Fitch Turunkan Outlook Indonesia Jadi Negatif, Peringkat Utang Tetap BBB
Fitch Ratings merevisi prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif meski mempertahankan rating di level BBB. Lembaga ini menyoroti risiko fiskal, pelemahan indikator tata kelola, serta tantangan kebijakan moneter di tengah target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Ilustrasi kenaikan proyeksi harga komoditas 2026 dan sorotan pada saham emiten tambang di BEI (Foto:Istimewa)
Emitenhub.com - Fitch Ratings merevisi prospek peringkat utang jangka panjang Indonesia menjadi Negatif dari sebelumnya Stabil. Meski demikian, lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level ‘BBB’. Perubahan outlook ini menempatkan arah kebijakan fiskal dan ekonomi nasional dalam sorotan pelaku pasar.
Penurunan prospek mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah. Konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan dinilai mulai tergerus, terutama di tengah penguatan sentralisasi otoritas dalam proses pengambilan keputusan.
Fitch menilai fokus pemerintah terhadap target pertumbuhan ekonomi 8 persen disertai peningkatan belanja sosial berpotensi memberi tekanan tambahan. Salah satu program yang disorot adalah makan bergizi gratis dengan estimasi biaya 1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Langkah tersebut dinilai dapat melonggarkan kebijakan fiskal dan moneter secara substansial.
Risiko tersebut dinilai meningkat seiring masuknya revisi Undang-Undang Keuangan Negara dalam prioritas legislasi 2026. Relaksasi batas defisit fiskal 3 persen berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan, sementara Fitch memproyeksikan defisit mencapai 2,9 persen dari PDB pada 2026, lebih tinggi dari target pemerintah 2,7 persen.
Proyeksi penerimaan negara juga menjadi perhatian. Fitch memperkirakan rata-rata pendapatan pemerintah hanya berada di level 13,3 persen dari PDB sepanjang 2026 hingga 2027. Angka ini tertinggal jauh dibanding rata-rata negara dengan peringkat ‘BBB’ yang mencapai 25,5 persen.
Lembaga pengelola dana abadi Danantara turut menjadi sorotan. Entitas tersebut berencana menanamkan investasi sebesar USD26 miliar pada tahun ini untuk proyek hilirisasi di sektor mineral, energi, pangan, dan pertanian.
“Ketidakpastian tetap ada mengenai apakah mandat dana tersebut dapat meluas seiring berjalannya waktu untuk mencakup kegiatan kuasi-fiskal melalui investasi dengan leverage guna mendukung prioritas kebijakan pemerintah,” tulis draft laporan Fitch Ratings pada Kamis (4/3/2026).
Posisi Indonesia dalam indikator tata kelola Bank Dunia juga tercatat menurun. Indonesia kini berada di persentil ke-44, di bawah median negara berperingkat ‘BBB’ yang berada di persentil ke-56.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia masih menahan suku bunga di level 4,75 persen sejak September 2025. Fitch memproyeksikan suku bunga dapat dipangkas dua kali menjadi 4,25 persen pada akhir 2026, meski perubahan mandat bank sentral untuk mendukung pertumbuhan dinilai berpotensi menantang pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar.
Di tengah revisi prospek menjadi negatif, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap memiliki penopang. Pertumbuhan diproyeksikan bertahan di kisaran 5,0 persen pada 2026–2027, lebih tinggi dari median negara ‘BBB’ sebesar 2,5 persen. Rasio utang pemerintah juga diperkirakan terjaga di level 41 persen dari PDB pada 2026.


