News

Wall Street Beragam, Isu Bubble AI Tekan Saham Teknologi dan Dorong Sektor Pertahanan

Pergerakan Wall Street ditutup bervariasi di tengah tekanan pada saham teknologi akibat kekhawatiran valuasi AI yang kian mahal. Sebaliknya, saham sektor pertahanan menguat seiring wacana kenaikan anggaran militer Amerika Serikat.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Wall Street ditutup bervariasi di tengah tekanan saham teknologi akibat isu bubble AI

Wall Street ditutup bervariasi di tengah tekanan saham teknologi akibat isu bubble AI

Emitenhub.com - Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis waktu setempat, dipengaruhi pelemahan saham Nvidia dan sejumlah saham teknologi lainnya. Di sisi lain, saham-saham sektor pertahanan menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan peningkatan anggaran militer AS hingga USD1,5 triliun.

Mengacu pada laporan Strait Times, indeks S&P 500 menguat tipis 0,01 persen dan berakhir di level 6.921,45. Sementara itu, Nasdaq melemah 0,44 persen ke posisi 23.480,02, sedangkan Dow Jones Industrial Average mencatat kenaikan 0,55 persen ke level 49.266,11.

Saham-saham chip memori terkoreksi setelah mencatatkan reli pada periode sebelumnya. Investor mulai bersikap lebih selektif terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) seiring valuasi yang telah melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Nvidia tercatat turun 2,2 persen, diikuti Broadcom yang melemah 3,2 persen dan Microsoft yang terkoreksi 1,1 persen. Tekanan juga terlihat pada saham produsen memori, dengan SanDisk turun 5,4 persen, Western Digital merosot 6,1 persen, dan Seagate anjlok 7,7 persen.

Saham Alphabet menguat 1,1 persen, sehari setelah induk Google tersebut melampaui Apple dalam kapitalisasi pasar untuk pertama kalinya sejak 2019 dan menempati posisi sebagai perusahaan dengan valuasi terbesar kedua di Amerika Serikat. Sebaliknya, saham Apple tercatat melemah 0,5 persen.

Di sisi lain, saham-saham sektor pertahanan bergerak menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa anggaran militer Amerika Serikat untuk 2027 seharusnya mencapai USD1,5 triliun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan anggaran sebesar USD901 miliar yang sebelumnya disetujui Kongres untuk 2026.

Saham-saham sektor pertahanan mencatatkan penguatan signifikan. Lockheed Martin melonjak 4,3 persen, Northrop Grumman naik 2,4 persen, dan Kratos Defence melesat 13,8 persen. Sebelumnya, sejumlah saham pertahanan sempat tertekan setelah Trump mengisyaratkan larangan pembagian dividen atau pembelian kembali saham bagi kontraktor pertahanan hingga percepatan produksi senjata dilakukan.

Di sisi pasar secara keseluruhan, indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average sempat mencetak rekor intraday pada 7 Januari. Valuasi pasar masih berada pada level relatif tinggi menjelang musim laporan keuangan kuartal IV, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Berdasarkan data LSEG, indeks S&P 500 diperdagangkan di kisaran 22 kali estimasi laba, turun dari sekitar 23 kali pada November. Meski mengalami penurunan, valuasi tersebut masih berada di atas rata-rata lima tahun yang berada di level 19 kali.

Jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran tercatat meningkat secara moderat pada pekan terakhir, meski permintaan tenaga kerja secara umum masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Perkembangan ini sejalan dengan rilis data ketenagakerjaan ADP dan JOLTS yang dipublikasikan sebelumnya.

Pelaku pasar kini mencermati laporan nonfarm payrolls AS untuk Desember yang dijadwalkan rilis pada 9 Januari. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi paling dinantikan, terutama setelah berakhirnya penutupan pemerintahan AS terpanjang dalam sejarah.

Di sisi lain, Fitch menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 2,1 persen pada 2025 dan sekitar 2 persen pada 2026, setelah memperhitungkan masuknya data ekonomi yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan pada 2025.

Iklan