Geopolitik AS Dorong Tema Energi, Sucor Lirik Saham Batu Bara dan CPO
Langkah geopolitik Amerika Serikat di sektor energi dinilai berdampak langsung ke pasar komoditas global dan berpotensi mengalir ke saham energi dan logistik. Sucor Sekuritas melihat saham batu bara dan CPO sebagai proksi pergerakan harga minyak di Indonesia, didukung faktor geopolitik dan kebijakan biodiesel B50.
Geopolitik AS dorong saham energi batu bara dan CPO Indonesia
Emitenhub.com - Langkah geopolitik Amerika Serikat (AS) di sektor energi dinilai berpotensi menggerakkan minat pasar terhadap saham energi dan logistik. Arah kebijakan tersebut dipandang membawa implikasi langsung bagi dinamika komoditas global.
Dalam riset yang terbit 15 Januari 2026, Sucor Sekuritas menilai manuver Washington di Venezuela serta meningkatnya ketegangan dengan Iran tidak berhenti sebagai isu politik. Strategi tersebut ditempatkan sebagai faktor struktural yang berpengaruh terhadap pasar komoditas dunia.
Amerika Serikat dilaporkan telah mengamankan kendali atas cadangan minyak Venezuela dan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Langkah tersebut mempertegas peran AS dalam dinamika pasokan energi global.
Menurut Sucor Sekuritas, kebijakan ini diarahkan untuk membatasi akses China terhadap pasokan minyak berharga murah. China selama ini dikenal sebagai pembeli terbesar minyak dari Venezuela dan Iran.
Strategi tersebut juga disebut ditujukan untuk menahan laju de-dolarisasi yang berisiko menggerus peran dolar AS sebagai mata uang cadangan global. Pada saat yang sama, langkah ini dinilai memperkuat posisi tawar Amerika Serikat terhadap China dalam isu mineral kritis, termasuk logam tanah jarang (rare earth).
Dari perspektif kawasan, langkah Amerika Serikat di Venezuela dipandang sebagai upaya menekan pengaruh China di Belahan Barat. Arah kebijakan ini menempatkan isu energi dalam konteks persaingan geopolitik yang lebih luas.
Sepanjang periode 2000–2023, Venezuela tercatat menerima sekitar USD106 miliar dalam bentuk pinjaman dan dukungan keuangan dari China, terutama di sektor minyak dan sektor strategis lainnya. Tingkat ketergantungan tersebut memicu kekhawatiran Washington terkait potensi ancaman terhadap kepentingan dan keamanan regional Amerika Serikat.
Di sisi lain, potensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dipandang jauh lebih sensitif bagi pasar global. Posisi Iran yang berdekatan dengan Selat Hormuz menjadikan kawasan tersebut krusial, mengingat sekitar seperlima pengiriman minyak dunia melintasi jalur itu.
Sekadar ancaman konflik telah mendorong perusahaan pelayaran menghindari wilayah tersebut. Kondisi ini memicu kenaikan biaya angkut dan premi asuransi perang, sekaligus memberikan penopang tambahan bagi harga minyak.
Bagi pasar domestik, Sucor Sekuritas menilai saham produsen minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara kerap berfungsi sebagai proksi terhadap pergerakan harga minyak, seiring korelasi historis yang relatif tinggi antar komoditas energi tersebut.
Keterbatasan jumlah emiten minyak dan gas di Bursa Efek Indonesia membuat investor cenderung mengalihkan perhatian ke dua sektor tersebut sebagai alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap tema energi.
Dukungan dari dalam negeri turut memperkuat tema tersebut. Rencana penerapan mandatori biodiesel B50 dinilai berperan dalam menopang harga CPO, sekaligus menekan impor solar dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam riset yang sama, Sucor Sekuritas menetapkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebagai pilihan utama di sektor batu bara dengan target harga Rp30.100. Untuk sektor CPO, saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) juga dinilai menarik, meskipun seluruhnya masih berstatus non-rated.


