Saham

PGEO Tekan Konsumsi Energi 25.139 MWh, Bauran EBT Tembus 94,36% pada 2025

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat kenaikan konsumsi energi menjadi 178.197,38 MWh pada 2025, namun tetap mempertahankan dominasi energi baru terbarukan dalam bauran energi sebesar 94,36 persen. Di saat yang sama, berbagai program efisiensi membuat penurunan energi total melonjak menjadi 25.139,52 MWh, ditopang optimalisasi operasi di sejumlah area dan program STREAM.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
PGEO mencatat efisiensi energi 25.139,52 MWh dan bauran energi terbarukan 94,36 persen pada 2025

PGEO Cairkan Dividen Tunai USD123,9 Juta atau Rp49,44 per Saham Tahun Buku 2025 (Foto PGEO)

Emitenhub.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat kenaikan konsumsi energi sepanjang 2025. Di tengah peningkatan tersebut, porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi perseroan juga tetap bergerak naik.

Berdasarkan laporan keberlanjutan yang telah dipublikasikan, total konsumsi energi PGE pada 2025 mencapai 178.197,38 MWh. Angka itu meningkat 14,63 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar 155.454,22 MWh.

Di sisi lain, dominasi energi bersih dalam bauran energi PGEO tetap terjaga. Porsi energi baru terbarukan tercatat mencapai 94,36 persen, naik tipis dari posisi 94,24 persen pada tahun sebelumnya.

Manajemen PGE menyatakan pemanfaatan kendaraan berbahan bakar listrik, hybrid, dan hidrogen akan terus ditingkatkan dalam kegiatan operasional. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung target bauran energi terbarukan perseroan sebesar 96 persen pada 2030, sebagaimana disampaikan dalam keterbukaan informasi yang dikutip Sabtu, 4 April 2026.

Intensitas energi PGEO menunjukkan perbaikan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2025, intensitas energi total tercatat sebesar 0,037 MWh/MWh, lebih rendah dibandingkan 0,041 MWh/MWh pada 2024 dan 0,043 MWh/MWh pada 2023.

Untuk aktivitas pengeboran sumur panas bumi yang dijalankan vendor, intensitas energi pada 2025 tercatat sebesar 0,002 MWh/MWh.

Manajemen PGE menyebut angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2024 yang berada di level 0,009 MWh/MWh. Nilainya juga sama dengan baseline 2020 sebesar 0,002 MWh/MWh.

Menurut manajemen, penurunan signifikan konsumsi energi di luar perusahaan pada 2025 terjadi karena hanya ada satu aktivitas pengeboran yang dilakukan oleh vendor.

Pada 2025, PGE mengalokasikan investasi untuk pengelolaan dan pelestarian lingkungan sebesar Rp10,37 miliar. Nilai ini meningkat 4,71 persen dibandingkan realisasi 2024 sebesar Rp9,90 miliar.

Manajemen PGE juga menyatakan tidak terdapat pengaduan lingkungan sepanjang 2025. Tidak ada insiden kebocoran fluida panas bumi.

Sepanjang 2025, PGE menjalankan sejumlah langkah efisiensi energi untuk menekan konsumsi dalam kegiatan operasional. Salah satunya dilakukan di Area Kamojang melalui optimalisasi penggunaan energi dengan mengoperasikan satu unit liquid ring vacuum pump (LRVP) saat operasi normal pada PLTP Unit 4 dan 5, yang menghasilkan pengurangan konsumsi energi sebesar 563,76 MWh.

Langkah efisiensi lainnya juga tercatat di beberapa wilayah operasi. Optimalisasi operasi di Karaha menghasilkan penghematan energi sebesar 319,5 MWh, sedangkan pemanfaatan panas dan reinjeksi fluida di Lumut Balai menekan konsumsi hingga 7.669,93 MWh. Di lokasi yang sama, pengurangan steam dan pengaturan valve turut menurunkan konsumsi energi sebesar 7.488,06 MWh.

Dari seluruh inisiatif tersebut, PGE membukukan penurunan energi total sebesar 25.139,52 MWh pada 2025. Angka ini meningkat 125,92 persen dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar 11.127,44 MWh.

Manajemen PGE menyatakan kenaikan capaian efisiensi tersebut didorong oleh pelaksanaan program Steam Redistribution and Adjustment Method (STREAM) pada 2025.

Iklan