Pasar

Harga CPO Terus Merosot, Dihantam Tekanan Global dan Kenaikan Stok — Simak Analisis Lengkapnya

Harga CPO di Bursa Malaysia kembali turun dalam dua sesi beruntun akibat pelemahan minyak nabati global dan ekspektasi kenaikan stok di Malaysia. Koreksi terjadi di hampir seluruh kontrak berjangka, termasuk kontrak acuan FCPO1! untuk pengiriman Februari. Ekspektasi stok yang meningkat dan permintaan ekspor yang melemah terus menjadi tekanan utama bagi pasar CPO.

2 menit membaca Sumber: Investor.id
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Haarga CPO terbaru di Bursa Malaysia dan tekanan pasar minyak nabati global

Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)

Emitenhub - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali melemah pada Kamis (4/12/2025), mencatat penurunan dua sesi berturut-turut. Tekanan datang dari pelemahan harga minyak nabati di bursa Dalian dan Chicago, serta ekspektasi meningkatnya stok global.

Pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka CPO Desember 2025 turun 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.065 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2026 melemah 50 Ringgit Malaysia menjadi 4.090 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Februari 2026 ikut terkoreksi 48 Ringgit Malaysia menjadi 4.105 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Maret 2026 merosot 46 Ringgit Malaysia ke level 4.119 Ringgit Malaysia per ton.

ontrak berjangka CPO April 2026 turun 50 Ringgit Malaysia menjadi 4.123 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Mei 2026 terkoreksi 43 Ringgit Malaysia ke posisi 4.122 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak acuan minyak sawit mentah FCPO1! untuk pengiriman Februari di Bursa Derivatif Malaysia ditutup melemah 47 Ringgit Malaysia atau 1,13% ke level 4.106 Ringgit Malaysia (US$999,03) per ton.

“Pelemahan harga minyak nabati pesaing menekan kontrak CPO hari ini. Harga minyak kedelai Chicago turun hampir 2% semalam, ditambah penguatan ringgit turut membebani harga CPO,” ujar seorang trader berbasis Kuala Lumpur.

Harga Minyak Kedelai

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian (DBYcv1) turun 0,29%, sementara kontrak minyak sawitnya CPO1! melemah 0,8%. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (BOc2) terkoreksi 0,08%. Pergerakan harga minyak sawit sangat dipengaruhi dinamika minyak nabati lain, mengingat kompetisi yang ketat di pasar global.

“Ekspektasi kenaikan stok di tengah lemahnya permintaan ekspor turut menambah tekanan,” ujar Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani.

Survei Reuters memperkirakan stok minyak sawit Malaysia pada November berpotensi meningkat ke level tertinggi dalam enam setengah tahun, seiring anjloknya ekspor di tengah produksi yang mencapai rekor bulanan.

Iklan