Saham

Saham AMMN Mulai Dilirik Asing, Prospek Produksi dan Hilirisasi Jadi Katalis

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mulai kembali menarik minat investor asing seiring pergeseran ekspektasi pasar terhadap prospek produksi dan transformasi bisnis perseroan. Fase peningkatan produksi Batu Hijau dan operasional smelter menjadi katalis utama perbaikan sentimen.

2 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Pergerakan saham AMMN dan prospek produksi tembaga emas

Aktivitas tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk di Batu Hijau dan proyek Elang(Foto:AMMN)

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mulai menunjukkan pemulihan dalam sebulan terakhir setelah sempat tertekan. Emiten tambang tembaga dan emas yang terafiliasi dengan Grup Salim ini kembali menarik perhatian investor institusi global seiring perubahan ekspektasi pasar terhadap prospek kinerja operasional perseroan ke depan.

Pada perdagangan Jumat (19/12/2025), investor asing tercatat melakukan akumulasi beli bersih sebesar Rp 45,79 miliar pada saham AMMN. Secara kumulatif dalam sebulan terakhir, total net buy asing mencapai Rp 57,75 miliar dan mendorong harga saham AMMN naik tipis 0,4%.

Meski demikian, secara historis saham AMMN masih mencatat koreksi cukup dalam, yakni turun 21,67% dalam tiga bulan terakhir.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai kembalinya minat investor asing lebih mencerminkan pergeseran ekspektasi pasar dibandingkan perbaikan kinerja jangka pendek. Menurutnya, pasar menilai tekanan jual yang terjadi pada November lalu—dipicu koreksi harga komoditas serta kekhawatiran normalisasi margin—telah mencapai titik jenuh.

“Memasuki Desember, sentimen mulai bergeser karena pasar menilai tekanan kinerja tersebut bersifat sementara dan sebagian besar sudah tercermin dalam harga saham,” jelas Ekky kepada KONTAN, Rabu (17/12/2025).

Data Bloomberg menunjukkan bahwa manajer investasi global seperti BlackRock Inc, Dimensional Fund Advisors LP, dan American Century Cos Inc mulai melakukan akumulasi pada Desember ini. Ekky menilai aksi tersebut berpotensi berlanjut secara bertahap dengan horizon investasi menengah hingga panjang.

Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan, menilai AMMN saat ini berada dalam fase krusial. Setelah melalui periode panjang investasi besar dan transisi operasional, perhatian pasar mulai beralih ke realisasi peningkatan produksi.

Titik balik utama AMMN dinilai terletak pada dimulainya phase 8 di Batu Hijau. Fase ini diperkirakan mendorong lonjakan volume produksi seiring perbaikan kadar bijih (ore grade) dan peningkatan kapasitas pengolahan.

Andreas menegaskan bahwa pemulihan volume produksi tersebut akan menjadi fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar rebound jangka pendek.

Transformasi bisnis juga menjadi daya tarik utama bagi AMMN. Beroperasinya smelter tembaga mengubah perseroan dari sekadar eksportir konsentrat menjadi produsen yang terintegrasi. “Dengan meningkatnya utilisasi smelter, AMMN mulai menikmati nilai tambah dari hilirisasi, yang pada akhirnya memperkuat margin dan stabilitas kinerja,” ujar Andreas.

Rampungnya proyek-proyek strategis tersebut turut mengubah profil risiko keuangan perseroan. Dengan berakhirnya fase belanja modal (capital expenditure) yang besar, arus kas AMMN diperkirakan akan menjadi lebih sehat, sehingga kenaikan laba operasional dapat langsung tercermin pada kas internal dan membuka ruang penurunan rasio utang secara bertahap.

Untuk menjaga kesinambungan bisnis pasca-Batu Hijau, AMMN juga memiliki Proyek Elang sebagai penopang. Proyek ini memberikan visibilitas produksi jangka panjang yang dinilai krusial bagi prospek dan valuasi saham AMMN ke depan.

Iklan