Harga Logam Menguat, Saham Tambang Jadi Incaran Investor di 2026
Prospek harga logam yang tetap kokoh mendorong optimisme terhadap kinerja saham tambang. Dukungan kebijakan, proyek baru, dan permintaan struktural membuat sektor logam dinilai menarik sebagai diversifikasi portofolio.
Pergerakan harga logam dunia dan saham emiten tambang Indonesia (Foto:Kabarbursa.com)
Emitenhub.com - Harga komoditas logam, mulai dari emas hingga tembaga, mencatat reli kuat sepanjang 2025. Prospek kenaikan tersebut dipandang masih berlanjut seiring ekspektasi pelonggaran suku bunga acuan yang menjadi sentimen pendukung bagi aset berbasis komoditas.
Pada kelompok logam mulia, harga emas tercatat naik sekitar 70 persen hingga mencapai US$4.463 per troy ounce pada akhir 2025. Perak bahkan mencatat lonjakan lebih tajam dengan kenaikan sekitar 159 persen ke level US$74,93 per troy ounce.
Kinerja positif juga terlihat pada kelompok logam industri. Harga timah menguat sekitar 47 persen ke posisi US$42.815 per ton, sementara tembaga naik 38 persen hingga menyentuh level US$12.162 per ton. Pergerakan ini mencerminkan kuatnya permintaan logam industri di tengah dinamika pemulihan ekonomi dan transisi energi.
JP Morgan Global Research menilai kombinasi kekhawatiran terhadap perdagangan global, melemahnya permintaan terhadap dolar AS, serta meningkatnya aksi pembelian oleh bank sentral menciptakan kondisi yang kondusif bagi reli emas berskala besar. Faktor-faktor tersebut dinilai saling menguatkan dan membentuk fondasi kenaikan harga emas dalam jangka panjang.
Natasha Kaneva, Head of Global Commodities Strategy JP Morgan, menyampaikan bahwa tren diversifikasi cadangan devisa dan portofolio investor ke aset emas masih akan berlanjut. Permintaan yang tetap kuat diperkirakan mendorong harga emas mendekati US$5.000 per troy ounce pada akhir 2026.
Menurutnya, pergerakan harga emas tidak akan berlangsung secara lurus tanpa koreksi. Namun, faktor-faktor struktural yang mendorong penyesuaian harga ke level yang lebih tinggi dinilai masih relevan dan belum sepenuhnya terefleksi.
Secara keseluruhan, J.P. Morgan memproyeksikan harga emas rata-rata berada di kisaran US$5.055 per troy ounce pada kuartal IV 2026, dengan potensi kenaikan lanjutan menuju US$5.400 per troy ounce pada akhir 2027.
OCBC melalui laporan Global Markets Research & Strategy juga mempertahankan pandangan konstruktif terhadap prospek emas hingga 2026. Sikap ini ditopang oleh kombinasi perubahan struktural dan faktor makroekonomi, termasuk kebijakan moneter The Fed yang masih berada dalam fase pelonggaran.
Tim riset OCBC turut menyoroti faktor kepemimpinan di bank sentral AS ke depan. Sosok ketua The Fed berikutnya dinilai berpotensi memengaruhi arah pasar, terutama jika memiliki kecenderungan dovish yang dapat semakin meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Dalam konteks portofolio, emas tetap dipandang berperan penting sebagai instrumen diversifikasi sekaligus pelindung terhadap tekanan geopolitik, ketidakpastian kebijakan, dan risiko stagflasi. Salah satu sentimen kunci yang diperhatikan pasar adalah besaran alokasi portofolio ke emas, yang diperkirakan berada pada level lebih tinggi dibandingkan siklus sebelumnya.
Secara historis, dalam 25 tahun terakhir harga emas mencatat kenaikan rata-rata sekitar 12 persen per tahun terhadap dolar AS. Namun, lonjakan sekitar 34 persen pada 2024 dan lebih dari 70 persen pada 2025 telah menarik perhatian investor yang lebih luas, sekaligus memperkuat persepsi emas sebagai penyimpan nilai yang relatif andal.
Selain emas, prospek jangka menengah perak juga dinilai tetap konstruktif. Komoditas ini memperoleh dukungan dari karakter gandanya sebagai logam mulia sekaligus logam industri. Dari sisi safe haven, perak cenderung mengikuti faktor pendorong yang serupa dengan emas, sementara dari sisi fundamental industri, permintaan yang kuat dari sektor energi surya, kendaraan listrik, dan elektronik menopang konsumsi riil.
Meski demikian, terdapat faktor risiko yang perlu dicermati. Pada titik tertentu, pasar berpotensi mempertanyakan tingkat valuasi perak relatif terhadap emas. Jika penurunan rasio harga keduanya berlanjut, kondisi tersebut dapat memicu aksi ambil untung dan meningkatkan volatilitas harga perak.
Peluang Logam di Industri
Dominic Schnider, Head Commodities & Head APAC Forex CIO UBS Wealth Management, menilai tembaga dan aluminium berpotensi kembali menghadapi tekanan pasokan yang berkelanjutan, sehingga membuka ruang kenaikan harga pada 2026. Ketatnya suplai diperkirakan menjadi faktor penopang utama di tengah permintaan yang terus menguat.
Menurutnya, transisi global menuju energi bersih dan elektrifikasi mendorong kebutuhan struktural terhadap logam-logam industri tersebut. Peran tembaga dan aluminium kian strategis seiring meningkatnya investasi pada infrastruktur energi terbarukan dan rantai pasok kendaraan listrik.
Selain itu, pergeseran negara-negara ekonomi utama ke arah energi hijau, ditambah pertumbuhan kebutuhan dari pusat data, diperkirakan menjaga permintaan tembaga tetap kuat dalam jangka panjang. Konsumsi tembaga global diproyeksikan tumbuh masing-masing sebesar 2,8 persen pada 2025 dan 2026.
UBS memandang sektor komoditas berada pada posisi yang menarik untuk memberikan imbal hasil pada 2026, sekaligus berfungsi sebagai sarana diversifikasi portofolio. Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, risiko geopolitik, serta percepatan transisi energi global menjadi faktor pendukung utama.
Dalam konteks strategi investasi, UBS menyatakan preferensi terhadap eksposur komoditas yang luas, emas, serta saham-saham terpilih yang memiliki keterkaitan langsung dengan siklus komoditas.
Sementara itu, Bank Dunia memperkirakan harga logam berpotensi melanjutkan tren kenaikan pada periode 2026–2027. Indeks harga logam dasar versi Bank Dunia diproyeksikan meningkat hampir 2 persen, mencerminkan tekanan berkelanjutan di sisi pasokan.
Aluminium, nikel, timah, dan tembaga diperkirakan menjadi komoditas dengan kenaikan paling menonjol. Di antara kelompok tersebut, tembaga dan timah bahkan diproyeksikan berpeluang mencetak rekor harga tertinggi baru.
Dalam laporan Metal Prices Outlook, Bank Dunia menyatakan proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa kendala pasokan akan terus berlanjut. Kondisi tersebut diperkirakan membuat pasar sejumlah logam dasar, termasuk aluminium, tembaga, dan timah, tetap berada dalam situasi relatif ketat hingga 2027.
Tekanan pasokan juga tercermin dari lemahnya pertumbuhan produksi logam dasar dalam beberapa kuartal terakhir. Bank Dunia menilai kondisi ini berpotensi berlanjut, sehingga membatasi kemampuan pasar untuk merespons lonjakan permintaan.
Sejumlah gangguan di operasi pertambangan utama turut mempertegas kerentanan rantai pasok global. Insiden di tambang Grasberg di Indonesia menjadi salah satu contoh risiko yang dapat memengaruhi pasokan tembaga dunia. Dari sisi kebijakan, produksi aluminium China yang mendekati batas tahunan sebesar 45 juta metrik ton juga mempersempit ruang pertumbuhan produksi tambahan, sehingga memperkuat sentimen ketatnya pasokan logam industri.
Analis Goldman Sachs mengingatkan bahwa reli harga logam industri sejauh ini lebih banyak dipicu oleh spekulasi investor terhadap potensi pasar yang semakin ketat di masa depan, bukan semata-mata kondisi penawaran dan permintaan saat ini. Untuk tembaga, Goldman Sachs memproyeksikan harga mencapai puncaknya pada kuartal I 2026 di kisaran US$11.548 per ton, sebelum berangsur turun ke sekitar US$11.200 per ton pada kuartal IV 2026.
Berbeda dengan tembaga, pergerakan harga nikel dinilai relatif tertinggal dibandingkan logam industri lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh sentimen kelebihan pasokan serta ketidakpastian arah permintaan global.
Dalam konteks tersebut, analis JP Morgan Benny Kurniawan menilai kebijakan pembatasan pasokan nikel di Indonesia menjadi faktor baru yang patut diperhatikan pasar. Pemerintah disebut tidak akan menerbitkan izin bagi proyek-proyek baru yang tidak disertai rencana hilirisasi, sehingga berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan ke depan.
JP Morgan memproyeksikan harga nikel cenderung stabil di level US$15.500 per ton pada kuartal I dan II 2026. Memasuki paruh akhir periode, harga diperkirakan melemah secara bertahap menuju kisaran US$15.000 per ton.
Saran Saham Logam
Prospek harga logam yang relatif kokoh pada 2026 dinilai memberikan dukungan positif bagi kinerja emiten sektor logam, sekaligus membuka peluang perbaikan performa sahamnya. Lingkungan harga yang stabil menjadi faktor penting dalam menjaga visibilitas pendapatan dan profitabilitas perusahaan tambang.
RHB Sekuritas, misalnya, memberikan pandangan overweight terhadap sektor logam. Proyeksi tersebut didasarkan pada estimasi pertumbuhan laba korporasi yang ditopang oleh peningkatan volume produksi serta harga komoditas yang dinilai masih berada pada level yang mendukung.
Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menjelaskan bahwa sejumlah proyek pertambangan di Indonesia—meliputi emas, nikel, tembaga, bauksit, dan timah—diperkirakan memasuki fase produksi yang lebih tinggi pada periode 2026–2028. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan volume agregat dan memperkuat leverage operasional emiten.
Seiring meningkatnya tingkat utilisasi, biaya kas per unit diproyeksikan menurun, yang pada akhirnya mendorong ekspansi margin. Dampak ini terutama dirasakan oleh produsen emas yang diuntungkan oleh kombinasi kenaikan volume produksi dan harga jual yang bertahan tinggi.
Di sisi lain, produsen nikel dan logam dasar diperkirakan mencatat pertumbuhan pendapatan yang lebih moderat, selama permintaan global tetap terjaga. Sentimen elektrifikasi dan belanja infrastruktur dinilai masih menjadi penopang utama harga logam dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, RHB Sekuritas memperkirakan pertumbuhan laba bersih sektor logam berada di kisaran 30–40 persen secara tahunan. Saham pilihan utama yang direkomendasikan meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Dalam riset terpisah, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) juga menilai sektor logam memiliki prospek yang menarik, dengan estimasi pertumbuhan laba per saham (EPS) 2026 mencapai sekitar 27 persen.
Dukungan utama berasal dari ekspektasi pertumbuhan volume produksi yang bersumber dari proyek-proyek baru serta ekspansi di sejumlah emiten, seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Proyek-proyek tersebut diperkirakan mulai memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap kinerja keuangan.
Dengan prospek harga yang relatif datar untuk beberapa komoditas, khususnya nikel, BRIDS menilai kinerja pada 2026 cenderung lebih menarik bagi emiten dengan eksposur ke emas, seperti BRMS, serta timah melalui TINS. Karakteristik komoditas tersebut dinilai memberikan ketahanan yang lebih baik di tengah fluktuasi siklus harga.
Selain itu, BRIDS juga mencermati potensi peningkatan valuasi dari proyek-proyek baru yang tengah dikembangkan. Potensi tersebut tercermin pada sejumlah emiten, termasuk DEWA dan BRMS, seiring meningkatnya visibilitas produksi dan prospek jangka panjang.
Secara rinci, BRIDS merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga Rp4.100, INCO Rp4.700, MBMA Rp490, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp2.400, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) Rp1.300.
Khusus untuk sektor nikel, Maybank Sekuritas juga memberikan pandangan positif. Sentimen tersebut didukung oleh proyeksi harga nikel yang dinilai relatif stabil di kisaran US$15.000 per ton pada periode 2025–2027, sehingga memberikan kepastian yang lebih baik bagi perencanaan bisnis emiten terkait.
Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, menilai kebijakan Pemerintah Indonesia menjadi faktor kunci dalam upaya menyeimbangkan pasar nikel global. Pemerintah menerapkan moratorium pembangunan smelter nikel baru melalui PP No. 28/2025, disertai pemangkasan kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk meredam kondisi kelebihan pasokan yang selama ini menekan harga nikel.
Menurut Hasan, langkah tersebut berpotensi mempercepat tercapainya stabilitas pasar dibandingkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan keseimbangan baru tercapai pada 2030. Pengetatan pasokan dinilai dapat memberikan dukungan harga yang lebih cepat dan memperbaiki visibilitas kinerja emiten nikel.
Dalam rekomendasinya, Hasan menjadikan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebagai saham pilihan utama dengan target harga Rp5.500. Selain itu, Maybank Sekuritas juga menyukai saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target harga masing-masing Rp3.650 dan Rp2.800. Sementara itu, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diberikan rekomendasi hold dengan target harga Rp950.


