Saham PANI Tertekan Usai Rights Issue, Perkuat Kendali atas CBDK
Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) melemah pasca berakhirnya perdagangan HMETD seiring aksi rights issue. Meski tertekan secara teknikal, PANI dinilai berada pada fase strategis dengan peningkatan kepemilikan signifikan di PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK).
Pergerakan saham PANI usai rights issue dan aksi akuisisi CBDK (Foto: PIK 2)
Emitenhub - Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turun dalam perdagangan. Ini melanjutkan tren penurunan yang sudah ada. Penurunan ini terjadi setelah masa perdagangan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau PANI-R berakhir pada 18 Desember 2025.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 10.27 WIB, saham PANI turun 3,22%. Harga saham kini berada di Rp 12.775 per saham. Nilai transaksi mencapai Rp 99,80 miliar.
Dengan pelemahan tersebut, saham PANI tercatat turun 4,84% dalam sepekan dan terkoreksi 8,59% dalam sebulan terakhir. Sepanjang 2025, saham PANI telah anjlok 19,78%, sehingga berpotensi mengakhiri kinerja fenomenal yang berlangsung sejak 2021.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai saham PANI kini berada pada fase krusial pasca-rights issue. “Setelah rights issue, saham PANI memiliki free float di kisaran 15,70% ke atas. Artinya, free float market cap (FFMCAP) PANI saat ini berada di sekitar Rp 37,64 triliun,” ujar Michael, Senin (22/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat PANI telah memenuhi kriteria untuk masuk ke dalam indeks global. “Sesuai dengan aturan MSCI, saham dengan free float di atas 15% memiliki syarat minimum kapitalisasi free float sebesar US$ 1,768 miliar. Dengan demikian, PANI dinilai sudah eligible untuk masuk ke indeks MSCI tanpa perlu kenaikan harga saham tambahan,” lanjutnya.
Terkait pergerakan harga saham belakangan ini, Michael menilai tekanan yang terjadi lebih bersifat teknikal. “Mengenai potensi koreksi, tampaknya investor melakukan aksi sell off karena faktor tersebut,” ujarnya.
Di sisi lain, Michael mengingatkan bahwa dana hasil rights issue PANI memiliki tujuan strategis yang jelas bagi pengembangan bisnis perseroan.
“Perlu dicermati bahwa dana hasil rights issue PANI akan digunakan untuk membeli saham anak usahanya, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Hal ini menjelaskan pergerakan harga yang kontras antara kedua emiten tersebut,” ujar Michael.
Dari sisi teknikal, Michael menyoroti sejumlah level penting yang perlu diperhatikan investor. Ia menyebut saham PANI memiliki area support kuat di level 13.100. Apabila level tersebut ditembus, PANI berpotensi menguji area selanjutnya di kisaran 12.150.
Sejalan dengan strategi tersebut, PANI menambah kepemilikan saham di PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dengan membeli sekitar 2,3 miliar saham dari PT Agung Sedayu dan PT Tunas Mekar Jaya.
Transaksi tersebut dilakukan pada periode 15–19 Desember 2025 dengan harga rata-rata Rp 6.450 per saham, sehingga total nilai pembelian mencapai sekitar Rp 14,6 triliun.
Setelah aksi korporasi ini, porsi kepemilikan langsung PANI di CBDK meningkat signifikan dari 45,9% menjadi 85,95%. Sementara itu, kepemilikan PT Agung Sedayu dan PT Tunas Mekar Jaya masing-masing menyusut dari 22,05% menjadi 2,54% dan dari 1,51%.
Sebelumnya, PANI telah menyampaikan bahwa mayoritas dana hasil rights issue akan digunakan untuk membeli hingga 44,1% saham CBDK yang dimiliki PT Agung Sedayu dan PT Tunas Mekar Jaya. Langkah tersebut menegaskan strategi PANI untuk memperkuat kendali atas CBDK.
Sebagai informasi, PANI tengah melaksanakan penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) II atau rights issue guna memperkuat struktur permodalan serta mendukung ekspansi usaha perseroan.
Dalam aksi korporasi tersebut, PANI menawarkan hingga 1.212.524.098 saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham, setara 6,69% dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan PMHMETD III.
Saham baru tersebut dilepas dengan harga pelaksanaan Rp 12.975 per saham, sehingga total dana yang berpotensi dihimpun mencapai sekitar Rp 15,73 triliun.
Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, perdagangan HMETD di Bursa Efek Indonesia dan pasar negosiasi berlangsung pada 12–18 Desember 2025. Adapun pelaksanaan HMETD dan pembayaran saham baru dilakukan pada 12–22 Desember 2025, dengan batas akhir pembayaran oleh pembeli siaga pada 23 Desember 2025.
Perseroan juga menetapkan tanggal pencatatan saham baru hasil rights issue pada 23 Desember 2025.


