertambangan dan rekayasa.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya aktivitas pada segmen penambangan serta konstruksi dan rekayasa yang menjadi lini bisnis utama perusahaan.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD28,8 juta pada tahun buku 2025. Angka ini melonjak 197,02 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang tercatat sebesar USD9,69 juta.
Pendapatan perusahaan juga mengalami peningkatan sejalan dengan ekspansi aktivitas operasional. Sepanjang 2025, PTRO mencatat pendapatan sebesar USD886,45 juta atau naik 28,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD690,81 juta.
Segmen penambangan menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan nilai USD389,25 juta. Sementara itu, segmen konstruksi dan rekayasa menyusul dengan kontribusi sebesar USD379,74 juta.
Selain dua segmen utama tersebut, pendapatan juga berasal dari segmen EPCI minyak dan gas lepas pantai sebesar USD32,86 juta. Segmen jasa menyumbang pendapatan USD30,06 juta, sementara pos pendapatan lain-lain tercatat sebesar USD2,51 juta.
Perseroan juga membukukan pendapatan dari penjualan batu bara pada periode tertentu. Sepanjang tahun 2025, aktivitas tersebut menghasilkan pendapatan sebesar USD52,01 juta.
Beban Usaha Meningkat
Di sisi biaya operasional, Petrosea mencatat kenaikan beban usaha sepanjang 2025. Nilainya mencapai USD774,23 juta, meningkat dari USD600,52 juta pada 2024 seiring bertambahnya aktivitas operasional perusahaan.
Laba kotor perseroan tetap menunjukkan peningkatan. Sepanjang 2025, laba kotor tercatat sebesar USD112,22 juta, lebih tinggi dibandingkan laba kotor tahun sebelumnya yang sebesar USD90,28 juta.
Total aset Petrosea per 31 Desember 2025 tercatat sebesar USD1,58 miliar. Posisi ini meningkat dibandingkan total aset pada akhir 2024 yang sebesar USD867,26 juta.
Kenaikan aset diikuti peningkatan liabilitas menjadi USD1,27 miliar dari USD617,51 juta pada tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, ekuitas perseroan juga tumbuh menjadi USD307,45 juta dibandingkan posisi tahun 2024 sebesar USD249,75 juta.
Pergerakan Saham Belum Tunjukkan Rebound
Harga saham PT Petrosea Tbk (PTRO) pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026 ditutup melemah. Saham perseroan berada di level Rp4.960 per saham, turun 265 poin atau 5,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pada sesi perdagangan hari tersebut, saham PTRO dibuka di level Rp5.200 dan sempat menyentuh posisi tertinggi Rp5.225. Pergerakan kemudian melemah hingga mencapai level terendah Rp4.890 sebelum akhirnya ditutup di Rp4.960.
Kapitalisasi pasar Petrosea tercatat sekitar Rp50,03 triliun dengan rasio price to earnings sebesar 216,44. Saham ini juga memiliki dividend yield sekitar 0,33 persen dengan nilai dividen kuartalan sebesar Rp4,09 per saham.
Dalam rentang 52 pekan terakhir, saham PTRO sempat mencapai level tertinggi Rp13.000 per saham. Pada periode yang sama, posisi terendah tercatat di Rp1.850 per saham.
Data perdagangan hingga penutupan Jumat, 6 Maret 2026 menunjukkan saham PT Petrosea Tbk berada di level Rp4.960 per saham.
Dalam periode year-to-date (YTD), harga saham PTRO tercatat turun sekitar 55,71 persen atau terkoreksi Rp6.240 dibandingkan posisi awal tahun. Pada awal Januari, saham ini sempat diperdagangkan di kisaran Rp11.000 hingga Rp12.000 per saham.
Memasuki paruh kedua Januari, harga mulai mengalami koreksi tajam dan bergerak turun ke kisaran Rp8.000 per saham.
Tekanan berlanjut pada awal Februari ketika harga kembali melemah hingga berada di sekitar Rp6.000 per saham.
Pada pertengahan Februari, saham PTRO sempat mencatat pemulihan terbatas dengan pergerakan di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.500. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah harga kembali melemah mendekati Rp5.000 pada awal Maret.
Pergerakan tersebut menempatkan saham PTRO berada di area terendah sepanjang periode tahun berjalan. Hingga penutupan perdagangan terakhir, harga tercatat berada di kisaran Rp4.960 per saham.


