Saham

Saham BUMI dan DEWA Bangkit Tajam, Aksi Korporasi dan Kredit Rp1 Triliun Jadi Katalis

Saham BUMI dan DEWA kompak menguat signifikan setelah sempat tertekan aksi jual asing. Penguatan didukung sentimen positif dari akuisisi aset emas oleh BUMI serta fasilitas kredit Rp1 triliun yang diperoleh DEWA dari BCA.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Penguatan saham BUMI dan DEWA didorong aksi korporasi dan sentimen positif

Saham BUMI melonjak dan berpeluang masuk indeks MSCI Februari 2026 (Foto:BUMI)

Emitenhub - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik pada Senin (22/12/2025). Kedua emiten ini milik Grup Bakrie dan sebagian dikuasai Grup Salim. Sebelumnya, mereka menjadi sasaran aksi jual asing terbesar.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.42 WIB, saham BUMI naik 10,47%. Saat ini, harga sahamnya adalah Rp 380. Nilai transaksi mencapai Rp 2,44 triliun. Sejalan dengan itu, saham DEWA menguat 5,50% ke Rp 574 per saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 452,14 miliar.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai secara teknikal saham BUMI dan DEWA masih memiliki ruang penguatan.

“BUMI dan DEWA memiliki target teknikal yang masih berada di atas area konsolidasi saat ini,” ujar Michael, Senin (22/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa pergerakan saham BUMI akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menembus level kunci. “Apabila BUMI mampu melewati level 400, maka target kenaikan selanjutnya berada di kisaran 450,” ujarnya.

Sementara untuk saham DEWA, Michael menuturkan bahwa jika harga mampu menembus level 645, maka target kenaikan berikutnya berpotensi menuju area 750.

BUMI juga mencatatkan aksi korporasi terbaru dengan mengakuisisi 5.734.770 saham Jubilee Metals Limited (JML) atau setara 64,98%. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp 346,93 miliar atau setara dengan 31,47 juta dolar Australia dan dilaksanakan pada 18 Desember 2025.

“Perseroan telah melakukan transaksi pengambilalihan atas sebanyak 3.312.632 saham baru yang diterbitkan oleh JML, perusahaan yang didirikan di Australia Barat, dengan nilai transaksi sebesar Rp 346.936.545.540 atau setara 31.470.004 dolar Australia,” ujar Direktur BUMI RA Sri Dharmayanti dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/12/2025).

Sri menyampaikan bahwa transaksi tersebut merupakan langkah strategis yang sejalan dengan rencana transformasi perseroan serta menjadi bagian dari program diversifikasi usaha BUMI di luar sektor batu bara.

Presiden Direktur BUMI, Adika Nuraga Bakrie, menjelaskan bahwa akuisisi JML selaras dengan strategi diversifikasi perseroan yang menargetkan komposisi batu bara termal dan nontermal sebesar 50:50 pada 2031. Transformasi ini dirancang untuk memperkuat ketahanan perseroan dalam menghadapi siklus komoditas.

Ia menyampaikan bahwa JML memiliki aset emas berkadar tinggi yang siap memasuki tahap produksi dalam waktu dekat dan berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perseroan. Kehadiran aset emas tersebut melengkapi platform tembaga yang sebelumnya telah diakuisisi.

“Kombinasi kedua aset ini memperkuat peta jalan diversifikasi BUMI serta meningkatkan kemampuan perseroan dalam menghasilkan kinerja yang lebih stabil di berbagai siklus komoditas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/12/2025).

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menandatangani perjanjian fasilitas kredit dengan total nilai Rp 1 triliun bersama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 19 Desember 2025.

Direktur sekaligus Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi, menyampaikan bahwa fasilitas kredit tersebut terdiri dari dua jenis, yakni untuk kebutuhan modal kerja dan investasi.

Pertama, perseroan memperoleh fasilitas kredit modal kerja sebesar Rp 850 miliar dengan jangka waktu dua tahun sejak penandatanganan perjanjian dan suku bunga efektif 7% per tahun.

“Fasilitas kredit modal kerja ini akan digunakan untuk pengambilalihan penuh pekerjaan subkontraktor di proyek PT Kaltim Prima Coal, peningkatan volume pekerjaan di proyek PT Arutmin Indonesia, serta mendukung pengembangan proyek perseroan ke depan,” ujarnya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/12/2025).

Kedua, perseroan memperoleh fasilitas kredit investasi sebesar Rp 150 miliar dengan jangka waktu lima tahun dan suku bunga efektif 7% per tahun.

“Fasilitas pinjaman kredit investasi tersebut akan digunakan untuk mendukung pembelian unit alat-alat berat baru,” ujarnya.

Iklan