Harga Minyak Dunia Melemah, Pasar Cermati Venezuela, Rusia–Ukraina, dan Surplus Global
Harga minyak dunia melemah seiring kekhawatiran surplus pasokan global dan prospek melemahnya permintaan. Tekanan datang dari isu Venezuela, peluang damai Rusia–Ukraina, serta data ekonomi China yang mengecewakan.
Pergerakan harga minyak dunia Brent dan WTI di pasar global (Sumber:Antara)
Emitenhub - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (15/12/2025) seiring pasar menimbang gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela dengan prospek kelebihan pasokan global, serta peluang tercapainya kesepakatan damai Rusia–Ukraina.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent ditutup turun 56 sen atau 0,92% ke level US$60,56 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 62 sen atau 1,08% menjadi US$56,82 per barel.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan dari pekan sebelumnya, di mana kedua kontrak acuan anjlok lebih dari 4% seiring meningkatnya ekspektasi surplus pasokan minyak global pada 2026.
Ekspor minyak Venezuela tercatat turun tajam setelah Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker pekan lalu serta menjatuhkan sanksi baru terhadap perusahaan pelayaran dan kapal yang berbisnis dengan produsen minyak Amerika Latin tersebut. Data pelayaran dan sumber maritim menunjukkan kondisi ini turut mengganggu distribusi minyak Venezuela ke pasar global.
Reuters melaporkan, pemerintah AS berencana mencegat lebih banyak kapal pengangkut minyak Venezuela, sehingga meningkatkan tekanan terhadap Presiden Nicolas Maduro. Pada saat yang sama, perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, melaporkan mengalami serangan siber yang memaksa sejumlah tanker yang dijadwalkan memuat minyak berbalik arah di tengah eskalasi ketegangan.
Analis PVM, John Evans, menilai tekanan terhadap harga minyak berpotensi lebih dalam jika bukan karena langkah AS yang meningkatkan tekanan terhadap Venezuela. “Penurunan harga minyak dan tercapainya level terendah bulanan pekan lalu kemungkinan akan lebih tajam jika tidak ada eskalasi isu Venezuela,” ujarnya.Meski demikian, dampak gangguan pasokan tersebut dinilai masih terbatas. Pasokan minyak yang melimpah, termasuk volume yang sudah dalam perjalanan menuju China sebagai pembeli terbesar minyak Venezuela, serta kondisi pasokan global yang longgar dan permintaan yang melemah, menahan penurunan harga agar tidak lebih dalam.
Di luar isu Venezuela, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik lainnya. Kemajuan pembicaraan damai Rusia–Ukraina turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dilaporkan membuka peluang untuk melepaskan ambisi bergabung dengan NATO demi mengakhiri konflik, menyusul perundingan intensif dengan pejabat Amerika Serikat di Berlin.
Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan pembicaraan dengan AS dalam dua hari terakhir berlangsung konstruktif dan menghasilkan kemajuan nyata. Jika kesepakatan damai tercapai, pasokan minyak Rusia yang saat ini dibatasi sanksi Barat berpotensi kembali meningkat di pasar global.
Tekanan tambahan datang dari melemahnya data ekonomi China. Output pabrik di Negeri Tirai Bambu melambat ke level terendah dalam 15 bulan pada November, sementara pertumbuhan penjualan ritel menjadi yang paling lemah sejak Desember 2022.
JP Morgan Commodities Research memperkirakan surplus minyak global yang mulai terlihat pada 2025 akan semakin melebar pada 2026 dan 2027. Hal ini seiring proyeksi pertumbuhan pasokan global yang diperkirakan melampaui pertumbuhan permintaan hingga tiga kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menambahkan tekanan di pasar saham AS serta data ekonomi China yang lebih lemah dari perkiraan turut memburuknya sentimen di pasar minyak. “Sentimen risk-off dan lemahnya data China jelas tidak membantu pergerakan harga minyak mentah,” ujarnya.

