Market

IPO 2026 Menguat, BEI Bidik Enam Emiten Lighthouse Tanpa BUMN

Sinyal IPO 2026 kian menguat setelah BEI membidik enam emiten lighthouse yang seluruhnya berasal dari sektor swasta. Di saat yang sama, OCBC Sekuritas telah mengantongi mandat IPO untuk tiga perusahaan pada Semester I/2026.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia dan papan perdagangan saham terkait rencana IPO 2026

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia dan papan perdagangan saham terkait rencana IPO 2026 (Foto:Investortrust)

Emitenhub.com - Sinyal penawaran umum perdana saham pada 2026 mulai terbaca dari arah regulator dan pelaku pasar. Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan pandangannya seiring OCBC Sekuritas yang turut mengungkap gambaran perusahaan yang berpeluang melantai tahun depan.

Dari sisi otoritas bursa, calon emiten swasta diposisikan sebagai penggerak utama pasar modal, sementara perusahaan pelat merah belum masuk antrean. BEI menargetkan enam perusahaan beraset besar atau berstatus lighthouse untuk masuk bursa melalui skema initial public offering (IPO).

Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan perusahaan yang masuk radar lighthouse saat ini masih berada pada fase persiapan teknis. Proses tersebut mencakup pemenuhan prasyarat sebelum masuk ke tahap penawaran.

Pada saat yang sama, Iman menegaskan bahwa daftar antrean perusahaan mercusuar tersebut belum memuat calon emiten dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kondisi ini menegaskan dominasi sektor swasta dalam peta IPO 2026 yang mulai terbentuk.

“Seharusnya dari BUMN belum ada, sejauh ini memang belum ada proses,” ujar Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Untuk 2026, BEI menargetkan total 555 pencatatan efek. Dari angka tersebut, sedikitnya 50 pencatatan diharapkan berasal dari penawaran umum perdana saham melalui skema IPO.

Selain mendorong penambahan emiten baru, BEI telah menyiapkan arah pengembangan pasar melalui masterplan periode 2026–2030. Dokumen tersebut memuat sasaran jangka panjang untuk membentuk pasar modal yang lebih inovatif, transparan, inklusif, dan terintegrasi secara global pada 2030.

Melalui peta jalan tersebut, Indonesia ditargetkan masuk dalam jajaran 10 besar pasar modal dunia, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi, sekaligus memperluas manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan di ekosistem pasar modal.

Absennya perusahaan pelat merah dalam antrean IPO kategori lighthouse pada 2026 disebut tidak akan menggerus kredibilitas pasar modal domestik. Fokus pada kesiapan emiten swasta dinilai tetap menjaga daya tarik dan kepercayaan investor.

Sebaliknya, situasi tersebut dipandang sebagai ruang bagi kemandirian sektor swasta dan kelompok konglomerasi untuk mengambil peran utama di pasar modal. Absennya BUMN dinilai membuka panggung bagi emiten non-pelat merah untuk tampil sebagai motor pertumbuhan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai keterlibatan BUMN memang berpotensi meningkatkan kapitalisasi pasar. Namun, ketiadaannya pada periode ini justru menggeser fokus pasar ke arah yang lebih sehat.

Perhatian investor kini tertuju pada kualitas fundamental perusahaan swasta, khususnya yang bergerak di sektor infrastruktur dan pertambangan. Kinerja operasional menjadi titik tekan utama.

“Fokus bursa kini tertuju pada kualitas emiten swasta di sektor infrastruktur dan pertambangan yang secara historis mampu mencatatkan pertumbuhan laba serta dividen yang sangat kompetitif dibandingkan entitas publik,” ujar Abida dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2026).

Ia menilai absennya perusahaan milik negara dari agenda IPO berkapitalisasi besar tahun ini lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi. Fokus tersebut dinilai memberi waktu penyesuaian yang diperlukan.

Kondisi ini membuka ruang bagi pemerintah dan manajemen BUMN untuk memperbaiki efisiensi internal serta menata kembali struktur keuangan, sebelum kembali mempersiapkan langkah masuk bursa pada periode berikutnya.

“Sementara kredibilitas IPO besar tetap terjaga melalui penguatan regulasi perlindungan investor oleh OJK dan kehadiran emiten swasta yang memiliki fundamental kuat dan transparansi tinggi,” kata Abida.

IPO Kuartal I/2026

Terpisah, PT OCBC Sekuritas menyampaikan telah mengantongi mandat untuk mengawal tiga perusahaan dalam rencana penawaran umum perdana saham pada 2026.

Direktur Utama OCBC Sekuritas Betty Goenawan mengungkapkan satu perusahaan dijadwalkan melantai pada kuartal I/2026, sementara dua perusahaan lainnya direncanakan menyusul pada kuartal II/2026.

“Mandat yang sudah pasti adalah tiga perusahaan. Semuanya akan dikerjakan tahapannya pada Semester I/2026. Pencatatan satu pada Kuartal I/2026, yang dua lagi pada Kuartal II/2026,” ujar Betty, Selasa (13/1/2026).

Betty menuturkan salah satu perusahaan yang akan melantai berasal dari sektor logistik. Secara keseluruhan, nilai penawaran saham tersebut dikategorikan sebagai IPO berukuran menengah atau medium size. Dari tiga mandat yang telah dikantongi, satu merupakan real IPO, sementara dua lainnya masuk dalam kategori strategic atau technical IPO.

“Kalau untuk semester II/2026 kami belum dapat mandat IPO, tetapi jika semuanya lancar akan ada tambahan dua perusahaan lagi pada semester II/2026,” terangnya.

OCBC Sekuritas menekankan pendekatan selektif dalam membawa perusahaan ke pasar modal. Fokus diarahkan pada emiten dengan fundamental yang kuat, kejelasan tujuan penggunaan dana, serta komitmen pemegang saham untuk tetap terlibat dalam pengembangan jangka panjang.

“Kami sangat ketat. Perusahaan harus memiliki visi jelas dan komitmen pemegang saham tetap stay setelah IPO. Bukan model perusahaan yang hanya mengejar dana, lalu owner-nya keluar,” tegasnya.

Sejumlah sektor yang dinilai masih prospektif pada tahun kuda api mencakup logistik, teknologi, data center, dan consumer goods. Sementara itu, sektor pertambangan dipandang kurang atraktif seiring semakin ketatnya regulasi environmental, social and governance (ESG).

Di sisi lain, OCBC Sekuritas menilai pasar saham Indonesia tetap ditopang fundamental yang kuat pada 2026. Namun, ketidakpastian geopolitik global, terutama yang bersumber dari Amerika Serikat dan China, disebut menjadi faktor risiko terbesar yang perlu dicermati investor.

Iklan