Saham

Henan Putihrai Naikkan Target Harga Saham DEWA ke Rp750, Ekspansi Bengalon Jadi Katalis

PT Darma Henwa Tbk bersiap memasuki fase ekspansi baru dengan pipeline kontrak yang semakin jelas dan pengambilalihan penuh site Bengalon. Seiring prospek tersebut, Henan Putihrai Sekuritas menaikkan target harga saham DEWA menjadi Rp750 dengan rekomendasi beli.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Ekspansi tambang Darma Henwa dan prospek saham DEWA

Pergerakan saham DEWA di tengah aksi jual investor dan agenda rebalancing MSCI Indonesia(Sumber:Dewa)

Emitenhub - PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bersiap memasuki fase ekspansi baru seiring terbentuknya pipeline kontrak baru yang semakin jelas. Perseroan juga mulai mengambil alih penuh operasional tambang di site Bengalon milik KPC setelah berakhirnya kontrak subkontraktor pada akhir tahun fiskal 2025, dengan proses pengosongan lokasi dijadwalkan pada kuartal I-2026.

Sejumlah langkah tersebut mendorong Henan Putihrai Sekuritas merevisi naik target harga saham DEWA dari Rp500 menjadi Rp750 dengan rekomendasi beli. Dengan target harga terbaru tersebut, saham DEWA memiliki potensi kenaikan lebih dari 28 persen.

Analis Henan Putihrai Sekuritas, Irsyady Hanief, menyampaikan manajemen DEWA memproyeksikan belanja modal (capex) sekitar Rp1 triliun pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan 30–35 unit truk baru serta penataan ulang site Bengalon guna mendukung operasional armada tambang berbasis kendaraan listrik (EV).

Proses transisi diperkirakan berlangsung sekitar enam bulan, mencakup tahap pembersihan dan pembangunan ulang sebelum operasional penuh berjalan. Pada fase tersebut, perseroan diproyeksikan menyerap sekitar 790 tenaga kerja baru.

Selain Bengalon, DEWA juga membidik peluang kontrak tambahan, termasuk satu kontrak dari Arutmin serta dua peluang lain di luar ekosistem KPC–Arutmin. Manajemen memperkirakan setiap penambahan kapasitas pengangkutan overburden sebesar 50 juta bcm akan membutuhkan biaya modal. Biaya untuk peralatan diperkirakan sekitar Rp3,4–4,0 triliun. Ini sesuai dengan riset Henan Putihrai Sekuritas di Jakarta pekan lalu.

Untuk mendukung rencana ekspansi tersebut, perseroan tengah mengevaluasi penggunaan instrumen utang jangka pendek serta menjajaki pembentukan sindikasi pinjaman guna memperkuat likuiditas. Pendanaan ini disiapkan untuk menopang kebutuhan modal kerja maupun belanja modal, seiring membaiknya fleksibilitas neraca keuangan melalui proses reklasifikasi ekuitas yang sedang berjalan.

Dari sisi kinerja, DEWA mencatatkan visibilitas laba yang semakin kuat seiring potensi tambahan kontrak. Kondisi ini membuat Henan Putihrai Sekuritas menaikkan target pengangkatan overburden perusahaan. Target baru menjadi sekitar 158–164 juta bcm untuk periode 2026–2027. Hal ini berdampak pada proyeksi pendapatan yang naik 10,9 persen pada 2026 dan 16,5 persen pada 2027.

Meski demikian, kebutuhan belanja modal peralatan yang besar diperkirakan menahan ekspansi margin, sehingga pertumbuhan profitabilitas dinilai tetap moderat. Henan Putihrai memperkirakan EBITDA DEWA pada 2026 akan 31,7 persen lebih rendah dari konsensus. Sementara itu, laba bersih diperkirakan 18,4 persen lebih rendah dari konsensus. Namun, estimasi pendapatan masih sejalan.

Sementara itu, proses reklasifikasi ekuitas DEWA untuk penyesuaian saldo rugi ditahan sudah mendapat persetujuan prinsip. Saat ini, proses ini sedang ditelaah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan auditor eksternal.

Penyesuaian tersebut berkaitan dengan reklasifikasi selisih kurs yang sebelumnya diakui sebagai keuntungan valuta asing, meskipun kegiatan operasional perseroan bersifat domestik.

OJK mencatat nilai penyesuaian terbaru mencapai Rp2,2 triliun dan manajemen DEWA optimistis proses ini akan memperoleh persetujuan final. Sejalan dengan itu, proses penurunan nilai aset tidak produktif ditargetkan rampung pada kuartal IV-2025.

Sebelumnya, Mandiri Sekuritas menaikkan estimasi laba DEWA untuk periode 2026–2027 sebesar 10,1 persen hingga 11,7 persen. Sejalan dengan itu, target harga saham DEWA direvisi naik menjadi Rp700 per saham dengan rekomendasi tetap beli, sementara saham DEWA terakhir ditutup di level Rp560.

Mandiri Sekuritas menilai prospek kinerja Darma Henwa semakin solid seiring outlook produksi yang lebih kuat dan mulai bertumbuhnya kontrak baru pada 2026. Kontrak-kontrak tersebut diperkirakan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja operasional dan keuangan perseroan dalam jangka menengah.

Iklan