Harga Minyak Melejit 3% ke $98 – Trump Siap Pengeboman jika Negosiasi AS-Iran Gagal!
Harga minyak dunia melonjak tajam hingga nyaris menyentuh 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu keraguan pasar atas kelanjutan perundingan damai AS-Iran setelah penundaan kunjungan JD Vance ke Pakistan. Presiden Trump menyatakan siap melanjutkan perang dan bahkan menyebut pengeboman jika negosiasi gagal, sementara analis Rystad Energy memprediksi gangguan pasokan semakin memburuk.
Harga minyak Brent melonjak ke USD126 per barel dan rupiah di level terlemah sepanjang masa
Emitenhub.com - Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Selasa (20/4/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (22/4/2026) WIB. Lonjakan ini dipicu keraguan pasar atas kelanjutan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Minyak mentah Brent naik 3 persen menjadi 98,48 dolar AS per barel. Harga acuan global ini nyaris menembus level psikologis 100 dolar di London ICE Futures Exchange.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak hampir 3 persen dan ditutup di level 92,13 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Kenaikan harga terjadi setelah kabar penundaan keberangkatan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan. Kunjungan tersebut sedianya menjadi lokasi dimulainya kembali perundingan damai dengan Iran, namun ditunda karena Teheran belum memberikan tanggapan atas posisi negosiasi Amerika.
Penundaan keberangkatan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan belum bersifat pembatalan penuh. Pejabat AS menyatakan penerbangan tersebut masih bisa dilakukan sewaktu-waktu.
Di pihak Iran, pejabat senior belum memberikan komitmen publik untuk melanjutkan pembicaraan. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan melalui media sosial pada Senin lalu bahwa Teheran tidak akan menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengutuk blokade laut Amerika Serikat terhadap negaranya. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai aksi perang sekaligus pelanggaran gencatan senjata, termasuk penyitaan kapal kargo Iran.
“Iran tahu cara menetralisir pembatasan, cara membela kepentingannya, dan cara melawan penindasan,” tulis Araghchi dalam unggahan media sosialnya.
Penundaan ini semakin meningkatkan risiko kegagalan kesepakatan sebelum gencatan senjata berakhir pada Rabu waktu AS. Presiden Donald Trump menegaskan tidak tertarik memperpanjang masa damai sementara tersebut.
Presiden Donald Trump tetap optimis dapat mengamankan kesepakatan besar dengan Iran. Namun, ia menegaskan kesiapan militer Amerika Serikat untuk melanjutkan perang jika negosiasi gagal. Trump menilai kekuatan militer AS telah berhasil melumpuhkan angkatan laut, angkatan udara, hingga beberapa pemimpin Iran.
“Apa yang saya pikirkan adalah kita akan berakhir dengan kesepakatan yang luar biasa,” ujar Trump dalam wawancara dengan CNBC.
Trump menambahkan sikap agresif diperlukan saat memasuki proses perundingan. “Saya berharap untuk melakukan pengeboman karena saya pikir itu adalah sikap yang lebih baik untuk dilakukan,” katanya.
Presiden Donald Trump menilai kenaikan harga minyak saat ini masih tergolong kecil. Ia bahkan mengaku terkejut karena harga minyak tidak melonjak jauh lebih tinggi. Trump menyatakan heran harga minyak berada di level 90 dolar AS, bukan mencapai 200 dolar AS.
Analis Utama Minyak Rystad Energy Paola Rodriguez-Masiu memperkirakan gangguan pasokan minyak akan semakin memburuk sepanjang bulan ini. Penyebab utamanya adalah lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz yang masih sangat rendah.
Negara-negara Teluk diproyeksikan memproduksi 14,3 juta barel per hari pada April 2026. Angka tersebut turun 3 juta barel per hari dibandingkan level Maret, dan berada sekitar 13 juta barel per hari di bawah produksi sebelum perang pecah.

