Era Perang Tarif Berakhir, Prospek Sektor Mobile dan Internet Indonesia Kembali Menguat
Sektor mobile dan internet Indonesia dinilai memasuki fase pemulihan seiring berakhirnya perang tarif dan membaiknya disiplin harga. Konsolidasi industri, peluang kenaikan ARPU, serta ekspansi internet berbasis FWA membuka ruang pertumbuhan laba dan valuasi yang lebih sehat.
Pergerakan saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) di Bursa Efek Indonesia (EXCL)
Emitenhub.com - Sektor mobile dan internet di Indonesia kembali menjadi sorotan seiring meredanya perang tarif dan membaiknya disiplin harga di industri. Perubahan ini menandai pergeseran sentimen pasar terhadap prospek jangka menengah sektor tersebut.
Dalam riset bertajuk Mobile and Internet: The Bull Case is Back yang terbit pada 12 Januari 2026, Sucor Sekuritas menilai pasar belum sepenuhnya menangkap perubahan struktural signifikan yang tengah berlangsung di industri mobile dan internet nasional.
Sucor Sekuritas mencatat konsolidasi industri telah mereduksi jumlah operator seluler dari enam menjadi tiga pemain utama. Perubahan struktur ini mengubah lanskap persaingan di sektor telekomunikasi.
Dengan berkurangnya jumlah pemain, perang tarif yang bersifat destruktif dinilai telah berakhir. Operator kini diarahkan untuk meninggalkan strategi agresif perebutan pangsa pasar dan berfokus pada efisiensi modal, peningkatan profitabilitas, serta optimalisasi jaringan yang telah tersedia.
Dari sisi harga, Sucor Sekuritas menilai tarif seluler di Indonesia masih berada pada level terendah secara global. Rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) bahkan tercatat masih di bawah harga secangkir kopi senilai USD2,50 atau sekitar Rp42 ribu.
Dalam kajiannya, Sucor melihat ruang pemulihan harga masih terbuka lebar. Kondisi ini termasuk relevan bagi Telkomsel, entitas milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), yang dituntut menjaga disiplin pendapatan di tengah tekanan kompetisi layanan IndiHome dari PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Prospek pemulihan juga terlihat pada bisnis internet rumah. Dari potensi sekitar 90 juta konsumen, jumlah pelanggan saat ini baru mencapai sekitar 15 juta atau setara 17 persen penetrasi. Harga layanan yang relatif tinggi serta keterbatasan kecepatan selama ini menjadi faktor pembatas pertumbuhan.
Kondisi tersebut mulai bergeser dengan kehadiran program Internet Rakyat (IRA) yang mengandalkan teknologi fixed wireless access (FWA). Inisiatif ini memperluas pilihan akses internet dengan pendekatan berbeda dari infrastruktur kabel konvensional.
Layanan tersebut menawarkan kecepatan hingga 100 Mbps dengan tarif sekitar Rp100 ribu per bulan, jauh di bawah harga eksisting yang dapat mencapai Rp300 ribu per bulan untuk kecepatan serupa.
Dalam risetnya, Sucor menilai penetrasi internet memiliki ruang ekspansi signifikan hingga mendekati 60 persen dalam lima tahun ke depan, dengan laju pertumbuhan pelanggan sekitar 29 persen per tahun.
Dalam pandangan Sucor Sekuritas, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) diposisikan sebagai pilihan utama di sektor ini.
EXCL dinilai memiliki ruang peningkatan ARPU yang lebih besar dibandingkan pesaingnya, seperti PT Indosat Tbk (ISAT) dan TLKM. Penilaian tersebut terkait proses integrasi pascamerger yang membuka peluang perbaikan ARPU Smartfren, yang sebelumnya berada pada level terendah di industri.
Selain itu, Sucor menyoroti potensi realisasi sinergi merger sebesar USD300–USD400 juta pada periode 2027–2028. Faktor ini dinilai dapat mendorong ekspansi imbal hasil modal (ROIC) yang saat ini belum sepenuhnya terefleksi dalam valuasi saham.
Di sisi lain, WIFI dipandang sebagai representasi paling murni dari pertumbuhan bisnis internet. Emiten ini menjadi satu-satunya pemain yang dapat menawarkan layanan Internet Rakyat (IRA) di Pulau Jawa, wilayah yang menyumbang sekitar 70 persen dari total potensi pasar internet nasional.
Sucor menegaskan kinerja saham operator seluler yang cenderung tertinggal dalam beberapa tahun terakhir lebih disebabkan oleh tekanan perang tarif, bukan pelemahan fundamental bisnis.
Dengan pulihnya pricing power, perbaikan margin, serta mulai optimalnya hasil investasi jaringan jangka panjang, prospek profitabilitas sektor ini dinilai menjadi lebih kokoh.
Analis Sucor menilai persepsi pasar belum sepenuhnya berubah. Dalam laporannya, konsensus dinilai masih memandang sektor ini seolah menghadapi masalah struktural, sementara Sucor mengambil pandangan berbeda dengan menilai valuasi sektor mobile dan internet Indonesia masih berada pada level undervalued.
Selain EXCL dan WIFI, Sucor menyebut emiten lain seperti PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga berpeluang menikmati dampak positif dari berakhirnya perang tarif di industri seluler.


