Market

Prospek Harga Minyak 2026: Surplus Pasokan Bayangi Pasar Energi Global

Harga minyak dunia diperkirakan tetap tertekan pada 2026 akibat surplus pasokan global yang signifikan. Meski risiko geopolitik dan kebijakan OPEC+ berpotensi menahan penurunan, konsensus analis menilai ruang kenaikan harga masih terbatas.

5 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Grafik pergerakan harga minyak dunia dengan proyeksi surplus pasokan

Grafik pergerakan harga minyak dunia dengan proyeksi surplus pasokan

Emitenhub.com - Harga minyak dunia diproyeksikan tetap berada dalam tekanan sepanjang 2026, seiring pertumbuhan pasokan global yang diperkirakan melampaui peningkatan permintaan. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar energi yang masih dibayangi ketidakseimbangan fundamental di sisi suplai.

Meski demikian, potensi penurunan harga dinilai tidak akan berlangsung terlalu dalam. Risiko geopolitik yang masih tinggi diperkirakan menjadi faktor penahan pelemahan harga minyak, dengan ketegangan di sejumlah kawasan berperan sebagai penopang sentimen pasar. Pandangan tersebut tercermin dari hasil jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom dan analis, yang menilai faktor geopolitik tetap menjadi variabel penting dalam pergerakan harga minyak global.

Survei terhadap 35 responden dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan harga minyak Brent rata-rata berada di level USD62,23 per barel pada 2026. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya pada Oktober yang berada di kisaran USD63,15 per barel, mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan global.

Sebagai pembanding, sepanjang 2025 harga minyak Brent tercatat diperdagangkan rata-rata di sekitar USD68,80 per barel berdasarkan data LSEG. Selisih tersebut mengindikasikan pandangan pasar bahwa tekanan harga masih berlanjut, meski tetap tertahan oleh faktor non-fundamental seperti risiko geopolitik.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) diperkirakan berada pada rata-rata USD59,00 per barel sepanjang 2026. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar USD60,23 per barel, mencerminkan tekanan lanjutan dari sisi fundamental pasar energi.

Analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda, menilai pasar minyak global pada 2026 berpotensi menghadapi kondisi kelebihan pasokan yang sangat besar dan relatif belum pernah terjadi sebelumnya. Lonjakan suplai tersebut dinilai menjadi faktor utama yang membatasi ruang pemulihan harga, meskipun risiko geopolitik masih berperan sebagai penahan penurunan yang lebih tajam.

Meski tekanan pasokan diperkirakan semakin besar, Zain Vawda menegaskan bahwa ketegangan politik global masih akan menyisakan premi risiko yang signifikan di pasar minyak. Faktor geopolitik dinilai berperan sebagai penahan penurunan harga, sehingga koreksi tidak sepenuhnya mencerminkan besarnya kelebihan pasokan. Menurutnya, risiko geopolitik akan mencegah harga jatuh sedalam yang seharusnya jika hanya melihat sisi suplai.

Sejalan dengan pandangan tersebut, mayoritas analis memperkirakan pasar minyak global

akan memasuki fase surplus pada 2026. Perkiraan kelebihan pasokan berada di kisaran 0,5 hingga 4,2 juta barel per hari, mencerminkan ketidakseimbangan yang lebih lebar dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Sebagai perbandingan, estimasi surplus dalam jajak pendapat terdahulu berada di rentang 0,19 hingga 3,0 juta barel per hari. Revisi ke atas ini menandakan meningkatnya keyakinan pasar terhadap tekanan suplai yang semakin kuat.

International Energy Agency (IEA) bahkan memproyeksikan surplus pasar minyak pada 2026 dapat mencapai sekitar 4,09 juta barel per hari. Angka tersebut mengindikasikan tantangan struktural bagi harga minyak, meskipun dinamika geopolitik masih berpotensi menjadi faktor penyeimbang dalam jangka menengah.

Di sisi lain, laporan bulanan terbaru OPEC memberikan gambaran yang lebih moderat terkait potensi kelebihan pasokan. Berdasarkan perhitungan Reuters, surplus pasar minyak diperkirakan hanya sekitar 20.000 barel per hari apabila kelompok produsen mempertahankan tingkat produksi pada level Oktober.

OPEC+ sendiri telah menaikkan target produksi secara kumulatif sekitar 2,9 juta barel per hari sejak April. Namun demikian, kelompok produsen ini disebut berencana menahan laju kenaikan produksi pada kuartal pertama 2026 sebagai respons atas risiko ketidakseimbangan pasar.

Dalam periode tersebut, harga minyak Brent diperkirakan bergerak di kisaran rata-rata USD61,23 per barel. Level ini mencerminkan upaya pasar menyesuaikan ekspektasi antara tekanan pasokan dan kebijakan produksi negara-negara produsen utama.

Mayoritas responden survei menilai OPEC+ cenderung menghindari langkah peningkatan produksi yang agresif sepanjang 2026. Sikap kehati-hatian ini didorong oleh kekhawatiran terhadap potensi kelebihan pasokan yang dapat berlangsung lebih lama dan menekan stabilitas harga minyak global.

Kepala Riset Minyak dan Gas Eropa HSBC, Kim Fustier, menyatakan bahwa kelompok produsen baru akan mempertimbangkan kembali langkah pemangkasan produksi apabila harga minyak Brent bertahan di bawah USD55 per barel dalam periode yang cukup lama. Pernyataan ini mencerminkan ambang batas harga yang dinilai masih dapat ditoleransi oleh produsen utama sebelum mengambil langkah pengetatan suplai.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi minyak global diperkirakan tetap terbatas, berada di kisaran 0,5 hingga 1,2 juta barel per hari pada 2026. Di saat yang sama, produksi shale oil Amerika Serikat diproyeksikan mengalami penurunan. Kombinasi faktor tersebut, bersama dengan risiko geopolitik yang masih melekat, diperkirakan membentuk batas bawah harga minyak di sekitar USD60 per barel, sebagaimana disampaikan Analis Komoditas Utama EIU, Matthew Sherwood.

Sementara itu, sanksi Amerika Serikat terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia, Lukoil dan Rosneft, dinilai berpotensi menimbulkan gangguan pasokan dalam jangka pendek. Namun, para analis menilai dampak tersebut tidak akan berlangsung lama. Minyak Rusia diperkirakan tetap dapat kembali masuk ke pasar global melalui mekanisme armada bayangan dan perantara, sehingga efeknya terhadap keseimbangan pasokan dinilai bersifat sementara.

Sejumlah bank investasi global tetap mengambil sikap hati-hati dalam memandang prospek harga minyak pada 2026. Morgan Stanley, misalnya, menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk paruh pertama 2026 ke level USD60 per barel. Penyesuaian ini dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ yang menahan kenaikan kuota produksi serta dampak sanksi terbaru terhadap aset minyak Rusia.

Meski demikian, Morgan Stanley menilai tekanan struktural masih membayangi pasar. Bank tersebut memperkirakan surplus pasokan dalam skala besar berpotensi muncul, terutama pada kuartal kedua 2026, seiring akumulasi suplai global yang terus meningkat.

Pandangan yang lebih pesimistis disampaikan oleh Goldman Sachs. Bank investasi ini memperkirakan tekanan harga akan lebih kuat dibandingkan konsensus pasar. Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak Brent rata-rata hanya berada di kisaran USD56 per barel, sementara WTI diperkirakan sekitar USD52 per barel pada 2026.

Tekanan tersebut dinilai berasal dari masuknya gelombang pasokan baru yang bersumber dari proyek-proyek jangka panjang yang mulai beroperasi, bersamaan dengan strategi OPEC yang secara bertahap melonggarkan kebijakan pemangkasan produksi. Kombinasi faktor ini diperkirakan membatasi ruang pemulihan harga minyak dalam jangka menengah.

Iklan