Harga Minyak Brent Tembus USD126, Rupiah & Mata Uang Asia Ambruk ke Level Terendah Sepanjang Masa
Harga minyak Brent melonjak hingga USD126,41 per barel dan WTI USD110,93 pada 30 Mei 2026 akibat ketegangan Iran-AS dan ancaman blokade Selat Hormuz. Rupiah melemah ke Rp17.345 per USD, level terendah sepanjang masa, bersama rupee India dan peso Filipina. Bank sentral Asia bergerak cepat melakukan intervensi.
Defisit APBN April 2026 turun ke Rp164 triliun dengan penerimaan pajak rebound dan belanja negara meningkat
Harga minyak internasional melonjak tajam dan kembali menyentuh kisaran USD110–120 per barel. Lonjakan ini menekan mata uang negara berkembang di Asia, termasuk rupiah yang melemah ke level terendah sepanjang masa.
Harga kontrak berjangka Brent Juni di ICE Futures Europe London sempat mencapai USD126,41 per barel pada perdagangan 30 Mei. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Juni 2022.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) Juni di New York Mercantile Exchange menyentuh USD110,93 per barel.
Lonjakan harga minyak mentah terbaru dipicu kekhawatiran pasokan global akibat perang dengan Iran. Ancaman pemblokiran Selat Hormuz semakin memperburuk kecemasan pasar terhadap kelangsungan pasokan energi dunia.
Kenaikan harga minyak ini memberikan tekanan berat bagi mata uang negara berkembang di Asia. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi membuat rupiah dan mata uang regional lainnya melemah tajam.
Rupee India turun ke level 94,91 per dolar AS. Rupiah Indonesia melemah 0,15 persen ke Rp17.345 per dolar, sementara peso Filipina menyentuh 61,40 per dolar. Ketiganya mencatatkan level terendah sepanjang masa terhadap greenback.
“Realitas strukturalnya sangat berat bagi sebagian besar mata uang Asia,” kata Ashwin Vani, pendiri Alpha Vanyani Capital. Menurutnya, rupiah dan peso Filipina adalah yang paling rentan. Jika gencatan senjata gagal dan blokade Selat Hormuz berlanjut, tekanan terhadap mata uang Asia akan semakin parah dan berisiko memicu siklus resesi yang lebih buruk.
Bank sentral di kawasan Asia bergerak cepat untuk mempertahankan stabilitas mata uang masing-masing.
Bank Sentral India membuka jendela pertukaran dolar khusus bagi perusahaan penyulingan dan memberlakukan pembatasan bagi bank untuk menawarkan produk perdagangan rupee di luar negeri. Bank Indonesia menyatakan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing domestik maupun luar negeri. Sementara itu, Bank Sentral Filipina mengisyaratkan kemungkinan menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi.

