IHSG Sempat Anjlok 2,48% di Tengah Aksi Jual Saham Konglomerasi dan Sentimen Global
IHSG sempat mengalami koreksi tajam hingga 2,48 persen pada perdagangan Senin siang sebelum pulih cepat dalam hitungan menit. Tekanan datang dari aksi jual saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar, di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan melemah di tengah volatilitas pasar
Emitenhub.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam secara mendadak pada perdagangan Senin (12/1/2026) siang, seiring pelemahan signifikan pada saham-saham konglomerasi yang memicu peningkatan volatilitas pasar.
Berdasarkan data perdagangan, pada pukul 14.59 WIB IHSG tercatat melemah 0,51 persen ke level 8.891,01. Sebelumnya, indeks sempat anjlok hingga 2,48 persen ke posisi 8.715,41 pada kisaran waktu 14.25–14.30 WIB, sebelum bergerak pulih cepat dan memangkas pelemahan dalam rentang 3–5 menit berikutnya.
Tekanan utama berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar milik Grup Barito yang dikendalikan Prajogo Pangestu. Saham BRPT turun 7,10 persen, BREN melemah 4,22 persen, CDIA terkoreksi 5,23 persen, dan PTRO merosot 6,43 persen.
Aksi jual juga menjalar ke saham-saham Grup Bakrie yang berada di bawah kendali Grup Salim. Saham BUMI melemah 4,33 persen setelah sempat terperosok hingga 12 persen, sementara saham DEWA sempat jatuh 13 persen sebelum memangkas pelemahan menjadi 1,85 persen.
Tekanan jual turut menyentuh saham-saham yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro. Saham RAJA tercatat anjlok 10,19 persen, sementara entitas anaknya, RATU, melemah tajam di kisaran 9 persen.
Tekanan juga terlihat pada saham tambang milik Grup Salim, AMMN, yang sempat terkoreksi hingga 8 persen. Saham properti PANI milik Agung Sedayu turut melemah dengan koreksi sekitar 5 persen.
Koreksi tajam tersebut muncul setelah IHSG sebelumnya mencatatkan rekor intraday dengan menembus level 9.000 pada perdagangan 8 Januari 2026. Kondisi ini menandai perubahan sentimen pasar dalam waktu relatif singkat.
Dari sisi eksternal, pelaku pasar turut mencermati perkembangan global yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko. Sentimen global menjadi salah satu faktor yang ikut diperhatikan di tengah volatilitas perdagangan domestik.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana serta melayangkan panggilan dewan juri. Pernyataan tersebut terkait kesaksiannya di Kongres pada musim panas lalu mengenai proyek renovasi gedung The Fed.
Powell menilai langkah tersebut sebagai upaya tekanan terhadap bank sentral agar menurunkan suku bunga acuan. Pernyataan itu disampaikan untuk menegaskan posisi independensi kebijakan moneter di tengah dinamika politik.
Situasi ini mencerminkan eskalasi konflik antara Powell dan Trump yang telah berlangsung sejak awal masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed pada 2018. Ketegangan tersebut kembali menjadi perhatian pasar global di tengah meningkatnya volatilitas.
Di sisi lain, pernyataan ancaman Presiden AS Donald Trump terkait potensi intervensi di Iran, di tengah meningkatnya aksi protes terhadap pemerintahan ulama, turut menjaga harga minyak tetap berada pada zona penguatan.
Kondisi tersebut menegaskan tingginya risiko geopolitik yang terus membayangi pasar keuangan, menjadi faktor eksternal yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai arah pergerakan aset ke depan.


