Prajogo Pangestu Jadi Top Winner Dunia, Saham Premium Dongkrak Kekayaan | EmitenHub
Prajogo Pangestu dan pergerakan saham premium emiten terafiliasi di Bursa Efek Indonesia
Emitenhub - Prajogo Pangestu tercatat memuncaki daftar top winners di antara para konglomerat dunia, seiring penguatan saham-saham emiten yang berada di bawah bendera bisnisnya.
Berdasarkan data Forbes Billionaires, kekayaan Prajogo Pangestu melonjak US$1,5 miliar atau sekitar Rp25,16 triliun sepanjang perdagangan Senin (29/12/2025). Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi di antara lima konglomerat dengan peningkatan kekayaan terbesar secara global pada hari itu.
Forbes mencatat total kekayaan Prajogo kini mencapai US$38,9 miliar atau sekitar Rp652,50 triliun, menjadikannya individu terkaya di Indonesia saat ini.
Dalam daftar 50 Orang Terkaya Indonesia 2025 versi Forbes, Prajogo Pangestu menempati peringkat kedua di bawah kekayaan gabungan Budi dan Michael Hartono yang tercatat sebesar US$43,8 miliar. Sementara itu, dalam daftar Forbes Real Time Billionaires dunia, Prajogo berada di posisi ke-52.
Pada jajaran konglomerat top winners global per Senin (29/12/2025), kenaikan kekayaan Prajogo melampaui sejumlah taipan dunia lainnya. Forbes mencatat Chen Tianshi membukukan kenaikan US$936,6 juta, Qin Yinglin bertambah US$766,1 juta, Pham Nhat Vuong naik US$753,9 juta, dan Eric Li meningkat US$527,2 juta.
Sebagai perbandingan, Bloomberg Billionaires Index mencatat kekayaan Prajogo Pangestu mencapai US$44,1 miliar. Sepanjang 2025, kekayaannya meningkat US$14,4 miliar, dengan tambahan US$22,6 juta pada perdagangan Senin (29/12/2025).
Dalam daftar Bloomberg tersebut, Prajogo menempati peringkat ke-44 dan tercatat lebih kaya dibandingkan miliarder asal Hong Kong sekaligus taipan properti, Li Ka Shing.
Lonjakan kekayaan Prajogo Pangestu sepanjang 2025 tidak terlepas dari kinerja saham-saham emiten yang berada di bawah kendalinya. Salah satu katalis utamanya berasal dari pencatatan saham perdana PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) pada Juli 2025, yang menghasilkan dana lebih dari Rp2,37 triliun.
CDIA merupakan entitas anak PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang bergerak di bidang investasi infrastruktur. Kehadiran emiten ini menjadi penopang baru dalam portofolio bisnis Prajogo.
Hingga penutupan perdagangan Senin (29/12/2025), saham CDIA tercatat telah melonjak 781,58% ke level Rp1.675 per saham, dibandingkan dengan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp190 per saham.
Sementara itu, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), perusahaan induk yang menaungi berbagai lini bisnis Prajogo Pangestu, tercatat melonjak 256,52% secara year-to-date (YtD) hingga mencapai level Rp3.280 per saham.
Prespektif Saham-Saham Premium
Tidak hanya emiten terafiliasi Prajogo Pangestu, reli kuat saham-saham konglomerasi mendominasi pergerakan pasar sepanjang 2025. Lonjakan harga yang mencapai ratusan hingga ribuan persen menjadikan sebagian saham tersebut masuk dalam kategori saham premium.
Memasuki 2026, pasar mulai menilai kembali ketahanan fundamental masing-masing saham seiring memudarnya momentum kenaikan pada sebagian emiten. Investor cenderung lebih selektif dalam mencermati prospek keberlanjutan kinerja.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan daftar top leaders sepanjang 2025 masih didominasi nama-nama besar, termasuk CUAN dan BRPT yang berada dalam konglomerasi Prajogo Pangestu.
Menurut analis, keberlanjutan reli saham-saham premium tidak dapat disamaratakan. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai hanya sebagian kecil saham premium yang berpeluang mempertahankan kinerja hingga 2026, terutama yang ditopang ekspansi bisnis atau pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS). Adapun saham yang reli utamanya didorong likuiditas tanpa katalis baru dinilai lebih rentan memasuki fase koreksi.
“Mulai habis momentum contohnya seperti DCII, MORA, dan emiten-emiten yang reli tanpa katalis baru, atau valuasinya sudah terlalu stretched. Biasanya mulai masuk fase distribusi dan volatilitas tinggi,” ujar Wafi kepada Bisnis, Jumat (12/12/2025).
Untuk saham-saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) masih mencatatkan pertumbuhan tiga digit secara year-to-date (YtD). Sementara itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) tercatat naik 7,21% hingga Senin (29/12/2025), dengan kenaikan YtD mencapai 114,41%.
Narasi dan sentimen pasar dinilai masih dapat mendorong pergerakan harga lebih lanjut, bahkan pada saham yang secara valuasi sudah tergolong mahal. Faktor ekspektasi dinilai kerap menjadi pendorong utama pergerakan jangka pendek.
“Sehingga, rasanya kalau kita katakan downtrend tahun depan saham X misalnya, tiba-tiba emiten dari saham tersebut mengatakan akan mendapatkan proyek senilai Rp100 triliun, pasti harga sahamnya meskipun sudah tinggi, akan mengalami kenaikan lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Karena narasi dan ekspektasi menopang pergerakan saham tersebut,” ujarnya.
Dari sisi valuasi, hampir seluruh saham yang masuk jajaran top leaders tercatat telah berada di level yang sangat tinggi. Price to earnings ratio (PE) DCII mencapai 530,50 kali, MORA 850,89 kali, dan CUAN 805,14 kali.
Bahkan saham yang dinilai masih memiliki momentum, seperti BUMI dan BRMS, masing-masing mencatatkan PE di atas 210 kali. Nico menilai, dengan kondisi tersebut, ruang investasi berbasis valuasi menjadi semakin terbatas.


