Saham

Harga Aluminium Berpeluang Tembus US$3.500, Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama

Harga aluminium diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur penting bagi energi dan bahan baku, di tengah proyeksi OCBC yang menempatkan harga aluminium berpotensi mencapai US$3.500 per ton pada kuartal II 2026.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Harga aluminium global menguat di tengah risiko pasokan dari Selat Hormuz dan Timur Tengah

Harga aluminium global menguat di tengah risiko pasokan dari Selat Hormuz dan Timur Tengah

Emitenhub.com - Harga aluminium diperkirakan masih bertahan di level tinggi dalam jangka pendek di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Analis OCBC Group Research Jonathan Ng menilai kenaikan harga aluminium belakangan ini dipicu kekhawatiran terhadap terganggunya rantai pasok. Perhatian pasar terutama tertuju pada kondisi Selat Hormuz yang belum sepenuhnya pulih.

Selat Hormuz menjadi jalur penting bukan hanya bagi distribusi energi, tetapi juga untuk pengiriman bahan baku seperti pupuk dan aluminium. Karena itu, gangguan di kawasan ini dinilai dapat berdampak langsung pada arus pasok sejumlah komoditas.

Jonathan Ng mengatakan gangguan yang berlangsung lebih lama akan menekan lebih dari satu komoditas sekaligus. Pernyataan itu dikutip dari The Wall Street Journal pada Rabu, 18 Maret 2026.

OCBC memperkirakan harga aluminium berpeluang mencapai US$3.500 per ton pada kuartal II 2026. Sementara itu, kontrak tiga bulan aluminium di London Metal Exchange (LME) terakhir tercatat turun 1,1% ke level US$3.361 per ton.

Di sisi lain, analis Nanhua Futures menyoroti risiko pasokan yang masih membayangi produsen aluminium di kawasan Timur Tengah.

Blokade di Selat Hormuz dinilai dapat menghambat pengiriman bahan baku dan menambah tekanan bagi industri peleburan aluminium. Jalur ini menjadi perhatian karena perannya dalam menopang kelancaran pasokan ke kawasan produsen.

Iran sebelumnya sempat memangkas produksi, tetapi belum menutup fasilitas elektrolisis. Saat ini, aktivitas di negara tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Meski begitu, perhatian pasar juga tertuju ke Uni Emirat Arab (UEA). Keterbatasan jalur pengiriman alternatif di wilayah itu dinilai dapat memicu pemangkasan produksi.

Iklan