Market

Harga Minyak Tertahan di Tengah Perang AS–Iran, Selat Hormuz Lumpuh

Harga minyak dunia bertahan tinggi di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz. Minyak Brent ditutup di USD81,40 per barel sementara WTI mencapai USD74,66, dengan pasar energi global mencermati potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Harga minyak dunia naik akibat konflik Timur Tengah

PIS Siapkan Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro Melintasi Selat Hormuz yang Baru Dibuka Iran

Emitenhub.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memengaruhi pasar energi global. Harga minyak dunia pada perdagangan Rabu (4/3/2026) ditutup nyaris tidak berubah di tengah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Konflik tersebut juga mengganggu jalur distribusi energi utama setelah pelayaran melalui Selat Hormuz lumpuh selama lima hari berturut-turut. Gangguan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap arus pengiriman minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah.

Minyak mentah Brent ditutup di level USD81,40 per barel, tidak berubah dibanding penutupan Selasa. Harga tersebut menjadi posisi tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,1 persen menjadi USD74,66 per barel. Angka ini menandai penutupan tertinggi sejak Juni untuk hari kedua berturut-turut.

“Harga minyak tetap tinggi karena pasar menghadapi prospek perang berkepanjangan dan gangguan pasokan yang masih membayangi,” ujar Analis Pasar Senior di Tradu.com Nikos Tzabouras, dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa sinyal dari Amerika Serikat mengenai potensi kampanye militer selama empat hingga lima pekan serta upaya Iran memperluas konflik ke tingkat regional meningkatkan kekhawatiran pasar. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz juga dinilai dapat mengubah keseimbangan suplai dan permintaan minyak global serta mendorong harga lebih tinggi.

Kontrak acuan Brent sempat melonjak lebih dari USD3 hingga menyentuh USD84,48 pada perdagangan pagi. Level tersebut mendekati posisi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pergerakan harga kemudian berbalik melemah setelah laporan The New York Times menyebut sejumlah pejabat Kementerian Intelijen Iran memberi sinyal kepada CIA mengenai kemungkinan membuka perundingan untuk mengakhiri konflik.

Pada Rabu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa negaranya berada dalam posisi unggul dalam perang melawan Iran. Ia juga menegaskan militer AS siap melanjutkan operasi selama diperlukan.

Serangan militer Israel dan Amerika Serikat ke sejumlah target di Iran memicu respons balasan yang menyasar infrastruktur energi di kawasan tersebut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar karena wilayah Timur Tengah menyumbang hampir sepertiga produksi minyak dunia.

Irak sebagai produsen minyak terbesar kedua di OPEC dilaporkan memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari. Para pejabat yang dikutip Reuters menyebut langkah ini dipicu keterbatasan kapasitas penyimpanan serta terhentinya jalur ekspor.

Produksi bahkan berpotensi terhenti lebih besar jika kondisi tidak segera berubah. Irak disebut bisa menghentikan hampir 3 juta barel per hari produksi dalam beberapa hari ke depan apabila ekspor belum kembali berjalan.

Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz juga masih praktis tertutup. Jalur tersebut merupakan salah satu titik penting distribusi energi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker minyak yang melintasi selat itu jika diperlukan. Ia juga memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan bagi perdagangan maritim di kawasan Teluk.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Pentagon bersama Departemen Energi Amerika Serikat sedang menyusun rencana untuk mengamankan Selat Hormuz. Langkah tersebut diarahkan untuk menjamin keselamatan kapal tanker minyak di tengah konflik yang berlangsung dengan Iran.

Ia menambahkan Presiden Donald Trump bersama para penasihatnya juga membahas kemungkinan peran Amerika Serikat di Iran setelah kampanye militer berakhir. Pembahasan tersebut mencakup skenario keterlibatan pascakonflik.

Sejumlah negara dan pelaku industri mulai menyesuaikan strategi pasokan energi. India dan Indonesia menyatakan tengah mencari sumber suplai alternatif, sementara beberapa kilang di China memilih menutup operasi atau mempercepat jadwal perawatan.

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah meningkat 3,5 juta barel pada pekan lalu. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak kini berada pada level tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir.

Kenaikan stok minyak mentah tersebut melampaui perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya memproyeksikan tambahan sekitar 2,3 juta barel. Data yang sama juga menunjukkan persediaan bensin Amerika Serikat turun 1,7 juta barel, sementara stok distilat—termasuk solar dan minyak pemanas—naik 429.000 barel dalam sepekan.

“Pasokan global masih melimpah dengan tingkat penyimpanan kapal tanker ‘di atas air’ yang mendekati rekor. Namun hingga minyak tersebut menemukan tujuan yang aman, volatilitas harga kemungkinan berlanjut,” ujar Senior Vice President of Trading di BOK Financial Dennis Kissler.

Iklan