TLKM vs ISAT Pisahkan Bisnis Fiber Optik: Strategi InfraNexia dan FiberCo Jadi Penentu Arah Saham
TLKM dan ISAT sama-sama memisahkan bisnis fiber optik dengan pendekatan berbeda melalui InfraNexia dan FiberCo. Strategi ini menjadi kunci monetisasi aset infrastruktur dan berpotensi menentukan arah kinerja saham kedua emiten ke depan.
TLKM dan ISAT memisahkan bisnis fiber optik melalui InfraNexia dan FiberCo
Emitenhub.com - Dua emiten telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Indosat Tbk. (ISAT), mengambil langkah strategis yang relatif serupa dengan memisahkan bisnis fiber optik. Meski tujuannya sejalan, pendekatan yang digunakan kedua perusahaan berbeda.
Perbedaan strategi tersebut tercermin pada pergerakan saham masing-masing. Saham TLKM masih melanjutkan tren penguatan, sementara ISAT justru bergerak melemah. Pemisahan bisnis fiber optik yang bernilai besar dipandang sebagai upaya mengoptimalkan aset di tengah dinamika industri telekomunikasi yang terus berubah dan semakin kompetitif.
Dalam proses pemisahan bisnis fiber optik, Indosat yang berada di bawah kendali Ooredoo Hutchison Asia menggandeng Arsari Group dan Northstar Group. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pembentukan perusahaan patungan yang fokus pada bisnis serat optik dengan nama FiberCo.
Langkah ini menarik perhatian pasar, mengingat sebelumnya sempat berkembang wacana bahwa ISAT akan melepas bisnis fiber optik secara penuh. Kehadiran Arsari Group sebagai mitra strategis juga menjadi sorotan tersendiri dalam struktur kerja sama tersebut.
Arsari Group merupakan perusahaan investasi multisektor yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo. Berdasarkan informasi resmi perusahaan, lini bisnis yang dikembangkan mencakup infrastruktur digital, pertanian, agroforestri, energi terbarukan, energi dan pertambangan, hingga perdagangan serta budidaya perairan.
Sepanjang 2025, Arsari Group tercatat aktif melakukan berbagai aksi korporasi. Perusahaan ini terlibat dalam pengembangan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) atau Surge, masuk sebagai pemegang saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN), serta menjalin kerja sama strategis terbaru bersama ISAT dalam bisnis fiber optik.
Sementara itu, Northstar Group merupakan perusahaan private equity dan modal ventura yang didirikan oleh Patrick Walujo dan Glenn Sugita. Northstar dikenal aktif melakukan investasi strategis di berbagai sektor bisnis di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan nilai jangka panjang.
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menjelaskan bahwa model bisnis FiberCo yang dikembangkan Indosat memiliki kemiripan dengan InfraNexia milik PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM). Perbedaannya terletak pada sumber kekuatan bisnis, di mana FiberCo dibangun dari kolaborasi beberapa perusahaan, dengan Indosat sebagai pemegang saham pengendali.
Berdasarkan dokumen yang beredar, Indosat akan menggenggam 45 persen saham FiberCo. Porsi kepemilikan yang sama masing-masing dipegang oleh Arsari Group dan Northstar Group, sementara 10 persen saham lainnya berada dalam kepemilikan publik.
Dalam struktur tersebut, Arsari Group dan Northstar Group berperan sebagai mitra strategis dengan kontribusi keahlian, termasuk dari sisi finansial. Indosat sendiri memegang peran utama dalam operasional bisnis serat optik, mengingat penguasaan dan pengalaman perseroan di sektor tersebut.
Danny menambahkan bahwa kehadiran FiberCo ditujukan untuk mendukung perusahaan telekomunikasi yang membutuhkan infrastruktur serat optik guna menghadirkan layanan internet yang andal. Infrastruktur tersebut diposisikan sebagai penopang percepatan transformasi digital di berbagai sektor.
Dari sisi implementasi, FiberCo akan mengoperasikan jaringan serat optik yang terintegrasi dan berskala besar dengan total panjang lebih dari 86.000 kilometer. Jaringan ini mencakup backbone nasional, kabel laut domestik, serta infrastruktur akses yang menghubungkan menara telekomunikasi hingga kawasan bisnis.
Dengan komposisi jaringan sekitar 45 persen berada di Pulau Jawa dan 55 persen di luar Jawa, FiberCo memiliki peran strategis dalam mendorong pemerataan konektivitas digital sekaligus memperkuat fondasi infrastruktur telekomunikasi nasional.
Sebagai entitas independen, FiberCo akan beroperasi dengan model open-access, sehingga infrastruktur serat optik dapat dimanfaatkan oleh berbagai penyedia layanan telekomunikasi. Pendekatan ini ditujukan untuk mengoptimalkan utilisasi jaringan sekaligus mempercepat inklusi digital secara nasional.
Danny menegaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan. Masih banyak wilayah di Indonesia yang belum terjangkau serat optik, sehingga kehadiran FiberCo diharapkan mampu memperluas jaringan dan mendukung kebutuhan konektivitas, termasuk bagi Indosat.
Sebelumnya, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyampaikan bahwa kolaborasi ini berangkat dari visi jangka panjang yang sejalan dalam upaya memberdayakan Indonesia. Pembangunan infrastruktur digital dinilai membutuhkan kerja sama yang kuat serta komitmen jangka panjang untuk mencapai tujuan tersebut.
Bagi Indosat dan para pemegang sahamnya, transaksi ini dinilai memiliki nilai strategis yang signifikan. Indosat akan mengalihkan aset serat optiknya ke FiberCo Raya dengan nilai sekitar Rp14,6 triliun, sebagai bagian dari langkah optimalisasi aset dan penguatan fokus bisnis inti.
Transaksi tersebut memungkinkan Indosat melakukan monetisasi aset serat optik sekaligus tetap mempertahankan sekitar 45 persen kepemilikan di FiberCo. Dengan struktur ini, Indosat tetap memiliki eksposur strategis terhadap bisnis infrastruktur tanpa harus menanggung seluruh beban pengelolaan aset.
Vikram menegaskan bahwa langkah ini menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang Indosat. Dana hasil transaksi akan dialokasikan untuk pengembangan jaringan 5G serta memperkuat fondasi kapabilitas AI Indosat, seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital berbasis data dan konektivitas.
Telkom (TLKM) melalui InfraNexia
Pendekatan berbeda ditempuh oleh PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) melalui pemisahan bisnis fiber optik ke InfraNexia. Manajemen TLKM menyampaikan bahwa proses spin off aset ke InfraNexia telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan rampung pada semester I/2026.
Direktur Strategic Business Development & Portofolio Telkom, Seno Soemadji, menjelaskan bahwa fase awal pemisahan aset telah berjalan signifikan. Sisa aset ditargetkan dapat diselesaikan sesuai jadwal agar struktur bisnis infrastruktur Telkom menjadi lebih fokus dan terpisah secara jelas.
InfraNexia merupakan merek dari PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) yang difokuskan pada penyediaan jaringan dan layanan telekomunikasi melalui skema network sharing. Melalui entitas ini, aset-aset Telkom yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal akan dibuka untuk digunakan oleh operator telekomunikasi lain, sehingga meningkatkan utilisasi sekaligus nilai ekonomi aset infrastruktur.
Telkom juga telah menyiapkan InfraNexia sebagai identitas baru bagi bisnis kepemilikan dan pengelolaan aset fiber optik yang sebelumnya berada dalam struktur internal perseroan. Langkah ini dirancang untuk memisahkan fungsi infrastruktur secara lebih terfokus dan terukur.
Persiapan tersebut mencakup pemisahan aset secara legal, penguatan aspek finansial, serta penyusunan tata kelola yang dinilai menarik bagi investor jangka panjang. Melalui transformasi ini, Telkom menegaskan bahwa InfraNexia tidak hanya berperan sebagai wadah aset pasif, melainkan diposisikan sebagai platform pertumbuhan dan inovasi yang mendukung roadmap digitalisasi serta penciptaan nilai tambah jangka panjang bagi Telkom Group.
Seno menambahkan bahwa setelah proses pemisahan aset selesai, TLKM akan menentukan langkah strategis berikutnya. Opsi yang dipertimbangkan mencakup melantai di Bursa melalui penawaran perdana saham (IPO) maupun menggandeng mitra strategis.
Ia menilai InfraNexia memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi aset bernilai tinggi. Dengan skala dan prospek bisnis yang disiapkan, entitas ini bahkan diproyeksikan dapat menjadi “The Next Telkomsel” dalam ekosistem Telkom Group.
Ke depan, InfraNexia diposisikan sebagai sumber pertumbuhan baru bagi TLKM. Dengan total aset bruto yang diperkirakan melebihi Rp130 triliun, entitas ini memiliki ruang luas untuk dimonetisasi dan diekspansi guna mendukung penguatan ekonomi digital nasional.


