Saham

Investor Global Borong Saham GOTO, Sinyal Apa untuk Arah Harga Selanjutnya?

Sejumlah investor institusional global tercatat menambah kepemilikan saham GOTO di tengah tekanan kinerja harga. Artikel ini membahas pola akumulasi investor besar, kontribusi GOTO terhadap IHSG, serta kaitannya dengan arus dana asing di pasar saham Indonesia.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Akumulasi saham GOTO oleh investor institusional global

Akumulasi saham GOTO oleh investor institusional global

Emitenhub.com - Sejumlah investor institusional global tercatat melakukan akumulasi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Data menunjukkan adanya peningkatan kepemilikan dari pelaku investasi berskala besar dalam periode tertentu.

Berdasarkan data terminal Bloomberg, BlackRock Inc. tercatat menaikkan kepemilikan saham GOTO dari 30,28 miliar saham pada November 2025 menjadi 30,88 miliar saham pada Desember 2025. Artinya, terdapat penambahan sekitar 600,26 juta saham dalam satu bulan.

Dengan peningkatan tersebut, BlackRock menguasai sekitar 2,71% dari total saham beredar GOTO. Sementara itu, cost basis atau rata-rata harga perolehan saham GOTO oleh BlackRock berada di kisaran Rp99,56 per saham.

Di sisi lain, Goldman Sachs Group Inc. juga tercatat melakukan akumulasi meski dalam skala terbatas. Kepemilikan saham Goldman meningkat dari 3,77 miliar saham menjadi 3,78 miliar saham pada Desember 2025, atau bertambah sekitar 14,20 juta saham.

Porsi kepemilikan tersebut setara dengan sekitar 0,33% dari total saham beredar GOTO. Berdasarkan catatan Bloomberg, rata-rata modal yang dikeluarkan Goldman untuk saham GOTO berada di kisaran Rp63,22 per saham.

Sementara itu, dari kawasan Eropa, Crédit Agricole Group muncul sebagai salah satu investor dengan akumulasi bulanan yang relatif signifikan. Kepemilikan grup perbankan asal Prancis tersebut meningkat dari 4,45 miliar saham pada November 2025 menjadi 4,65 miliar saham pada Desember 2025, atau bertambah sekitar 204,09 juta saham.

Dengan komposisi tersebut, Crédit Agricole menguasai sekitar 0,41% saham GOTO. Adapun cost basis per saham yang tercatat berada di kisaran Rp78,98.

Adapun, harga saham GoTo tercatat melemah sekitar 8,57% secara year-to-date (YtD) ke level Rp64. Tekanan tersebut mencerminkan kinerja harga yang masih tertinggal dibandingkan pergerakan pasar secara keseluruhan.

Emiten teknologi ini juga masuk dalam 10 besar saham dengan kontribusi negatif terbesar terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang 2025. Berdasarkan data Bloomberg, kinerja saham GOTO pada periode tersebut menekan laju IHSG sekitar 13,64 poin.

Meski demikian, pergerakan saham GoTo sempat menunjukkan pembalikan arah. Pada awal 2026, saham perseroan tercatat menguat 7,81% dan memberikan kontribusi sekitar 9,87 poin terhadap IHSG, yang bergerak naik 1,17% ke level 8.748,13.

Pada awal tahun tersebut, arus dana investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia atau mencatatkan foreign inflow. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi beli investor asing sebesar Rp6,13 triliun, sementara transaksi jual mencapai Rp5,07 triliun.

Kondisi tersebut menghasilkan beli bersih (net buy) investor asing senilai Rp1,06 triliun atau setara sekitar US$63,53 juta. Angka ini mencerminkan minat beli yang lebih dominan dibandingkan tekanan jual dari investor global.

Secara lebih rinci, saham dengan nilai pembelian terbesar oleh investor asing pada perdagangan perdana periode tersebut dipimpin oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan volume transaksi mencapai 2,21 miliar saham. Selanjutnya diikuti oleh PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) sebanyak 739,73 juta saham, PT Humpus Maritim Internasional Tbk. (HUMI) 330,48 juta saham, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) 280,9 juta saham, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dengan volume 216,6 juta saham.

Iklan