Saham

Amman Mineral (AMMN) Masuki Fase Pertumbuhan Eksplosif hingga 2028, Saham Dibidik ke Rp 11.000

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bersiap memasuki fase pertumbuhan kinerja paling agresif setelah pengembangan tambang Batu Hijau fase 8, yang diproyeksikan menjadi penopang utama dalam lima tahun ke depan. Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 11.000, didukung proyeksi lonjakan produksi tembaga dan emas, kontribusi jangka panjang proyek Elang, serta potensi pertumbuhan laba dan ROE hingga 2028.

2 menit membaca Sumber: Investor.id
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
ilustrasi Amman Mineral (AMMN) dengan tambang Batu Hijau fase 8 dan grafik proyeksi kenaikan kinerja hingga 2028

Aktivitas tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk di Batu Hijau dan proyek Elang(Foto:AMMN)

Emitenhub - PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bersiap memasuki fase pertumbuhan paling agresif dalam sejarah operasionalnya seiring dimulainya pengerjaan tambang Batu Hijau fase 8. Tahap ini diproyeksikan menjadi penopang utama kinerja keuangan perseroan dalam lima tahun ke depan.

Prospek tersebut mendorong Sucor Sekuritas dalam riset terbaru untuk mempertahankan rekomendasi beli saham AMMN dengan target harga Rp 11.000 per saham. Saat ini, AMMN diperdagangkan pada kisaran price to earnings ratio (PE) sekitar 26,5–16,5 kali untuk 2026–2027, yang dinilai masih menarik mengingat pemulihan produksi dan potensi lonjakan laba dalam beberapa tahun mendatang.

Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan menilai AMMN diuntungkan oleh tiga faktor utama: fase produksi puncak yang bertepatan dengan tren bullish komoditas, posisi sebagai salah satu produsen tembaga-emas dengan profitabilitas tinggi, serta potensi kenaikan harga saham hingga 75% dari nilai wajarnya.

“Dengan estimasi PE 2027 di level 16,2 kali, saham AMMN saat ini jauh lebih murah dibanding rata-rata emiten emas global yang berada di 33,3 kali. Total return AMMN diprediksi bertumbuh dengan CAGR sekitar 27% dalam tiga tahun, dengan target valuasi pada 30 kali,” tulisnya dalam riset terbaru.

Terkait pengembangan fase 8, Andreas menyebut tahap ini berpotensi menjadi “game changer” bagi AMMN. Fase tersebut diperkirakan mendorong lonjakan signifikan produksi pada 2026, dengan volume konsentrat diproyeksikan mencapai 900 ribu dmt (+109% yoy), berisi sekitar 485 juta lbs tembaga (+113% yoy) dan 579 ribu oz emas (+543% yoy).

Kenaikan produksi ini ditopang kualitas bijih yang lebih tinggi pada fase 8, penambahan lini konsentrator, serta peningkatan utilisasi smelter tembaga baru yang dijadwalkan mencatat produksi katode perdana pada awal 2025. Utilisasi smelter diperkirakan mencapai 80% pada 2026 sebelum mendekati kapasitas penuh pada 2027.

Selain Batu Hijau, Andreas menambahkan, AMMN juga akan ditopang proyek Elang sebagai pilar ekspansi jangka panjang. Berlokasi sekitar 54 km dari tambang eksisting, Elang disebut sebagai salah satu sistem tembaga-emas terbesar di dunia dengan estimasi cadangan 25 miliar lbs tembaga dan 35,1 juta oz emas. Cadangan tersebut setara dengan potensi nilai penjualan sekitar US$ 270 miliar. Proyek ini dijadwalkan memasuki tahap commissioning pada 2031.

Untuk operasional tahun depan, AMMN diproyeksikan membukukan penjualan 388 juta lbs tembaga dan 463 ribu oz emas, tertinggi di antara emiten tambang yang tercatat di BEI. Kenaikan tersebut diharapkan mendorong pertumbuhan pendapatan dengan CAGR 21% pada 2024–2028 dan pertumbuhan laba bersih dengan CAGR 27%, dengan return on equity (ROE) diproyeksikan naik hingga 23% pada 2028. “Kinerja tersebut menempatkan AMMN sebagai salah satu produsen tembaga–emas paling menguntungkan secara global,” terangnya.

Iklan