International

Harga Minyak Dunia Menguat Usai Gagalnya Negosiasi AS–Rusia dan Ketegangan di Laut Hitam

Harga minyak dunia menguat setelah AS dan Rusia gagal mencapai kesepakatan damai terkait perang Ukraina, memicu kekhawatiran berlanjutnya sanksi terhadap sektor energi Rusia. Kenaikan harga juga didorong oleh meningkatnya ketegangan di Laut Hitam setelah fasilitas ekspor dan kapal tanker Rusia diserang Ukraina. Meski demikian, potensi kenaikan tertahan oleh kekhawatiran kelebihan pasokan di pasar global.

2 menit membaca Sumber: Investor.id
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Harga minyak dunia yang menguat di tengah ketegangan geopolitik Rusia–Ukraina

Grafik pergerakan harga minyak dunia dengan proyeksi surplus pasokan

Emitenhub - Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Rabu (3/12/2025) setelah Amerika Serikat (AS) dan Rusia gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina. Kebuntuan tersebut kembali meredupkan harapan pelonggaran sanksi terhadap sektor minyak Rusia, meski kenaikan harga masih dibatasi kekhawatiran kelebihan pasokan.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$ 0,22 atau 0,4% ke level US$ 62,67 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 0,31 atau 0,5% menjadi US$ 58,95 per barel. Pada sesi sebelumnya, kedua harga acuan itu sempat terkoreksi lebih dari 1%.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS bertambah 574.000 barel pada pekan yang berakhir 28 November, berlawanan dengan proyeksi analis yang memperkirakan penurunan 821.000 barel.

Stok bensin AS melonjak 4,52 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 1,5 juta barel. Persediaan distilat termasuk solar dan minyak pemanas juga meningkat 2,1 juta barel, melampaui perkiraan kenaikan 700.000 barel. Laporan EIA sempat tertunda akibat kendala teknis.

Senior Vice President Trading BOK Financial Dennis Kissler menyatakan pasokan global masih berlimpah. “Pasar sedang menyesuaikan diri karena kesepakatan damai Ukraina–Rusia tampaknya tertunda. Situasi geopolitik membuat pasar tetap gelisah,” ujarnya.
Pemerintah Rusia mengungkapkan bahwa AS dan Rusia gagal mencapai kompromi setelah pertemuan lima jam antara Presiden Vladimir Putin dan utusan utama Presiden AS Donald Trump.

Pasokan Minyak Terbatas
Pelaku pasar menunggu hasil pertemuan tersebut karena kesepakatan damai berpotensi membuka peluang pencabutan sanksi terhadap perusahaan energi Rusia, termasuk Rosneft dan Lukoil, yang selama ini membatasi pasokan minyak ke pasar global.

Putin menuding negara-negara Eropa menghambat upaya AS mengakhiri perang dengan mengajukan proposal yang dinilai “tidak dapat diterima” oleh Moskow.

Serangan Ukraina terhadap fasilitas ekspor minyak di pesisir Laut Hitam Rusia kembali menyoroti meningkatnya risiko geopolitik. Pada pekan sebelumnya, Ukraina juga dilaporkan menyerang dua kapal tanker yang terlibat dalam pengangkutan minyak Rusia.

Putin menyatakan bahwa Rusia akan mengambil tindakan terhadap kapal tanker milik negara-negara yang membantu Ukraina, menambah ketidakpastian bagi pasar minyak.

Iklan