Saham

Peluang Saham BUMI Masuk MSCI Big Cap Menguat, Didukung Kinerja dan Ekspansi Emas

PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dinilai memiliki peluang kuat untuk masuk MSCI Indonesia Global Standard Index seiring penguatan kinerja saham dan pemenuhan indikator indeks. Dukungan juga datang dari aksi ekspansi ke sektor emas serta kinerja operasional yang masih terjaga.

7 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Pergerakan saham BUMI dan peluang masuk MSCI Indonesia Global Standard Index

Pergerakan saham BUMI dan peluang masuk MSCI Indonesia Global Standard Index (Foto:Bumi)

Emitenhub.com - Posisi PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) kian mencuat sebagai kandidat untuk bergeser ke jajaran konstituen Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Global Standard Index atau kategori big cap, menyusul jejak anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Penguatan kinerja saham BUMI yang sejalan dengan pemenuhan sejumlah indikator indeks menjadikan emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim tersebut masuk dalam radar utama seleksi MSCI Indonesia Global Standard Index.

Sebagai perbandingan, BRMS telah lebih dahulu tercatat sebagai konstituen indeks global tersebut setelah hasil tinjauan berkala MSCI periode November 2025 diumumkan pada Rabu (5/11/2025), sementara BUMI hingga kini masih tercatat dalam MSCI Indonesia Small Cap Index serta termasuk dalam kelompok Investible Market Indexes (IMI) MSCI.

Penilaian tersebut sejalan dengan riset Samuel Sekuritas yang menempatkan saham BUMI sebagai salah satu kandidat terkuat untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard, didukung oleh kapitalisasi pasar sekitar US$10,3 miliar serta tingkat free float sebesar 28,3%.

Dari sisi likuiditas, saham BUMI dinilai cukup solid, tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian dalam satu tahun terakhir yang mencapai US$36,7 juta.

Prasetya Gunadi, analis Samuel Sekuritas, menyampaikan bahwa dengan profil tersebut terdapat estimasi potensi aliran dana asing ke saham BUMI di kisaran US$180–US$300 juta apabila emiten ini resmi masuk ke dalam indeks MSCI, sebagaimana disampaikan dalam laporan tertanggal Jumat (9/1/2026).

Perhatian pelaku pasar terhadap potensi perubahan komposisi indeks MSCI kembali menguat pada awal 2026, mengingat proses peninjauan indeks tersebut kerap diikuti oleh pergerakan dana asing dalam jumlah signifikan di pasar modal Indonesia.

MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil peninjauan indeks pada 10 Februari 2026, dengan tanggal efektif rebalancing atau kocok ulang konstituen indeks yang akan berlaku mulai 1 Maret 2026.

Dalam konteks tersebut, Prasetya menyampaikan bahwa mendekatnya jadwal peninjauan membuat sejumlah emiten mulai masuk dalam radar investor sebagai kandidat kuat untuk bergabung ke dalam indeks global tersebut.

Pandangan serupa sebelumnya juga disampaikan oleh analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, yang menilai PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sebagai salah satu emiten dengan peluang terbesar untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard Index, khususnya pada periode peninjauan Februari 2026.

Sebagai latar belakang, proses rebalancing atau kocok ulang konstituen MSCI dilakukan secara berkala sebanyak empat kali dalam setahun, yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November, untuk menilai kelayakan saham yang masuk maupun keluar dari indeks tersebut.

Dalam laporan Indo Premier Sekuritas tertanggal Kamis (11/12/2025), Ryan dan Reggie menyatakan bahwa BUMI memiliki salah satu probabilitas tertinggi untuk dimasukkan ke dalam indeks MSCI Standard Cap pada peninjauan indeks Februari 2026.

Dari sisi kriteria teknis, para analis menilai saham BUMI telah melampaui ambang batas minimum harga saham sebesar Rp315, dengan pergerakan harga pada akhir tahun lalu dinilai masih berada dalam koridor ketentuan MSCI terkait batas kenaikan harga saham ekstrem.

“Kecuali jika harga saham BUMI melampaui Rp700 per saham pada akhir Januari 2026 sebagai periode peninjauan,” jelas mereka.

Pergerakan saham BUMI menunjukkan penguatan signifikan, dengan harga penutupan berada di level Rp464 pada akhir perdagangan Jumat (9/1/2026), naik 44 basis poin berdasarkan data Bursa Efek Indonesia. Capaian tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 26,23% secara year-to-date sejak awal tahun.

Sejalan dengan penguatan tersebut, saham BUMI menempati posisi kedua dalam daftar saham top leaders penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan, dengan kontribusi sebesar 24,93 poin terhadap laju indeks.

Ekspansi korporasi menjadi salah satu faktor yang memperkuat sentimen terhadap saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), seiring langkah strategis perseroan dalam memperluas basis aset di luar bisnis batu bara.

Aksi akuisisi tambang dinilai memberikan dorongan positif bagi BUMI karena berpotensi memperkuat stabilitas pendapatan jangka panjang sekaligus memperluas diversifikasi portofolio usaha emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim tersebut.

Dalam konteks tersebut, BUMI telah merampungkan akuisisi 100% saham perusahaan tambang emas asal Australia, Wolfram Limited (WFL), dengan nilai transaksi mencapai Rp698,98 miliar atau setara 63,5 juta dolar Australia.

Penilaian positif atas langkah korporasi ini sebelumnya disampaikan oleh analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap dan Fadhlan Banny, yang menilai akuisisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan BUMI.

Mereka menjelaskan bahwa Wolfram memiliki dua aset pertambangan utama, salah satunya adalah Crush Creek dengan cadangan emas sebesar 191 ribu ons serta sumber daya 470 ribu ons dengan kadar 2,3 gram per ton.

Selain itu, Wolfram juga mengoperasikan aset Mount Carlton yang memiliki cadangan emas sekitar 129 ribu ons dan sumber daya sebesar 197 ribu ons dengan kadar 1,4 gram per ton.

“Kami memandang akuisisi ini sebagai peningkatan nilai, yang meningkatkan stabilitas pendapatan jangka panjang BUMI dan diversifikasi portofolio di luar batubara,” jelas Juan dan Fadhlan dalam risetnya tertanggal Kamis (13/11/2025).

Penguatan Sentimen Saham BUMI dari Aksi Ekspansi Tambang

Langkah ekspansi korporasi menjadi salah satu faktor yang memperkuat sentimen terhadap saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), seiring strategi perseroan memperluas basis aset di luar bisnis batu bara.

Akuisisi tambang dianggap memberikan dukungan tambahan bagi BUMI. Ini bisa memperkuat stabilitas pendapatan jangka panjang. Selain itu, akuisisi ini juga mendorong diversifikasi portofolio usaha emiten yang terhubung dengan Grup Bakrie dan Grup Salim.

Dalam kerangka ekspansi tersebut, BUMI telah menuntaskan akuisisi 100% saham perusahaan tambang emas asal Australia, Wolfram Limited (WFL), dengan total nilai transaksi sebesar Rp698,98 miliar atau setara 63,5 juta dolar Australia.

Penilaian positif atas aksi korporasi ini sebelumnya disampaikan oleh analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap dan Fadhlan Banny, yang menilai akuisisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan BUMI.

Mereka menguraikan bahwa Wolfram memiliki dua aset pertambangan utama, yakni Crush Creek dengan cadangan emas sebesar 191 ribu ons serta sumber daya 470 ribu ons dengan kadar 2,3 gram per ton.

Wolfram juga mengelola aset Mount Carlton. Aset ini memiliki cadangan emas sekitar 129 ribu ons. Sumber daya emasnya mencapai 197 ribu ons dengan kadar 1,4 gram per ton.

"Kami melihat akuisisi ini sebagai cara untuk meningkatkan nilai. Ini juga akan meningkatkan stabilitas pendapatan jangka panjang BUMI. Selain itu, ini akan membantu diversifikasi portofolio di luar batubara," jelas Juan dan Fadhlan dalam riset mereka pada Kamis (13/11/2025).

Menurut para analis, dampak mesin pertumbuhan baru mulai terlihat sejak 2026. BUMI berencana mengalokasikan belanja modal sebesar US$5,8 juta. Dana ini untuk peningkatan aset emas Wolfram. Targetnya adalah memulai produksi komersial pada Juni 2026. Produksi ini akan menggunakan pabrik flotasi.

“Perusahaan juga ingin meningkatkan produksi emas pada tahun 2029F. Mereka akan mengembangkan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL). Ini membutuhkan belanja modal sebesar US$45,5 juta.”

Dengan asumsi Wolfram bisa menjual 40.000 ons emas pada tahap flotasi di 2027, Samuel Sekuritas Indonesia melihat segmen emas bisa menambah pendapatan. Tambahan pendapatan ini diperkirakan mencapai US$221 juta. Ini berarti ada peningkatan sekitar 13,6% dibandingkan estimasi pendapatan BUMI sebelumnya.

Performa Keuangan BUMI hingga Kuartal III/2025

Sampai dengan akhir kuartal III/2025, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mencatatkan pendapatan sebesar US$1.037,3 juta, tumbuh 11,9% secara tahunan dibandingkan US$926,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan juga meningkat 5,1% year-on-year menjadi US$876,0 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Di sisi operasional, beban usaha BUMI tercatat naik 12,8% secara tahunan menjadi US$76,9 juta per akhir kuartal III/2025.

Kombinasi kinerja tersebut mendorong laba usaha Bumi Resources melonjak 231,9% year-on-year menjadi US$84,4 juta hingga akhir September 2025.

Setelah memperhitungkan berbagai beban, termasuk pajak penghasilan, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$29,4 juta pada kuartal III/2025, atau turun 76,1% secara tahunan.

Manajemen Bumi Resources menyatakan bahwa meski pasar sulit dan harga batu bara turun, perusahaan tetap mencatatkan keuntungan. Mereka berhasil meningkatkan margin berkat efisiensi dan pengelolaan biaya yang lebih baik. Hal ini dijelaskan dalam siaran pers kinerja keuangan per September 2025.

Dari sisi operasional, hingga akhir kuartal III/2025 Bumi Resources melaporkan realisasi produksi batu bara sebesar 54,9 juta ton, atau menurun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, total penjualan batu bara Bumi Resources tercatat sebesar 54,5 juta ton, atau mengalami penurunan 2% dibandingkan periode sebelumnya.

Dari sisi harga, perseroan membukukan rata-rata harga jual FOB sebesar US$60,4 per ton sepanjang sembilan bulan 2025, lebih rendah dibandingkan US$73,7 per ton pada periode yang sama tahun lalu.

Manajemen Bumi Resources menyatakan bahwa kinerja produksi dan penjualan tersebut tetap terjaga secara relatif stabil di tengah kondisi pasar yang menantang, mencerminkan efektivitas pengelolaan operasional serta pengendalian biaya yang dijalankan secara konsisten.

Iklan