Market

Saham Emas Menguat Saat Harga Emas Dunia Tembus USD5.000, EMAS Pimpin Kenaikan

Saham emiten emas menguat seiring harga emas global kembali menembus USD5.000 per troy ons. EMAS memimpin kenaikan, diikuti MDKA, ARCI, ANTM hingga BRMS.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi emas batangan dan grafik harga emas dunia yang menguat

Harga emas dunia melonjak akibat konflik AS Iran

Emitenhub - Penguatan harga emas global mendorong pergerakan positif saham emiten emas di perdagangan 9 Februari 2026. Minat investor pada aset lindung nilai ikut mengangkat kinerja saham sektor ini di pasar.

Pada pukul 10.01 WIB, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat kenaikan terbesar dengan penguatan 8,85% ke Rp7.050 per saham. Pergerakan ini menempatkan EMAS sebagai saham emas dengan lonjakan tertinggi pada perdagangan hari tersebut.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 4,91% ke level Rp2.990 per saham.

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 3,74% ke Rp1.665 per saham. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 3,50% ke Rp3.840 per saham dengan nilai transaksi tercatat Rp243 miliar.

Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 2,12% ke Rp965 per saham. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menguat 1,33% ke Rp2.290 per saham.

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bergerak naik 1,03% ke Rp7.325 per saham. Kenaikan saham emas terjadi seiring harga emas global yang kembali bergerak di atas USD5.000 per troy ons. Harga tercatat di USD5.010 pada perdagangan Senin pagi. Level ini menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu pekan.

Pergerakan harga emas terjadi saat pelaku pasar menanti rilis data ekonomi utama Amerika Serikat yang digunakan sebagai acuan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Fokus pasar global saat ini mengarah pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan ketenagakerjaan Januari yang dijadwalkan rilis Rabu dan data inflasi pada Jumat. Trading Economics mencatat data tersebut diperkirakan memberi gambaran stabilisasi pasar tenaga kerja. Data ini penting.

Harga emas juga mendapat dukungan dari dinamika politik di Jepang. Perkembangan tersebut ikut membentuk sentimen terhadap aset lindung nilai global.

Kemenangan Perdana Menteri petahana Sanae Takaichi memperkuat ekspektasi kebijakan fiskal yang lebih longgar. Kondisi ini juga menjaga tekanan pelemahan yen tetap berlangsung.

Permintaan emas dari bank sentral masih kuat. Bank sentral China memperpanjang pembelian emas hingga bulan ke-15 berturut-turut pada Januari.

Dari sisi geopolitik, perundingan Amerika Serikat dan Iran pada Jumat lalu menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan pada pekan ini. Kesepakatan ini meredakan kekhawatiran potensi eskalasi militer di kawasan tersebut.

Iklan