Market

Serangan Iran Guncang Selat Hormuz, Ancam Pasokan Energi Dunia

Serangan drone dan rudal Iran di kawasan Teluk memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan pelayaran di jalur strategis tersebut telah mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko gejolak energi global.

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Serangan Iran memicu ancaman pasokan energi Selat Hormuz

PIS Siapkan Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro Melintasi Selat Hormuz yang Baru Dibuka Iran

Emitenhub.com - Serangan drone Iran dinilai membawa implikasi lebih luas bagi perekonomian global. Gangguan terhadap jalur energi utama dunia di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak internasional apabila situasi terus berlanjut.

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu pekan lalu. Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan ratusan rudal serta lebih dari 1.000 drone yang diarahkan ke sejumlah negara Teluk yang menjadi sekutu Washington.

Sebagian besar serangan tersebut berhasil dihentikan oleh sistem pertahanan udara. Namun sejumlah proyektil tetap menembus pertahanan dan menyebabkan kerusakan pada bangunan perumahan, fasilitas komersial, infrastruktur strategis, hingga pangkalan militer Amerika Serikat.

Para analis melihat rangkaian serangan tersebut tidak hanya bermuatan militer. Strategi Iran dinilai juga menyasar jalur energi global yang melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang memisahkan Iran dan Oman, namun memiliki peran vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global melintasi jalur ini setiap hari.

Dampak gangguan di kawasan itu mulai terasa setelah sejumlah kapal tanker diserang. Lalu lintas pengiriman energi melalui Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti.

Gangguan di kawasan tersebut segera tercermin pada pergerakan pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 12 persen dalam sepekan, sementara harga gas alam di Eropa meningkat hingga 50 persen.

Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai Iran memiliki kemampuan untuk membuat jalur pelayaran di kawasan itu tidak aman bagi kapal komersial. “Iran tidak akan menyerah dengan mudah atau cepat. Mereka punya cara untuk membuat jalur perdagangan di Hormuz tidak aman,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Kamis (5/3/2026).

Menurut McNally, strategi Iran tidak harus menutup Selat Hormuz secara permanen untuk menciptakan tekanan. Cukup dengan menunjukkan kemampuan menyerang beberapa kapal tanker.

“Amerika Serikat memang memprioritaskan serangan ke gudang amunisi dan pangkalan Iran yang mengancam Hormuz. Tapi Iran hanya perlu menunjukkan mereka bisa mengenai beberapa kapal tanker dan kekhawatiran akan bekerja sendiri. Orang-orang tidak akan berani lewat,” kata McNally.

Di balik strategi tersebut, Iran memiliki kapasitas militer yang cukup signifikan di sektor teknologi drone. Negara itu disebut sebagai salah satu produsen drone terbesar di kawasan. Pusat riset Centre for Information Resilience mencatat Iran memiliki kemampuan industri untuk memproduksi sekitar 10.000 unit drone setiap bulan. Kapasitas ini dinilai memungkinkan Iran mempertahankan intensitas serangan dalam jangka waktu panjang.

Drone generasi terbaru Iran, Shahed-136, memiliki jangkauan sekitar 700 hingga 1.000 kilometer. Jarak tersebut memungkinkan perangkat itu menjangkau hampir seluruh wilayah pesisir Teluk dari daratan Iran maupun dari kapal yang beroperasi di laut. Peneliti Washington Institute, Farzin Nadimi, menyebut jangkauan tersebut memberi Iran kemampuan menargetkan berbagai fasilitas strategis di negara-negara Teluk.

Dalam konflik terbaru, sejumlah drone dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan udara kawasan. Setidaknya 65 drone tercatat memasuki wilayah Uni Emirat Arab sejak konflik dimulai.

Beberapa serangan dilaporkan mengenai pusat data Amazon, Bandara Internasional Dubai, serta sebuah hotel Fairmont. Infrastruktur di Bahrain juga dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk pangkalan angkatan laut Amerika Serikat dan sebuah menara apartemen yang juga menampung hotel.

Keterbatasan Stok Rudal Jadi Celah Strategi Iran

Di tengah kapasitas produksi drone yang besar, sejumlah analis menilai Iran memiliki keterbatasan pada persediaan rudal. Jumlah pasti stok rudal negara tersebut tidak diketahui secara terbuka. Militer Israel memperkirakan cadangannya sekitar 2.500 unit, sementara sebagian analis lain menyebut angkanya dapat mencapai sekitar 6.000 unit.

Sebagian persediaan tersebut diyakini telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Iran diketahui memasok persenjataan kepada Hizbullah di Lebanon serta kelompok Houthi di Yaman. Seorang sumber intelijen Barat menyebut distribusi tersebut turut mengurangi cadangan rudal Iran. Konflik singkat dengan Israel pada Juni lalu juga disebut menguras sebagian stok yang dimiliki.

Keterbatasan juga terlihat pada jumlah peluncur rudal. Riset lembaga Inggris Centre for Information Resilience (CIR) menunjukkan jumlah peluncur rudal Iran telah berkurang setidaknya setengah dalam setahun terakhir akibat serangan Israel dan Amerika Serikat.

Apabila persediaan rudal terus menurun, Iran masih memiliki opsi lain yang dinilai berpotensi mengganggu pelayaran global. Menurut perusahaan intelijen maritim Dryad Global, Iran memiliki sekitar 5.000 hingga 6.000 ranjau laut yang dapat ditempatkan di dasar laut, diluncurkan menggunakan roket, atau dibiarkan mengapung hingga meledak saat bersentuhan dengan kapal.

Hingga saat ini belum ada indikasi ranjau tersebut telah dipasang di Selat Hormuz. Namun para analis menilai skenario tersebut dapat mengubah dinamika konflik secara signifikan. Analis Control Risks, Cormac McCarry, menyebut dampaknya dapat berlangsung lama jika ranjau laut benar-benar digunakan. “Jika ranjau laut dipasang, akan membutuhkan waktu lama untuk menanganinya. Di titik itu kita bisa melihat kerusakan yang berlangsung berbulan-bulan,” ujarnya.

Ancaman Konflik Energi Global dari Ketegangan Hormuz

Pelaku pasar energi kini mencermati perkembangan konflik dalam beberapa hari ke depan. Lamanya gangguan di Selat Hormuz dinilai akan menentukan besarnya dampak terhadap pasar energi global.

Seorang eksekutif senior dari perusahaan perdagangan komoditas Vitol menilai risiko geopolitik saat ini belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan harga minyak. “Saya sangat khawatir. Risiko ini saat ini masih terlalu diremehkan oleh pasar minyak,” ujarnya.

Ia juga menyinggung salah satu pandangan yang beredar di kalangan analis energi mengenai strategi Iran. Menurutnya, terdapat teori bahwa Iran lebih dulu menggunakan rudal dan drone lama untuk menguras sistem pertahanan udara lawan.

“Teori yang banyak dipercaya adalah Iran menggunakan rudal dan drone lama terlebih dahulu untuk menguras pertahanan udara lawan. Jika benar begitu, respons utama mereka sebenarnya belum dimulai,” katanya.

Apabila skenario tersebut terjadi, konflik di kawasan Teluk berpotensi meluas ke jalur energi global. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan energi dunia serta berdampak pada harga bahan bakar dan biaya energi di berbagai negara.

Iklan