Saham

AMMN Kejar Pemulihan Smelter, Nasib Ekspor Konsentrat Tembaga Kini Jadi Sorotan

PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) mempercepat pemulihan operasional smelter setelah sempat terdampak force majeure. Di tengah proses commissioning dan ramp up, perhatian pasar tertuju pada kelancaran operasional fasilitas pemurnian menjelang berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tembaga pada akhir April 2026.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Pemulihan operasional smelter AMMN dan sorotan pada ekspor konsentrat tembaga

Direktur AMMN Irwin Ka Pui Wan mengundurkan diri saat saham Amman Mineral keluar dari MSCI (Foto:AMMN)

Emitenhub.com - “Berhadapan dengan elemen-elemen baru seperti sulfur itu sesuatu yang juga kita sambil belajar. Harapannya dalam proses pembelajaran ini perbaikan juga jalan, jadi bisa ramp up sesuai ekspektasi,” kata Kartika Octaviana, Vice President of Corporate Communications and Investor Relations AMMN, di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Penyelesaian kendala smelter ini berkejaran dengan tenggat waktu dari pemerintah. Kelonggaran atau relaksasi ekspor konsentrat tembaga bagi perusahaan tambang akan berakhir pada akhir April mendatang.

Terkait sisa waktu satu setengah bulan ini, fokus utama perusahaan sepenuhnya tertuju pada optimalisasi kelancaran operasional pabrik. Belum ada rencana pasti mengenai pengajuan perpanjangan izin ekspor lanjutan.

“Kita lihat sampai nanti akhir April semoga semuanya lancar. Kami memang belum untuk declare akan mengajukan lagi, kita fokus pada apa yang kita punya dulu sekarang,” tambah Kartika.

Secara umum, tren pemulihan pasca-kahar ini diklaim berjalan jauh lebih cepat dari ekspektasi awal. Padahal, jika merujuk pada standar global, sebuah smelter baru umumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk bisa beroperasi mencapai kapasitas maksimal. Manajemen berupaya keras mempercepat proses ini agar operasional fasilitas dapat segera optimal tanpa hambatan.

Pengoperasian smelter juga menghadirkan tantangan teknis baru bagi perusahaan. Vice President of Corporate Communications and Investor Relations AMMN Kartika Octaviana mengatakan tim operasional masih beradaptasi dengan sejumlah elemen baru dalam proses pemurnian.

“Berhadapan dengan elemen-elemen baru seperti sulfur itu sesuatu yang juga kita sambil belajar. Harapannya dalam proses pembelajaran ini perbaikan juga jalan, jadi bisa ramp up sesuai ekspektasi,” kata Kartika di Jakarta, Selasa (10 Maret 2026).

Upaya penyelesaian kendala operasional smelter berlangsung bersamaan dengan tenggat kebijakan pemerintah terkait ekspor konsentrat tembaga. Relaksasi ekspor bagi perusahaan tambang dijadwalkan berakhir pada akhir April mendatang.

Dalam sisa waktu sekitar satu setengah bulan tersebut, fokus utama perusahaan diarahkan pada stabilisasi operasional fasilitas pemurnian. Hingga kini, manajemen belum menyampaikan rencana pengajuan perpanjangan izin ekspor lanjutan.

“Kita lihat sampai nanti akhir April semoga semuanya lancar. Kami memang belum untuk declare akan mengajukan lagi, kita fokus pada apa yang kita punya dulu sekarang,” tambah Kartika.

Secara umum, manajemen menyebut proses pemulihan pasca-kahar berjalan lebih cepat dari perkiraan awal. Sebagai perbandingan, smelter baru pada umumnya memerlukan waktu dua hingga tiga tahun untuk mencapai kapasitas produksi optimal.

Iklan