Saham DEWA Melonjak 355% di 2025, Didorong Buyback Jumbo dan Internalisasi Armada
Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) meroket 355% sepanjang 2025 dan mencetak level tertinggi dalam lebih dari 15 tahun, di tengah nilai transaksi jumbo dan sentimen positif riset KISI. Perseroan mengandalkan program internalisasi armada, diversifikasi mineral, serta buyback hingga Rp 1,66 triliun yang berpotensi mengerek EPS, sementara saham-saham Grup Bakrie lain bergerak variatif.
Pergerakan saham DEWA di tengah aksi jual investor dan agenda rebalancing MSCI Indonesia(Sumber:Dewa)
Emitenhub - Saham emiten Grup Bakrie yang juga berafiliasi dengan Grup Salim menguat dalam dua hari terakhir, melanjutkan tren positif yang terbentuk belakangan ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/12/2025) pukul 11.06 WIB, harga saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 11,35% ke Rp 510 per saham, menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 15 tahun. Nilai transaksi tercatat jumbo, mencapai Rp 1,17 triliun.
Sehari sebelumnya, saham DEWA ditutup melesat 11,17%. Secara akumulatif, saham DEWA sudah naik 47% dalam sebulan dan menguat 355% sepanjang 2025.
Dalam riset tertanggal 19 November 2025, Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menilai DEWA memasuki 2025 dengan kondisi yang lebih solid setelah melakukan restrukturisasi besar, mencakup konversi utang Rp 1,4 triliun dan memperoleh pinjaman sindikasi baru Rp 2,6 triliun. Langkah tersebut menurunkan leverage sekaligus memperkuat modal kerja untuk ekspansi.
DEWA kini bergerak dari fase pemulihan margin menuju percepatan pertumbuhan laba, dengan target pertumbuhan pendapatan dua digit dan margin EBITDA kembali berada di atas 25%.
KISI menilai pendorong utama kinerja DEWA adalah program internalisasi armada, yang akan meningkatkan porsi pekerjaan internal dari 46% pada 2024 menjadi hampir 80% pada 2026. Setiap kenaikan 10% internalisasi diproyeksikan menambah margin EBITDA sekitar 600–700 bps.
Perseroan juga memperluas diversifikasi mineral melalui PT Gayo Mineral Resources (GMR) yang mengembangkan prospek tembaga-emas di Aceh. KISI menilai inisiatif ini membuka peluang pertumbuhan baru pada aset nonbatu bara ber-margin lebih tinggi serta memperkuat posisi DEWA sebagai kontraktor multikomoditas.
Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi, DEWA menyampaikan rencana pembelian kembali saham (buyback) di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi tajam. Aksi buyback ini dilakukan tanpa memerlukan persetujuan RUPS, sesuai ketentuan POJK 13/2023, POJK 29/2023, serta surat OJK tertanggal 17 September 2025.
Perseroan menetapkan periode buyback pada 19 November 2025 hingga 19 Februari 2026. Emiten jasa penunjang pertambangan ini menyiapkan dana maksimal Rp 1,66 triliun dari kas internal, dengan target pembelian hingga 10% dari modal ditempatkan dan disetor.
Manajemen menilai aksi buyback tidak akan mengganggu kinerja maupun likuiditas perusahaan. Dalam skenario buyback penuh, laba per saham (earnings per share/EPS) diproyeksikan naik dari Rp 4,13 menjadi Rp 4,59.
Buyback dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus, dan dapat dihentikan apabila dana telah habis, periode berakhir, atau perseroan memutuskan untuk mengakhiri program tersebut. Harga pembelian akan mengikuti ketentuan kewajaran sesuai POJK 29/2023.
Selain DEWA, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 5,56% ke Rp 266 per saham dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menguat 4,94%.
Adapun sejumlah saham Grup Bakrie lainnya melemah, antara lain BRMS turun 0,52%, ENRG terkoreksi 1,05%, dan VKTR tergerus 1,40%.


