Saham

Saham DEWA Melonjak ke Level Tertinggi 18 Tahun, HP Sekuritas Naikkan Target Harga

Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melonjak ke level tertinggi sejak 2007 seiring sentimen positif atas ekspansi bisnis dan perbaikan struktur permodalan. Henan Putihrai Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga dinaikkan menjadi Rp750 per saham.

4 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Pergerakan saham DEWA di Bursa Efek Indonesia seiring rekomendasi beli analis

Pergerakan saham DEWA di Bursa Efek Indonesia seiring rekomendasi beli analis

Emitenhub - Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik pada perdagangan Senin (29/12/2025). Kenaikan ini didorong oleh sentimen pasar yang lebih baik. Hal ini terkait dengan prospek ekspansi dan perbaikan struktur permodalan emiten kontraktor tambang Grup Bakrie.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.18 WIB, saham DEWA melesat 17,86 persen ke level Rp660 per saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp1,17 triliun.

Capaian tersebut menempatkan saham DEWA di level tertinggi sejak Desember 2007.

Sepanjang 2025, saham DEWA bersama sejumlah saham Grup Bakrie lainnya mencatatkan reli signifikan, dengan kenaikan harga mencapai 490 persen.

Kabar terbaru menyebutkan PT CGS International Sekuritas Indonesia memborong sekitar 680,3 juta saham DEWA pada 11 Desember 2025. Saham tersebut dibeli di harga Rp264 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp179,6 miliar sebagai bagian dari skema repurchase agreement (repo).

Seiring transaksi tersebut, porsi kepemilikan saham PT CGS International Sekuritas Indonesia di DEWA meningkat dari 3,86 persen menjadi 5,53 persen.

Sebelumnya, DEWA menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit dengan total nilai Rp1 triliun bersama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 19 Desember 2025.

Direktur sekaligus Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi, menyampaikan bahwa fasilitas kredit tersebut terdiri atas dua jenis, yakni untuk kebutuhan modal kerja dan investasi.

Fasilitas pertama berupa kredit modal kerja senilai Rp850 miliar dengan tenor dua tahun sejak penandatanganan perjanjian. Suku bunga yang dikenakan sebesar 7 persen per tahun secara efektif.

“Fasilitas kredit modal kerja akan digunakan untuk mengambil alih pekerjaan subkontraktor di proyek PT Kaltim Prima Coal. Ini juga untuk meningkatkan volume pekerjaan di proyek PT Arutmin Indonesia. Selain itu, fasilitas ini mendukung pengembangan proyek perusahaan di masa depan,” kata Mukson dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/12/2025).

Selain itu, DEWA juga memperoleh fasilitas kredit investasi senilai Rp150 miliar dengan tenor lima tahun dan suku bunga efektif sebesar 7 persen per tahun.

“Fasilitas pinjaman kredit investasi akan digunakan untuk mendukung pembelian unit alat-alat berat baru,” ujar Mukson.

Prediksi Terbaru untuk Saham DEWA

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terus mematangkan pipa kontrak baru seiring rencana ekspansi operasional pada 2026.

Dalam riset Henan Putihrai (HP) Sekuritas yang terbit pada 19 Desember 2025, DEWA diperkirakan akan menguasai operasi tambang Bengalon. Tambang ini milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan kontrak subkontraktor akan berakhir pada akhir 2025. Area tambang tersebut dijadwalkan mulai dikosongkan pada kuartal I-2026.

Selain Bengalon, manajemen juga mengungkapkan sejumlah peluang kontrak lainnya, termasuk satu proyek dari PT Arutmin Indonesia serta dua potensi kontrak di luar ekosistem KPC–Arutmin.

Untuk mendukung rencana ekspansi, DEWA sedang mengevaluasi berbagai instrumen utang jangka pendek. Mereka juga mempertimbangkan opsi pembiayaan melalui sindikasi pinjaman. Tujuannya adalah untuk memperkuat likuiditas. Ini penting untuk kebutuhan modal kerja dan belanja modal (capex).

Langkah tersebut didukung oleh fleksibilitas neraca yang membaik seiring proses reklasifikasi ekuitas yang masih berlangsung.

Henan Putihrai (HP) Sekuritas menilai prospek kinerja DEWA ke depan semakin jelas seiring meningkatnya visibilitas pendapatan dari tambahan kontrak. Proyeksi telah diperbarui dengan asumsi volume pengupasan tanah penutup yang lebih tinggi. Volume ini diperkirakan sekitar 158–164 juta bcm untuk periode 2026–2027. Hal ini akan mendukung outlook pendapatan perusahaan.

Meski demikian, peningkatan laba diperkirakan masih terbatas. Penurunan biaya subkontrak memang mendukung perbaikan laba kotor, namun kebutuhan belanja modal (capex) yang lebih besar untuk pengadaan alat berat berpotensi menahan ekspansi margin.

Dengan demikian, HP Sekuritas tetap mengambil sikap konservatif terhadap laba DEWA. Estimasi laba 2026 masih berada di bawah konsensus pasar, meskipun proyeksi pendapatan dinilai relatif sejalan.

Dari sisi struktur permodalan, proses reklasifikasi ekuitas DEWA terus berlanjut. Penyesuaian saldo rugi ditahan telah memperoleh persetujuan prinsip dan saat ini tengah ditelaah bersama oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta auditor eksternal.

Dalam tinjauan terbaru, OJK menetapkan penyesuaian selisih kurs sebesar Rp2,2 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp2,1 triliun. Manajemen optimistis persetujuan final dapat diperoleh seiring penyelesaian proses impairment aset tidak produktif yang ditargetkan rampung pada kuartal IV-2025.

Henan Putihrai (HP) Sekuritas menilai langkah-langkah tersebut akan memperkuat fleksibilitas jangka panjang DEWA. Selain itu, kondisi tersebut membuka peluang aksi korporasi ke depan, termasuk penerbitan obligasi untuk mendanai ekspansi maupun pembagian dividen guna meningkatkan kepercayaan investor.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Henan Putihrai (HP) Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham DEWA dengan menaikkan target harga menjadi Rp750 per saham dari sebelumnya Rp500.

Target tersebut ditetapkan seiring optimisme terhadap proses pemulihan kinerja DEWA yang ditopang oleh perbaikan neraca serta akselerasi pertumbuhan bisnis perseroan.

Iklan