Harga Batu Bara Ambruk Lagi! Sentimen Timur Tengah Mulai Reda, Investor Waspada
Harga batu bara dunia kembali melemah setelah ketegangan di Timur Tengah mulai mereda dan harga minyak anjlok tajam. Di sisi lain, pasar masih dibayangi lemahnya permintaan China dan penurunan produksi Coal India.
Harga batu bara global melemah setelah sentimen geopolitik Timur Tengah mereda
Emitenhub.com - Harga batu bara global kembali bergerak turun setelah tensi geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Pelemahan sentimen energi membuat penguatan harga komoditas sebelumnya kehilangan momentum, termasuk pada pasar batu bara.
Data Refinitiv menunjukkan harga batu bara pada perdagangan Kamis, 6 Mei 2026 WIB, ditutup di level USD134,8 per ton atau sekitar Rp2,29 juta. Posisi tersebut turun 3,51 persen dan menghentikan tren kenaikan selama dua hari terakhir.
Harga minyak dunia terkoreksi tajam. Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 7,03 persen menjadi USD95,08 per barel atau sekitar Rp1,61 juta. Sementara Brent melemah 7,83 persen ke level USD101,27 per barel atau sekitar Rp1,72 juta.
Pelaku pasar menilai penurunan tensi di Timur Tengah mulai mengurangi premi risiko pada sektor energi global. Kondisi itu ikut menekan harga batu bara karena pergerakannya masih berkorelasi dengan sentimen minyak dunia.
Pasar batu bara belum sepenuhnya pulih meski tekanan harga mulai mereda. Di China, harga batu bara termal di pelabuhan masih bergerak stabil setelah libur Hari Buruh, namun aktivitas perdagangan disebut belum kembali normal.
Pasokan batu bara di pelabuhan mulai meningkat. Di saat yang sama, permintaan dari pembeli masih lemah dan belum menunjukkan pemulihan penuh. Kondisi ini membuat pergerakan pasar cenderung tertahan tanpa arah yang kuat.
Tekanan tambahan datang dari India setelah Coal India Ltd melaporkan penurunan produksi sebesar 9,7 persen pada April 2026. Produksi tercatat 56,1 juta ton, turun dari 62,1 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyaluran batu bara ke pelanggan ikut mengalami penurunan. Volume penjualan tercatat 63,2 juta ton pada April 2026, turun 2 persen dibandingkan 64,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan produksi terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan listrik India akibat gelombang panas ekstrem di sejumlah wilayah. Situasi ini kembali memunculkan perhatian terhadap ketahanan pasokan energi di salah satu negara konsumen batu bara terbesar dunia.
Pergerakan harga batu bara saat ini dinilai lebih dipengaruhi sentimen geopolitik jangka pendek dibandingkan kekuatan permintaan global yang solid. Ketika ketegangan internasional mulai mereda, penguatan harga komoditas energi ikut kehilangan momentum.

