Saham

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Terancam Melonjak: Risiko Fiskal hingga Dampak ke IHSG

Eskalasi geopolitik di Selat Hormuz menghentikan lalu lintas tanker dan memicu lonjakan risiko pasokan energi global. Harga minyak berada dalam sorotan dengan ekspektasi kenaikan tajam, sementara Indonesia menghadapi tekanan fiskal dan logistik sebagai negara net importer minyak. Situasi ini menjadi faktor eksternal penting bagi pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Gangguan Selat Hormuz dan risiko lonjakan harga minyak global

Pergerakan saham migas di BEI saat harga minyak dunia naik

Emitenhub.com - Selat Hormuz berfungsi sebagai jalur sempit bernilai strategis yang mengendalikan arus perdagangan energi global. Aktivitas kapal tanker di kawasan ini praktis terhenti setelah perusahaan pelayaran mengambil langkah pengamanan menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi tersebut memiliki relevansi langsung bagi pasar keuangan domestik, mengingat sekitar sepertiga ekspor minyak mentah global melalui jalur laut bergantung pada Selat Hormuz.

Harga Minyak dan Respons Pasar Global

Pergerakan harga minyak mentah menjadi salah satu indikator utama yang mencuat menjelang awal pekan perdagangan Maret 2026. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di level USD 67,02 per barel pada Jumat (27/2), sementara Brent berakhir di posisi USD 73,21 per barel sebagai acuan harga internasional. Platform prediksi pasar Kalshi mencatat probabilitas 79% bahwa harga WTI akan berada di atas USD 73 per barel saat perdagangan dibuka kembali, seiring meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Kenaikan Biaya Asuransi dan Dampak Logistik

Sektor asuransi turut memainkan peran penting dalam dinamika perdagangan maritim di kawasan konflik. Penanggung asuransi risiko perang dilaporkan mulai mengirimkan nota pembatalan polis sekaligus menaikkan biaya perlindungan hingga 50% bagi kapal yang melintasi Teluk dan Selat Hormuz. Biaya asuransi untuk kapal bernilai USD 100 juta, misalnya, meningkat dari USD 250.000 menjadi USD 375.000 untuk satu kali perjalanan, yang berpotensi menambah beban operasional perusahaan logistik dan memengaruhi struktur biaya rantai pasok industri di dalam negeri.

Dampak Ketergantungan Mitra Dagang Asia

Ketergantungan ekonomi Asia terhadap Selat Hormuz menambah faktor risiko eksternal yang relevan untuk dicermati. Data menunjukkan rata-rata sekitar 14,5 juta barel minyak melintas setiap hari melalui jalur ini, dengan sekitar 90% volume dialirkan ke pasar Asia seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia, sehingga gangguan pasokan energi di kawasan tersebut dapat berimplikasi pada aktivitas industri dan permintaan terhadap komoditas ekspor nasional.

Di sisi lain, Indonesia berada pada posisi sebagai net importer minyak, di mana kebutuhan impor melampaui produksi domestik. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga energi global memiliki pengaruh langsung terhadap stabilitas nilai tukar rupiah serta beban fiskal negara, terutama melalui mekanisme subsidi energi.

Posisi Indonesia di Tengah Tekanan Energi Global

Metrik

Data

Sumber

Harga Minyak Brent

Ditutup pada level USD 73,21 per barel pada Jumat (27/02/2026)

CNBC

Harga Minyak WTI

Ditutup pada level USD 67,02 per barel pada Jumat (27/02/2026)

CNBC

Volume Minyak

Rata-rata 14,5 juta barel minyak melintas Selat Hormuz setiap hari

CNBC (via Kpler)

Status Selat

Lalu lintas tanker praktis terhenti akibat langkah pencegahan pelayaran

CNBC (via Rystad Energy)

Premi Risiko Perang

Biaya asuransi diperkirakan naik hingga 50% dalam beberapa hari

Financial Times

Distribusi Asia

Sekitar 90% volume minyak Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia

CNBC (via Kpler)

Dalam konteks tersebut, Indonesia berada pada posisi yang menantang antara tekanan fiskal dan ruang diplomasi. Sebagai negara net importer minyak, pergerakan harga minyak mentah internasional menjadi variabel penting bagi ketahanan anggaran. Mengacu pada data pasar yang tersedia, harga Brent berada di level USD 72,87 dan WTI di USD 67,02, dengan ekspektasi pasar yang mengindikasikan tren kenaikan sehingga perlu dicermati secara saksama.

Analis Rystad Energy mengemukakan skenario lonjakan harga minyak hingga USD 20 per barel saat perdagangan dibuka kembali. Barclays juga mengangkat risiko lanjutan dengan menyebut potensi harga Brent menyentuh USD 100 per barel apabila gangguan pasokan berlanjut. Tingkat ketidakpastian tersebut tercermin pada data Kalshi yang menunjukkan probabilitas 79% bahwa harga minyak mentah Amerika Serikat berada di level minimal USD 73 per barel.

Di luar pergerakan harga, tekanan tambahan datang dari sisi logistik. Pembatalan polis asuransi serta kenaikan premi hingga 50% bagi kapal yang melintasi jalur ini berpotensi meningkatkan biaya distribusi energi. Dengan sekitar sepertiga ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut bergantung pada Selat Hormuz, dinamika ini menempatkan respons kebijakan fiskal yang terukur dan pemantauan sektor logistik sebagai perhatian utama pelaku pasar di Indonesia pada awal pekan perdagangan.

Iklan