Target Harga PTRO Naik, Sekuritas Tetap Kompak Rekomendasikan Beli
PT Petrosea Tbk kembali mendapat sentimen positif setelah sekuritas merevisi naik target harga sahamnya. Konsensus analis masih solid di rekomendasi beli, ditopang progres proyek jasa pertambangan dan ekspansi grup.
Jakarta - Salah satu perusahaan sekuritas merevisi naik target harga saham PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu. Penyesuaian ini mencerminkan pandangan terbaru terhadap prospek kinerja perseroan.
Mengacu data Bloomberg per Kamis (22/1/2026), seluruh sekuritas yang mengulas saham PTRO masih berada pada nada positif. Sebanyak empat sekuritas tercatat kompak mempertahankan rekomendasi beli.
Secara konsensus, target harga saham PTRO dalam horizon 12 bulan kini berada di level Rp17.000. Angka tersebut mencerminkan rata-rata proyeksi dari sekuritas yang aktif memberikan cakupan.
Dalam laporan riset terbarunya yang dipublikasikan Kamis (22/1/2026), Henan Putihrai Sekuritas merevisi naik target harga saham PTRO dari sebelumnya Rp13.000 menjadi Rp16.000.
Dengan revisi tersebut, Henan Putihrai Sekuritas melihat potensi kenaikan sebesar 29,3 persen dari posisi harga saham PTRO saat ini. Penilaian ini merefleksikan ruang apresiasi harga yang masih terbuka berdasarkan asumsi terbaru dalam riset mereka.
Tim riset Henan Putihrai Sekuritas menyebut revisi target harga tersebut didorong oleh proyeksi terkait akuisisi CUAN–SINI, perolehan kontrak baru untuk SPBL dari Aster, serta rencana diversifikasi usaha ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam laporan riset yang dikutip Kamis (22/1/2026).
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PTRO berada di level Rp11.375 pada penutupan sesi pertama perdagangan Kamis (22/1/2026). Posisi ini mencerminkan kenaikan sebesar 182,96 persen dalam periode satu tahun terakhir.
Perkembangan Proyek Jasa Pertambangan Petrosea (PTRO)
Manajemen PT Petrosea Tbk (PTRO) menyampaikan perkembangan terbaru proyek jasa pertambangan yang dijalankan perseroan, khususnya melalui kontrak jasa pertambangan dengan PT Pasir Bara Prima (PBP), anak usaha PT Singaraja Putra Tbk (SINI).
Proyek tersebut mulai berjalan sejak 13 Agustus 2024 dan berlokasi di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Hingga saat ini, perseroan telah merealisasikan kegiatan pengupasan dan pemindahan lapisan penutup (overburden removal) dengan volume lebih dari 7,2 juta bank cubic meter (BCM).
Kontrak jasa pertambangan ini memiliki jangka waktu sepanjang usia tambang (life of mine) dengan estimasi nilai kontrak sekitar Rp17,4 triliun. Lingkup pekerjaan mencakup pengupasan dan pemindahan lapisan penutup dengan estimasi volume overburden sekitar 234,9 juta BCM, serta kegiatan produksi batu bara dengan target sekitar 26,0 juta ton.
Presiden Direktur PT Petrosea Tbk (PTRO), Michael, menyampaikan bahwa perseroan akan terus memperkuat sinergi dan mendukung seluruh proyek di dalam grup. Fokus tersebut mencakup upaya memastikan pencapaian kinerja optimal pada anak usaha pertambangan lain yang berada di bawah naungan PT Singaraja Putra Tbk (SINI), seiring rencana akuisisi SINI dalam strategi pertumbuhan grup Petrindo.
Michael menambahkan, setelah Petrindo menjadi pemegang saham pengendali SINI, grup tersebut secara konsolidasi akan menguasai sejumlah konsesi tambang batu bara dengan total cadangan sekitar 378 juta ton batu bara termal dan metalurgi. Skala cadangan tersebut menempatkan Petrindo sebagai salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia.
Sejalan dengan perkembangan proyek jasa pertambangan, entitas patungan yang dimiliki 51 persen oleh Petrosea dan 49 persen oleh PT Pasir Bara Prima (PBP), yakni PT Lintas Kelola Bersama (LKB), saat ini tengah menyelesaikan pembangunan jalan tambang atau hauling road. LKB bertanggung jawab atas pengelolaan serta kepemilikan infrastruktur jalan tambang beserta fasilitas pendukungnya.
Jalan tambang yang akan dikelola PT Lintas Kelola Bersama (LKB) memiliki total panjang sekitar 29,6 kilometer dan terbagi dalam enam segmen, dengan pelaksanaan konstruksi dikerjakan oleh Petrosea. Michael menyatakan capaian tersebut mencerminkan kapabilitas Petrosea dalam mengelola proyek jasa pertambangan yang terintegrasi dengan infrastruktur jalan tambang, serta menegaskan bahwa setiap tahapan pengembangan, termasuk pengelolaan hauling road, akan dijalankan secara prudent dan sesuai ketentuan regulasi yang berlaku.
Jalan tambang yang akan dikelola oleh PT Lintas Kelola Bersama (LKB) memiliki total panjang sekitar 29,6 kilometer dan terbagi ke dalam enam segmen. Seluruh pekerjaan konstruksi jalan tambang tersebut dilaksanakan oleh Petrosea.
Michael menyampaikan bahwa capaian ini menegaskan kapabilitas Petrosea dalam mengelola proyek jasa pertambangan yang terintegrasi dengan pengelolaan infrastruktur jalan tambang secara berkelanjutan. Ke depan, perseroan memastikan setiap tahapan pengembangan, termasuk pengelolaan hauling road, dijalankan secara prudent dan sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.


