Harga CPO Anjlok Tiga Bulan Beruntun, Ini Prediksi Pergerakan untuk Desember
Harga CPO kembali melemah selama November dan mencatat penurunan tiga bulan beruntun akibat lesunya permintaan serta turunnya ekspor Malaysia. Meski masih berada di zona bearish, indikator teknikal menunjukkan peluang rebound pada Desember dengan level pivot, resistance, dan support yang perlu dicermati.
Ladang kelapa sawit dan grafik harga CPO
Emitenhub - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menutup perdagangan November di zona hijau, meski sepanjang bulan komoditas ini menunjukkan tren pelemahan. Penutupan positif tersebut belum cukup mengimbangi tekanan harga yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Pada Jumat (28/11/2025), harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange untuk kontrak pengiriman Februari 2026 ditutup di level MYR 4.114 per ton. Kenaikan harian sebesar 0,61% itu menjadi yang tertinggi dalam sepekan terakhir.
Namun secara keseluruhan, sepanjang November harga CPO tetap melemah dengan koreksi sebesar 3,25% secara point-to-point. Dengan demikian, CPO resmi mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut.
Lemahnya permintaan menjadi faktor utama tekanan harga CPO. Pekan lalu, Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, Johari Abdul Ghani, mengungkapkan bahwa ekspor CPO Malaysia ke China anjlok hampir 29% selama 10 bulan pertama 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Johari, persaingan dengan minyak nabati lain juga menekan harga CPO di pasar global. Harga minyak kedelai yang cenderung lebih murah membuat sebagian konsumen beralih, sehingga memperberat tekanan terhadap permintaan CPO.
“Ini bukan soal geopolitik,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Selama November, tanda-tanda permintaan CPO masih menunjukkan pelemahan. Berdasarkan data AmSpec Agri dan Intertek Testing Services, ekspor CPO Malaysia pada periode 1–25 November masing-masing turun 16,4% dan 18,8% dibandingkan bulan sebelumnya.
Analisa
Lalu bagaimana proyeksi pergerakan harga CPO untuk Desember? Apakah peluang penurunan empat bulan beruntun masih terbuka?
Secara teknikal dalam monthly time frame, harga CPO masih berada di zona bearish. Relative Strength Index (RSI) berada di level 48, menandakan tekanan bearish namun belum terlalu signifikan karena belum jauh turun di bawah 50.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI berada di level 15, di bawah angka 20, yang mengindikasikan kondisi jenuh jual (oversold). Ini membuka peluang terjadinya rebound dalam jangka pendek.
Untuk perdagangan Desember, peluang harga CPO pulih cukup terbuka mengingat koreksi yang sudah berlangsung selama empat bulan berturut-turut dan mulai memasuki area jenuh jual.
Level pivot yang perlu dicermati berada di MYR 4.232 per ton. Jika harga mampu menembusnya, CPO berpotensi menguji resistance pertama di MYR 4.268 per ton, yang merupakan Moving Average (MA) 5. Resistance berikutnya ada di MYR 4.426 per ton, setara dengan MA-50.
Sebaliknya, jika harga kembali melemah, CPO berisiko menguji support di MYR 4.081 per ton. Penembusan level ini bisa membawa harga turun lebih dalam menuju kisaran MYR 4.069–3.592 per ton.


