Asing Borong Saham EXCL Saat IHSG Anjlok, Ini Alasan dan Target Analis
PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk menjadi saham dengan net foreign buy terbesar di tengah koreksi tajam IHSG akhir Januari 2026. Investor institusi asing tercatat mengakumulasi EXCL seiring tekanan harga, didukung prospek pascamerger, ekspansi 5G, dan perbaikan ARPU menurut analis.
Ilustrasi pergerakan saham EXCL dan aktivitas transaksi direksi (Foto:EXCL)
Emitenhub.com - Saham PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) tercatat menjadi incaran utama investor asing di tengah tekanan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Januari 2026. Dalam periode Rabu (28/1) hingga Selasa (3/2), EXCL membukukan nilai beli bersih asing sebesar Rp430,2 miliar.
Aksi tersebut menempatkan EXCL sebagai saham dengan net foreign buy terbesar di pasar. Secara berurutan, nilai beli bersih investor asing di pasar reguler dalam lima hari perdagangan tercatat sebesar Rp165,3 miliar, Rp188,8 miliar, Rp69,9 miliar, Rp158 miliar, dan Rp6,2 miliar.
Akumulasi ini terjadi seiring penurunan harga saham EXCL yang cukup dalam. Dalam dua hari perdagangan berturut-turut pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1), saham EXCL sempat menyentuh batas auto-reject bawah (ARB) setelah turun kumulatif sebesar 14,92%.
Tekanan pada saham EXCL terjadi seiring memburuknya sentimen pasar saham domestik setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara emiten Indonesia dalam proses peninjauan indeks. Langkah tersebut dipicu kekhawatiran MSCI terhadap transparansi data free float emiten serta munculnya dugaan praktik manipulasi harga di pasar.
Setelah mengalami auto-reject bawah dua kali, harga saham EXCL sempat menguat 1,54% pada Jumat (30/1), sebelum kembali tertekan 11,82% pada Senin (2/2). Penurunan tersebut membuat harga EXCL merosot sekitar 35% dalam empat hari perdagangan, dari Rp4.490 menjadi Rp2.910 per saham, sebelum kembali rebound 7,56% ke level Rp3.130 pada Selasa (3/2).
Mengacu pada data Bloomberg, akumulasi saham EXCL di tengah koreksi harga turut dilakukan oleh investor institusi asing. Di antaranya Vanguard Group Inc yang membeli 4.103.400 saham serta Dimensional Advisors Fund LP yang mengoleksi 5.784.332 saham pada akhir Januari 2026.
Pembelian tersebut meningkatkan total kepemilikan Vanguard di EXCL menjadi 191.830.131 saham, sementara Dimensional tercatat menguasai 128.023.596 saham. Rata-rata harga perolehan Vanguard berada di level Rp2.614,07 per saham dan Dimensional di Rp2.462,37, keduanya masih berada di bawah harga pasar EXCL saat ini.
Head Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki, menilai minat investor asing terhadap EXCL berkaitan dengan prospek perbaikan kinerja pascamerger dengan Smartfren Telecom. Penggabungan usaha tersebut dinilai akan memperbesar skala bisnis perseroan, terutama dari sisi basis pelanggan dan kapasitas jaringan. “Kinerjanya pada 2026 diproyeksi akan terus membaik dari sisi pengguna dan average revenue per user alias ARPU,” ujar Yaki.
Sementara itu, Analis BCA Sekuritas Selvi Ocktaviani menyebut kinerja EXCL pada kuartal III-2025 terjaga solid, tercermin dari kenaikan pendapatan sebesar 9% secara kuartalan yang ditopang peningkatan ARPU prabayar sebesar 10% QoQ menjadi Rp37.900. Menurutnya, perbaikan kondisi pasar dan makroekonomi berpotensi mendorong pertumbuhan ARPU lanjutan, dengan ARPU prabayar kuartal IV-2025 diperkirakan naik 8% QoQ menjadi Rp41.000 seiring kenaikan harga paket data dan permintaan yang lebih tinggi di akhir tahun.
Selain perbaikan kinerja, EXCL juga tengah melakukan penataan ulang spektrum untuk memperkuat kesiapan layanan 5G. Pada Desember 2025, perseroan meluncurkan secara terbatas layanan XL Ultra 5G+ di 13 kota dan kabupaten, dengan dukungan sekitar 3.400 BTS 5G yang beroperasi pada spektrum 2.300 MHz.
Jaringan berkecepatan tinggi dengan latensi rendah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengalaman pengguna sekaligus mendorong konsumsi data. Ketersediaan perangkat 5G dengan harga di bawah Rp3 juta dinilai membuka peluang adopsi yang lebih luas di segmen pasar massal.
Selvi menambahkan, manajemen EXCL berencana memperluas cakupan layanan 5G secara bertahap, dengan fokus pada wilayah beraktivitas ekonomi tinggi dan mobilitas penduduk yang padat, seiring meningkatnya penetrasi perangkat 5G di pasar domestik.Dengan mempertimbangkan berbagai katalis pertumbuhan tersebut, Selvi mempertahankan rekomendasi buy untuk EXCL. Ia juga menaikkan target harga saham EXCL dari Rp3.300 menjadi Rp5.500, seiring revisi naik estimasi kinerja 2025 dan 2026 yang ditopang pendapatan paket data yang lebih kuat serta peningkatan ARPU.
Achmad Yaki menambahkan, di tengah koreksi harga saham EXCL, pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi hold dan akumulasi beli selama harga bertahan di kisaran Rp2.800–Rp2.900. Dari perspektif teknikal, target perdagangan jangka menengah berada di level Rp3.400.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta mencermati potensi koreksi lanjutan pada EXCL akibat sentimen negatif yang masih membayangi pasar saham secara keseluruhan. Area support terdekat berada di Rp2.800, dengan support lanjutan di rentang Rp2.680–Rp2.750.
Merujuk data Stockbit, mayoritas analis masih memberikan pandangan positif terhadap EXCL. Dari total 34 analis, sebanyak 18 merekomendasikan beli, sementara masing-masing delapan analis memberikan rekomendasi hold dan sell, dengan rata-rata target harga di Rp3.477, target tertinggi Rp7.550, dan target terendah Rp1.600 per saham.


