Santa Claus Rally: IHSG Konsisten Menguat di Desember — Simak Pola Historisnya
IHSG kembali menguat pada awal Desember sejalan dengan pola Santa Claus Rally yang historisnya positif dalam 10 tahun terakhir. Meski dibayangi tekanan inflasi dan aksi jual asing, sentimen PMI yang ekspansif, rilis data ekonomi penting, serta penguatan indeks regional Asia turut memberi dukungan terhadap peluang penguatan IHSG bulan ini.
Pergerakan saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) di perdagangan Bursa Efek Indonesia
Emitenhub.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan bulan Desember dengan penguatan di zona hijau. Pergerakan positif ini sejalan dengan pola historis dalam satu dekade terakhir, di mana IHSG cenderung mencatat kinerja kuat pada bulan terakhir setiap tahun. Secara rata-rata, IHSG berhasil tumbuh 2,62% selama periode perdagangan Desember dalam 10 tahun terakhir.
Fenomena konsistennya penguatan pasar jelang akhir tahun inilah yang dikenal sebagai Santa Claus Rally, sebuah tren musiman yang kerap muncul di berbagai bursa dunia, termasuk Indonesia.
Pada hari pertama perdagangan Desember, IHSG ditutup menguat 40,08 poin atau 0,47% ke level 8.548 pada Senin (1/12/2025). Sepanjang sesi, IHSG bergerak stabil di zona hijau dan mencerminkan sentimen optimistis investor menjelang akhir tahun.
Meski IHSG bergerak menguat, arah pergerakan pasar tidak sejalan dengan aksi investor asing yang masih mencatatkan jual bersih (net sell). Pada perdagangan Senin, 1 Desember, investor asing melakukan net sell senilai Rp120 miliar di seluruh pasar. Pada pasar reguler, aksi jual asing mencapai Rp104 miliar, menunjukkan bahwa pelaku pasar domestik menjadi penopang utama penguatan IHSG.
Berdasarkan data seasonality Bloomberg dalam lima tahun terakhir, Desember kerap menjadi bulan yang memberikan return positif bagi IHSG. Kenaikan tertinggi terjadi pada Desember 2020, ketika IHSG melesat 6,53% seiring pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Kenaikan terbesar kedua tercatat pada Desember 2023, yakni sebesar 2,71%. Bahkan, jika mundur lebih jauh ke Desember 2017, IHSG pernah melejit hingga 6,78%, memperkuat reputasi Desember sebagai bulan yang bersahabat bagi pasar saham Indonesia.
Jika menengok kembali Desember 2020, sentimen positif berasal dari baik regional maupun global. Saat itu, IHSG bangkit cepat ke zona positif berkat kebijakan stimulus pemerintah, berbagai insentif fiskal, percepatan vaksinasi, serta upaya penanganan Covid-19 yang intensif. Dukungan berupa bantuan tunai dan non-tunai kepada masyarakat turut memperkuat optimisme pasar.
Euforia pasar semakin meningkat ketika vaksin Sinovac tiba di Indonesia pada 6 Desember 2020. Kedatangan vaksin perdana tersebut langsung mendorong lonjakan IHSG, memberikan keyakinan bahwa pandemi dapat segera diatasi dan ekonomi nasional berpotensi pulih lebih cepat.
Dari sisi global, berbagai negara turut mendorong sentimen optimistis dengan kemajuan riset vaksin Covid-19. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang paling agresif, melalui pengembangan vaksin Pfizer dan Moderna yang kala itu menjadi sorotan dunia.
Sentimen positif lainnya berasal dari kinerja neraca perdagangan Indonesia yang mampu membukukan surplus di tengah tahun 2020 yang penuh tantangan. Dengan proyeksi surplus pada neraca transaksi berjalan dan neraca finansial, posisi tersebut diperkirakan tetap berada pada tren ekspansif dan turut menopang penguatan IHSG pada periode tersebut.
Dengan capaian tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada November 2020 tetap berada di level tinggi, yakni US$133,6 miliar, atau jauh di atas standar kecukupan internasional setara tiga bulan impor. Kinerja positif ini berlanjut pada Desember 2020, ketika cadangan devisa meningkat menjadi US$135,9 miliar, mengonfirmasi stabilitas eksternal Indonesia di tengah tekanan pandemi.
Selain itu, Rapat Dewan Gubernur BI pada 16–17 Desember 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada level 3,75%. Bank Indonesia sekaligus memperkuat sinergi kebijakan melalui berbagai langkah lanjutan untuk mendukung optimisme pemulihan ekonomi nasional mulai dari pembukaan sektor ekonomi yang produktif dan aman Covid-19, akselerasi stimulus fiskal, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan maupun penawaran, hingga kelanjutan stimulus moneter dan makroprudensial.
Pembuka Santa Claus Rally 2025
Memasuki Desember 2025, sejumlah sentimen diperkirakan turut memengaruhi potensi terjadinya Santa Claus Rally. Berbagai katalis baik positif maupun yang berpotensi menjadi hambatan akan menjadi faktor penentu arah pergerakan IHSG sepanjang bulan ini.
Sentimen pertama datang dari rilis data aktivitas manufaktur yang diukur melalui Purchasing Managers’ Index (PMI) pada awal Desember. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ekspansi selama empat bulan berturut-turut. S&P Global mencatat PMI manufaktur Indonesia pada November berada di level 53,3, lebih tinggi dibandingkan Oktober yang sebesar 51,2.
PMI di atas 50 mengindikasikan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi. Lonjakan PMI tersebut memberi sinyal optimisme pelaku industri, sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa pemulihan ekonomi masih berlangsung konsisten dan dapat menjadi katalis positif bagi IHSG di Desember.
PMI manufaktur Indonesia kini telah berada di atas level 50 selama empat bulan berturut-turut, menandakan optimisme yang konsisten. Bahkan, ekspansi pada November tercatat sebagai yang terbaik dalam sembilan bulan terakhir.
Survei PMI terbaru menunjukkan kabar positif bagi sektor industri. Pendorong utama ekspansi pada November adalah pertumbuhan pesanan baru (new orders) yang meningkat signifikan. Tingkat pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2023, mencerminkan meningkatnya permintaan sektor manufaktur.
Pelaku usaha juga melaporkan peningkatan rekrutmen tenaga kerja, yang telah berlangsung selama empat bulan tanpa jeda. Tren ini memperkuat sinyal bahwa aktivitas industri sedang berada pada fase ekspansi berkelanjutan.
Sektor manufaktur memiliki peran sentral bagi dunia investasi, karena menjadi kontributor utama pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi lapangan usaha. Ketika manufaktur tumbuh dan berekspansi, dampaknya akan mengalir ke seluruh perekonomian, memperkuat momentum pertumbuhan nasional.
Meski demikian, IHSG masih mendapat tekanan dari rilis data inflasi dan neraca perdagangan terbaru. Inflasi Indonesia pada November tercatat melambat menjadi 0,17% secara bulanan (mtm), lebih rendah dibandingkan Oktober yang berada di 0,28% mtm.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi November berada di level 2,72% yoy, turun dari realisasi Oktober yang mencapai 2,86% yoy. Perlambatan ini menunjukkan bahwa tekanan harga secara umum mulai mereda.
Laju inflasi inti tetap berada di 2,36%, sama seperti bulan sebelumnya. Stagnasi inflasi inti mencerminkan bahwa permintaan domestik masih relatif lemah dan belum sepenuhnya pulih, sehingga menjadi salah satu faktor yang menahan laju penguatan IHSG.
Agenda Ekonomi Desember 2025
Memasuki Desember 2025, sejumlah agenda ekonomi penting diproyeksikan turut memengaruhi pergerakan IHSG. Pada 9 Desember akan dirilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), disusul data penjualan eceran (retail sales) pada 10 Desember. Sebelumnya, cadangan devisa (cadev) dijadwalkan rilis pada 5 Desember.
Selain itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia mengenai suku bunga acuan BI Rate akan digelar pada 17–18 Desember 2025. Agenda ini juga akan diikuti rilis data pertumbuhan kredit (loan growth), yang biasanya menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Jika dibandingkan dengan indeks kawasan Asia lainnya, performa IHSG secara historis pada bulan Desember berada dalam tren positif yang sejalan dengan pasar regional. Data rata-rata 10 tahun menunjukkan Straits Times Index (Singapura) menguat 0,81%, KOSPI (Korea Selatan) naik 1,15%, Hang Seng Index (Hong Kong) melesat 1,59%, dan FTSE KLCI (Malaysia) menguat 2,08% pada periode yang sama. Pola ini memperkuat reputasi Desember sebagai bulan hijau bagi bursa Asia.
Jika dicermati lebih dalam, kenaikan tertinggi dalam data rata-rata perdagangan saham Desember selama 10 tahun terakhir dicapai oleh FTSE KLCI Malaysia, yang mencatat penguatan 2,08%. Angka ini menempatkan Malaysia sebagai indeks dengan performa Desember terbaik di kawasan.
Sentimen FTSE KLCI Malaysia yang Pimpin Kenaikan
Penguatan FTSE KLCI Malaysia didorong oleh sejumlah sentimen positif, terutama ketahanan daya beli domestik, pertumbuhan berkelanjutan pada pendapatan lintas sektor, serta meningkatnya arus investasi asing langsung. Pergeseran rantai pasok manufaktur di regional turut memperkuat kinerja korporasi dan mendorong optimisme pasar.
Mengutip data The Malaysian Reserve, Bursa Malaysia juga mencatat rekor baru dalam penerbitan saham IPO, sekaligus untuk pertama kalinya melihat kapitalisasi pasar melampaui MYR 2 triliun. Ini menjadi dorongan tambahan bagi sentimen positif investor.
Sepanjang 2024, Bursa Saham Malaysia menorehkan tonggak penting dengan 55 IPO tercatat jumlah tertinggi dalam 19 tahun, melampaui target awal sebanyak 42 IPO. Lonjakan aktivitas IPO tersebut mempertegas kepercayaan investor terhadap pasar Malaysia.
Tidak hanya itu, dana global juga mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai US$600.000 pada Desember, menjadi yang tertinggi dalam satu bulan. Sentimen positif ini membantu FTSE KLCI menutup tahun dengan kenaikan menuju level 1.642,33.


