Wall Street Cetak Rekor Baru, Dow Jones dan S&P 500 Menguat di Tengah Rotasi Saham
Wall Street kembali mencetak rekor pada perdagangan Kamis (11/12/2025) setelah The Fed memangkas suku bunga. Dow Jones dan S&P 500 menembus level tertinggi, sementara Nasdaq tertekan akibat pelemahan saham teknologi dan rotasi investor.
Aktivitas perdagangan di Wall Street dengan pergerakan indeks Dow Jones dan S&P 500
Emitenhub - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street mencetak rekor baru pada penutupan perdagangan Kamis (11/12/2025) waktu setempat atau Jumat pagi (12/12/2025) WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 sama-sama menembus level tertinggi sepanjang sejarah.
Penguatan pasar terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan. Di sisi lain, investor mulai melakukan rotasi aset dengan mengalihkan dana dari saham teknologi yang telah reli tinggi ke saham-saham yang dinilai diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 646,26 poin atau 1,34%. Indeks yang beranggotakan 30 saham unggulan tersebut ditutup di level 48.704,01, dengan penguatan didorong antara lain oleh kenaikan saham Visa setelah mendapat peningkatan peringkat dari Bank of America.
Indeks S&P 500 (SPX) menguat tipis 0,21% dan ditutup di level 6.901,00, sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi justru melemah 0,25% ke posisi 23.593,86.
Pelemahan sektor teknologi terutama dipicu oleh tekanan pada saham Oracle. Saham perusahaan komputasi awan tersebut anjlok hampir 11%.
Penurunan tajam itu terjadi setelah Oracle merilis laporan pendapatan kuartalan yang berada di bawah ekspektasi. Selain itu, perusahaan menaikkan proyeksi belanja, sehingga memicu kekhawatiran investor terkait tingkat utang perseroan.
Laporan Oracle turut memicu perdebatan di pasar keuangan. Investor mulai mempertanyakan seberapa cepat perusahaan teknologi dapat memperoleh imbal hasil dari investasi kecerdasan buatan (AI), sehingga mendorong terjadinya rotasi saham secara signifikan.
Tekanan juga menjalar ke saham-saham berbasis AI lainnya. Saham Nvidia dan Broadcom masing-masing melemah lebih dari 1%, sementara saham siklikal seperti Home Depot justru mencatatkan penguatan.
Kepala Strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick, menilai kekhawatiran pasar terhadap Oracle dan sektor AI memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, besarnya komitmen investasi di sektor AI belum sepenuhnya diiringi kejelasan mengenai prospek pengembalian.
“Pasar khawatir dengan Oracle dan, lebih jauh lagi, dengan perdagangan AI secara umum, karena ada komitmen triliunan dolar di luar sana, tetapi jelas ada kesulitan dalam mencari tahu bagaimana ini akan terjadi, dan Oracle, sampai batas tertentu, bertindak seperti burung kenari di tambang batu bara,” kata Sosnick.
Ia menilai langkah rotasi yang dilakukan investor sudah tepat. Menurutnya, pasar memiliki alasan yang kuat untuk mulai menjauh dari perdagangan saham berbasis AI.
Sentimen negatif terhadap saham teknologi sempat menahan laju penguatan pasar. Padahal, sehari sebelumnya S&P 500 nyaris mencetak rekor setelah Federal Reserve memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya sepanjang tahun ini, dengan kisaran suku bunga pinjaman ditetapkan di level 3,5%–3,75%.
Di sisi lain, penurunan suku bunga menjadi sentimen positif bagi saham berkapitalisasi kecil. Biaya pendanaan emiten kecil yang sangat bergantung pada suku bunga pasar mendorong indeks Russell 2000 mencetak rekor tertinggi harian sekaligus penutupan pada perdagangan Kamis.
Sosnick juga memperkirakan potensi terjadinya “Santa Claus rally” menjelang akhir tahun. Ia menilai momentum tersebut berpeluang mendorong S&P 500 menembus level 7.000, meski tetap diiringi sejumlah risiko.
“Pada akhirnya, saya harus sedikit khawatir, karena jika tenaga keluar dari perdagangan AI, ada banyak pekerjaan berat yang harus dilakukan oleh hal lain,” ujar Sosnick kepada CNBC.
Ia menutup dengan peringatan bagi investor setelah reli pasar yang kuat dalam beberapa tahun terakhir. “Setelah tiga tahun pasar bullish yang besar, saya pikir ada beberapa elemen risiko yang kurang dihargai,” pungkasnya.


