Saham

Saham BUMI Kebanjiran Investor Baru, Berpeluang Masuk MSCI Februari 2026

Jumlah pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak tajam sepanjang akhir 2025 seiring reli harga saham yang signifikan. BUMI juga masuk radar sejumlah sekuritas sebagai kandidat kuat masuk indeks global MSCI pada Februari 2026. Potensi inklusi MSCI membuka peluang arus dana asing ke saham emiten batu bara tersebut.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Saham BUMI melonjak dan berpeluang masuk indeks MSCI Februari 2026

Saham BUMI melonjak dan berpeluang masuk indeks MSCI Februari 2026 (Foto:BUMI)

Emitenhub.com - PT Bumi Resources Tbk (BUMI), emiten milik Grup Bakrie dan Grup Salim, mencatat penambahan lebih dari 100 ribu pemegang saham baru sepanjang Desember 2025. Jumlah tersebut menjadi kenaikan bulanan terbesar sejauh ini dibandingkan emiten lainnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis pada 9 Januari 2026, jumlah pemegang saham BUMI bertambah 148.255 selama bulan lalu. Dengan demikian, total pemegang saham BUMI kini mencapai 362.993, menjadikannya terbanyak keempat di bursa setelah BBRI (659 ribu), BBCA (578 ribu), dan GOTO (363 ribu), mencerminkan tingginya minat investor terhadap saham tersebut.

Jumlah pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memang melonjak signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Tren kenaikan tersebut telah terlihat sejak September 2025, ketika jumlah pemegang saham tercatat sebanyak 157.747. Angka ini kemudian meningkat menjadi 191.942 pada Oktober dan kembali bertambah menjadi 214.738 pada November.

Secara kumulatif, dalam sekitar tiga bulan terakhir, jumlah pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bertambah sekitar 205 ribu. Kenaikan tersebut mencerminkan menguatnya minat investor ritel terhadap saham emiten batu bara tersebut.

Sementara itu, Grup Salim melalui Mach Energy (Hong Kong) Limited menguasai 45,78 persen saham BUMI. Adapun Grup Bakrie, melalui PT Bakrie Capital Indonesia bersama sejumlah perusahaan afiliasi lainnya, juga tercatat sebagai pengendali perseroan.

Lonjakan minat investor ritel tersebut tidak terlepas dari reli saham BUMI dan sejumlah emiten Grup Bakrie lainnya, seperti PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Penguatan ini berlangsung di tengah rencana ekspansi dan akuisisi, berbagai aksi korporasi, kenaikan harga emas dunia, serta sentimen index play atau peluang masuk ke indeks global seperti MSCI, yang turut memperkuat daya tarik saham-saham tersebut.

Saham BUMI tercatat melesat 83 persen dalam sebulan terakhir dan melonjak 301 persen secara tahunan. Per 9 Januari 2026, harga saham BUMI mencapai Rp462 per unit, yang merupakan level tertinggi sejak 2017.

Mengutip catatan UOB Kay Hian pada 19 November 2025, BUMI terus mempercepat diversifikasi bisnis melalui peningkatan produksi emas BRMS, pertumbuhan volume overburden removal (bcm) DEWA, serta akuisisi aset emas-tembaga Wolfram yang berbiaya rendah.

Selain itu, perseroan juga merambah bisnis bauksit dan alumina melalui Laman Mining, sebagai upaya membangun portofolio usaha di luar sektor batu bara.

Peluang BUMI Masuk Indeks MSCI Standard Cap

Katalis lain yang mencuat adalah potensi PT Bumi Resources Tbk (BUMI), bersama sejumlah emiten lainnya, untuk masuk ke indeks global MSCI pada rebalancing Februari 2026.

Indo Premier, dalam riset yang diterbitkan pada 10 Desember 2025, menyebut BUMI sebagai kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk ke MSCI Standard Cap.

Saat ini, kapitalisasi pasar BUMI telah melampaui ambang batas minimum, dengan estimasi harga minimum sekitar Rp315 per saham. Sementara itu, harga saham BUMI per 9 Januari 2026 berada di kisaran Rp462 per saham.

BUMI juga telah tercatat sebagai konstituen MSCI IMI (Investible Market Indexes) dan MSCI Small Cap Index.

Meski harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak signifikan secara bulanan hingga lebih dari 100 persen, Indo Premier menilai pergerakan tersebut masih berada dalam koridor aturan MSCI extreme price increase.

Risiko baru berpotensi muncul apabila harga saham BUMI menembus level di atas Rp700 per unit menjelang akhir Januari 2026, yang merupakan periode peninjauan indeks.

Riset Trimegah Sekuritas juga menempatkan BUMI sebagai salah satu emiten dengan probabilitas tertinggi untuk masuk dalam tinjauan indeks MSCI periode Februari 2026.

Mengacu pada data free float MSCI per Desember 2025, analis Trimegah menilai BUMI berpeluang memenuhi kriteria inklusi dengan porsi free float sebesar 30,19 persen, dengan catatan harga saham berada di kisaran minimal Rp277 per saham.

Penilaian tersebut didasarkan pada ambang batas kapitalisasi pasar MSCI, yakni kapitalisasi pasar free float sebesar USD2,1 miliar dan kapitalisasi penuh USD4,2 miliar, dengan tetap mengecualikan emiten yang tidak memenuhi kriteria kelayakan MSCI.

Pandangan serupa disampaikan analis CLSA yang memproyeksikan adanya perubahan komposisi MSCI Global Investable Market Index (GIMI) pada Quarterly Comprehensive Index Review (QCIR) Februari 2026.

Mengacu pada Watch List per 6 Januari 2026, CLSA memperkirakan saham BUMI berpeluang masuk indeks dengan potensi arus dana masuk sekitar USD78,7 juta. Adapun hasil resmi peninjauan dijadwalkan diumumkan setelah penutupan pasar pada 10 Februari 2026.

Iklan