AMMN Gelontorkan Dana Eksplorasi USD3,03 Juta, Phase 8 Batu Hijau Jadi Katalis Produksi
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengalokasikan dana eksplorasi USD3,03 juta pada kuartal IV-2025 melalui anak usahanya di wilayah Elang dan Rinti. Di sisi lain, Phase 8 Batu Hijau dinilai menjadi katalis utama lonjakan produksi, dengan proyek Elang menopang pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Aktivitas tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk di Batu Hijau dan proyek Elang(Foto:AMMN)
Emitenhub.com – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengalokasikan dana eksplorasi sebesar USD3,03 juta atau setara Rp50,90 miliar dengan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS pada kuartal IV-2025, sebagai bagian dari upaya penguatan basis sumber daya mineral perseroan.
Dalam periode tersebut, kegiatan eksplorasi dilakukan melalui anak usaha PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang beroperasi di wilayah IUPK Blok II (Elang) dan Blok III (Rinti) di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Perseroan tidak melakukan kegiatan eksplorasi lapangan di wilayah IUPK Blok I (Batu Hijau) maupun Blok IV, sehingga tidak terdapat biaya eksplorasi yang dikeluarkan untuk kedua blok tersebut dalam periode yang sama.
Selanjutnya, AMMN berencana melakukan tinjauan serta evaluasi atas hasil eksplorasi yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar bagi perseroan dalam menentukan langkah lanjutan terkait pengembangan wilayah tambang.
Sebagai perbandingan, pada kuartal II-2025, AMMN melalui PT Amman Mineral Nusa Tenggara juga telah merealisasikan belanja eksplorasi sebesar USD2,85 juta untuk kegiatan eksplorasi di wilayah yang sama.
Sementara itu, riset Sucor Sekuritas menyebutkan bahwa dimulainya Phase 8 Batu Hijau menjadi katalis utama peningkatan volume produksi, seiring momentum penguatan harga tembaga dan emas di pasar global.
Phase 8 Batu Hijau disebut sebagai pengubah permainan (game changer). Produksi konsentrat pada 2026 diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat secara tahunan, didorong peningkatan kadar bijih, penambahan jalur konsentrator baru, serta kenaikan utilisasi smelter tembaga yang mulai menghasilkan katoda pada awal 2025.
Utilisasi smelter diproyeksikan mencapai sekitar 80 persen pada 2026 dan meningkat mendekati kapasitas penuh pada 2027. Selain Batu Hijau, proyek Elang juga dipandang sebagai sumber pertumbuhan berikutnya bagi perseroan.
Berlokasi sekitar 54 kilometer dari tambang eksisting, Elang merupakan salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar yang belum dikembangkan di dunia, dengan total sumber daya setara 25 miliar pon tembaga dan 35,1 juta ons emas. Proyek ini dijadwalkan mulai memasuki tahap commissioning pada 2031. Pengembangan Elang diproyeksikan menjadi penopang pertumbuhan jangka panjang AMMN seiring optimalisasi Batu Hijau dan fasilitas pemurnian tembaga.


